Untuk mencapai tujuan pengelolaan tanaman yang baik, maka kegiatan yang harus dilakukan terdiri atas : penyiangan, pembuatan rorak, penyulaman, pengelolaan tanaman pelindung, dan pembentukan bidang petik. Apabila penanaman tanaman teh telah selesai dilakukan, tanah perlu diratakan kembali. Satu setengah atau 2 bulan setelah tanaman ditanam, gulma mulai tumbuh dan perlu disiangi. Penyiangan dapat juga dilakukan dengan herbisida bila tersedia. Penyiangan dengan cara manual perlu diulangi 1,5 – 2 bulan kecuali ada gangguan serangga hama/penyakit penyiangan dilakukan dengan cara strip weeding. Pembuatan Rorak Sesuai dengan kemiringan tanah rorak dibuat 2 – 3 baris tanaman secara selang seling dengan ukuran panjang 200 cm, lebar 40 cm dan dalam 60 cm. Rorak perlu dikuras 3 kali dalam setahun. Tanah yang menutup dikeluarkan dari rorak agar berfungsi kembali. Fungsi dari pada rorak ini sebagai kantong peresapan air yang berguna dimusim kering. Rorak disamping mencegah erosi dapat memperbaiki abrasi tanah dan tempat penampungan bahan organik. Jumlah rorak di daerah datar jumlahnya dapat sama atau lebih dibanding lereng yang miring, tergantung aliran air. Penyulaman tanaman yang mati harus diganti dengan yang baru. Bibit untuk menyulam adalah bibit terbaik dari klon yang sama. Penyulaman dilakukan mulai 2 – 4 minggu setelah adanya penanaman. Penyulaman harus dilakukan sampai tanaman berumur 2 tahun. Penyulaman tahun pertama diperkirakan sekitar 10%, tahun ke 2 sebesar 5% sehingga tanaman menghasilkan populasi menjadi penuh. Pengelolaan Pohon Pelindung Budidaya dan Pasca Panen TEH 25 Jenis pohon pelindung yang berfungsi ganda sebagai pelindung dan penghasil hara nitrogen seperti : Crotalaria usaramoensis, C. anaggreoides dan Tephrosia sp. dapat ditanam selang dua baris di antara tanaman teh. Bila tinggi tanaman telah lebih 1 m, tanaman ini perlu dipangkas 50 cm karena akar mengganggu tanaman teh. Pada jarak setiap 1 m dibiarkan 1 – 2 pohon pupuk hijau ini sebagai pohon pelindung sementara. Pemangkasan tanaman pelindung ini pada dua musim hujan dipangkas 4 – 6 bulan sekali dan sisa pangkasan dijadikan mulsa tanaman teh. Pemberian mulsa untuk tanaman ternyata tidak akan cukup sehingga diperlukan mulsa dari tanaman seperti : rumput Guatemala, rumput-rumputan dan jerami. Penanaman pohon pelindung tetap sebaiknya ditanam 1 tahun sebelum atau bersamaan waktu tanaman teh ditanam. Pohon pelindung yang mati agar segera disulam. E. Pembentukan Bidang Petik Pembentukan bidang petik berfungsi agar tanaman menjadi bentuk perdu, dimana kerangka tanaman percabangannya ideal dengan bidang petik yang luas sehingga pucuk yang dihasilkan banyak. Ada tiga cara membentuk bidang petik : 1) cara pemangkasan dan pemenggalan, 2) cara perundukan, dan 3) cara kombinasi. § Cara pemangkasan dan pemenggalan. 1. Cara pemangkasan dilakukan pada bahan tanaman asal biji umur 2 tahun dipangkas setinggi 10 – 15 cm. Setelah tanaman dilapangan 1 – 1,5 tahun dipangkas setinggi 30 cm, setelah 2,5 tahun dipangkas selektif dahan setinggi 45 cm dan tiga sampai empat bulan kemudian dilakukan jendangan 60 – 65 cm dari permukaan tanah. 2. Cara pemenggalan dilakukan pada tanaman asal setek atau biji dalam polibag. Setelah bibit dilapangan umur 4 – 6 bulan, batang utama dipenggal setinggi 15 – 20 cm dengan meninggalkan minimal 5 lembar daun. Kemudian setelah cabang baru muncul setinggi 50 – 60 cm, kira-kira 6 – 9 bulan setelah batang utama dipenggal terdapat cabang yang tumbuh kuat keatas dipotong pada ketinggian 30 cm untuk memacu pertumbuhan kesamping. Tiga sampai enam bulan kemudian pada percabangan baru tinggi 60 – 70 cm dipangkas selektif setinggi 45 cm. Tunas yang tumbuh dibiarkan sampai 3-6 bulan, kemudian dijendang pada ketinggian 60 – 65 cm Cara Perundukan Perundukan adalah suatu cara membentuk bidang petik dengan melengkungkan batang utama dan cabangcabang sekunder. Cara ini dilakukan agar bahan makanan Budidaya dan Pasca Panen TEH 27 terakumu-lasi ke bagian sisi atas dari batang. Cara pelaksanaan dilakukan sebagai berikut : - Setelah bibit di lapangan 6 bulan, batang dilengkungkan membentuk 45 ° dan pucuk peko dipotong (Gambar 10). - Sesudah 6 bulan dilengkungkan, tunas sekunder yang telah mencapai panjang 50 cm dilakukan perundukan. Hal ini dilakukan sampai beberapa kali sehingga menutup ke segala arah. - Cabang yang masih tumbuh ke atas, dipotong 30 cm. Tunas yang tumbuh setelah perundukan kedua dibiarkan sampai ketinggian 70 cm kemudian dipotong setinggi 45 cm. - Dua sampai tiga bulan sesudah itu pucuk yang tumbuh dijendang pada ketinggian 60 cm atau 20 cm di bidang pangkas. Cara kombinasi pemangkasan, pemenggalan dan perundukan diawali dengan pemangkasan batang utama kemudian perundukan. Maksud dari cara kombinasi pemangkasan dan perundukan agar dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan dari kedua sistem ini. Cara ini dapat juga dilakukan pada tanaman asal biji yang ditanam berupa stum. Pelaksanaan cara ini sebagai berikut : - Setalah umur tanaman 6 bulan batang utama dipotong pada ketinggian 20 cm dengan meninggalkan minimal 5 lembar daun. - Tunas sekunder yang tumbuh setelah 6 bulan dibiarkan mencapai panjang 50 cm kemudian dirundukkan kesegala arah. - Setelah 6 bulan dirundukkan, tunas daun yang tumbuh 60 – 70 cm dilakukan pemotongan setinggi 45 cm. Jendangan setinggi 60 – 65 cm dilakukan 3 bulan setelah dipotong di atas. Menurut hasil penelitian PPTK Gambung, Menurut hasil penelitian PPTK Gambung, keuntungan cara centering-bending selain mudah dilakukan, kerangka perdu telah terbentuk sebelumnya dan tingkat kesalahan cara bending persentasenya kecil. Kerugian cara ini karena sebagian tanaman terbuang sehingga perkembangan akar jadi terganggu pada tahap awal. Pengaruh perlakuan centring-bending pada tahap tahap awal perkembangan tanaman agak sulit disiangi dan penutup tanah tidak secepat bending. Penulis: Nanik Anggoro P, SP, M.Si / Penyuluh Pertanian BBP2TP Email : nanik.anggoro@gmail.com Sumber: Budidaya dan Pascapanen Tanaman Teh, Badan Litbang Pertanian, 2010