Indonesia merupakan salah satu Negara yang potensial menjadi produsen gula dunia karenba dukungan agroekosistem, luas lahan dan tenaga kerja yang memadai. Tebu (Saccharum offinarum) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang penting dalam pembangunan sub sektor perkebunan yaitu untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun sebagai komoditi ekspor penghasil devisa Negara. Kecamatan Winongan merupakan daerah historis tanaman tebu karena di wilayah ini sudah sejak jaman kolonial Belanda merupakan daerah yang potensial untuk perkebunan tebu. Namun pada akhir-akhir ini kegairahan petani di Kecamatan Winongan untuk berusaha tani tebu dari tahun ke tahun semakin menurun yang ditunjukkan dari luas areal tanaman tebu yang semakin menurun. Hal tersebut dikarenakan produktivitas tanaman tebu yang sudah tidak optimal lagi, rendemen tebu yang selalu rendah, tingkat Pendapatan hasil usaha tanaman tebu lebih rendah dibanding dengan komoditas lain serta kebijakan PG yang selama ini dianggap oleh petani kurang berpihak pada petani. Salah satu penyebab produktivitas tanaman tebu belum optimal adalah penerapan teknologi budidaya tebu yang dilaksanakan oleh petani masih belum sesuai anjuran. Teknologi budidaya tebu yang dilaksanakan petani masih bersifat konvensional. Kegiatan yang masih sering diabaikan oleh petani adalah pemupukan karena petani masih memperhatikan biaya usaha tani yang harus dikeluarkan. Pemupukan seharusnya memperhatikan kondisi tanah karena pada umumnya lahan tebu kandungan unsur haranya kurang mencukupi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tujuan pemupukan untuk memenuhi jumlah kebutuhan hara yang tidak sesuai di dalam tanah sehingga produksi meningkat. Hal ini berarti penggunaan pupuk dan input lainnya diusahakan agar mempunyai efisiensi tinggi. Keefisienan pupuk adalah jumlah kenaikan hasil yang dapat dipanen atau parameter pertumbuhan lainnya yang diukur sebagai akibat pemberian satu satuan pokok atau hara. Pelaksanakan pemupukan tanaman tebu di kelompoktani desa Karang Tengah, Kecamatan Winongan. Sebagai bentuk pendampingan ke petani petugas pertanian (PPL) kecamatan Winongan bersama – sama petani melaksanakan dan mengikuti kegiatan pemupukan tanaman tebu di wilayahnya, dengan tujuan agar petani mengetahui cara pemupukan yang benar dan mampu menerapkan pemupukan dengan baik dan benar dengan prinsip 5T (Tepat Jumlah, Tepat Jenis, Tepat Waktu, Tepat Tempat dan Tepat Mutu). Adapun langkah –langkah kegiatan yang dilakukan antara lain : Persiapkan peralatan (Ember, Takaran (gelas aqua), Gancu, Sarung Tangan, Masker dan juga persiapkan bahan (Pupuk ZA, Pupuk Phonska, Pupuk Petroganik Pemberian pupuk organik sebanyak 2 ton/ha dlakukankan sebelum tanam sebagai pupuk dasar, dengan cara ditabur Siapkan Pemupukan ke I pada umur 1,5 bulan dengan komposisi unsur NPK (Phonska 400 kg), unsur N (ZA 5.000 kg) dan Kompos (Petragonik) 300 kg) Siapkan Pemupukan ke II dengan komposisi unsur NPK (Phonska 400 kg), unsur N (ZA 5.000 kg) Aduk secara rata Buatkan alur pupuk di kanan tanaman pada Pemupukan ke I dan kiri tanaman pada pemupukan ke II dengan jarak 5 cm s/d 10 cm dari akar tanaman mengunakan alat pembuat lubang Pupuk harus ditaburkan pada lubang yang telah disediakan agar pupuk tidak banyak yang hilang/menguap, tidak mengenai sasaran Uruk atau tutup alur pupuk dengan tanah setebal 4 s/d 5 cm untuk mengurangi penguapan Bersihkan alat yang digunakan dan kembalikan ke tempat semula. Pupuk dasar/pertama diberikan sebelum tanam atau pada tanaman umur antara 1-7 hari setelah tanam terdiri dari pupuk Pupuk organik 100%. Pupuk pertama yang diberikan yaitu ZA 50% dan pupuk Phonska diberikan 50 % dari dosis. Pupuk kedua diberikan saat tanaman berumur + 1,5 bulan dengan dosis ZA 50 % dan Phonska sisa dari dosis pemupukan pertama yakni 1/2 dosis. Untuk mencapai efisiensi pemupukan yang diartikan fungsi pupuk dapat optimal bagi tanaman maka perlu diperhatikan hal-hal teknis aplikasinya. Teknis aplikasi yang baik mengikuti saran 5 tepat yaitu tepat jenis, dosis/jumlah, waktu, tempat dan mutu. Tepat jenis dimaksudkan untuk pemilihan pupuk berdasarkan spesifikasinya. Unsur hara yang diberikan untuk tanaman tebu sesuai dengan unsur yang diperlukan oleh tanaman, antara lain ZA sebagai sumber Nitrogen, TSP, SP36 sebagai sumber Phospat dan KCl atau ZK pada daerah tanaman. atau pupuk majemuk dengan komposisi unsur hara telah disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Tepat jumlah, dosis/jumlah pupuk yang tepat dalam setiap hektar sesuai dengan kebutuhan tanaman Pupuk diberikan secara berimbang antara N, P dan K serta unsur hara lain. Dosis pupuk yang tepat untuk setiap daerah dan jenis tanah ditentukan berdasarkan hasil analisis tanah dan nomograf yang disusun oleh Pawirosemadi (1996). Tepat waktu, pengertian pemberian pupuk sesuai kebutuhan tanaman tidak hanya menyangkut dosis tetapi juga kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman (Kuntohartono, 1999 dan Usman, 1997). Tepat tempat, pupuk dimasukkan dalam lajur/coklakan/tugal dekat dengan akar 5-10 cm kemudian ditutup. Pupuk pertama di kiri tanaman sedang pupuk kedua di kanan tanaman atau sebaliknya Tepat mutu tidak rusak dan kandungan bahan aktif sesuai dengan ketentuan sebagaimana tertera pada label/kemasan. Dengan menggunakan hasil analisis tanah dapat diketahui sekaligus dosis pupuk dan macam pupuk yang diperlukan oleh tanaman tebu. Cara penentuan dosis dan macam pupuk berdasarkan analisis tanah menggunakan nomograf telah disusun oleh Pawirosemadi (1996). Pemberian pupuk akan efektif dan efisien (optimal) bila sesuai dengan dinamika status hara tanah, oleh karena itu perlu dilakukan analisa tanah untuk menentukan dosis pupuk yang diberikan secara periodik sekitar 5 tahunan.