Untuk mendapatkan hasil karet yang bermutu tinggi diperlukan bahan olah karet rakyat (BOKAR) yang baik, demikian pula untuk mendapatkan BOKAR yang baik diperlukan lateks kebun yang bermutu baik,Penurunan mutu karet biasanya disebabkan oleh proseas koagulasi. Prakoagulasi pada umumnya akan terjadi masalah dalam proses pengolahan sit asap atau sit angin dan krep (crape), sedangkan dalam pengolahan karet remah tidak menjadi masalah. Prakoagulasi pada lateks dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah aktivitas mikro organisme, aktivitas enzim, iklim, budidaya tanaman, jenis klon, pengangkutan serta adanya kontaminasi kotoran dari luar. Pragoagulasi dapat dicegah dengan: a) alat penyadapan dan pengangkutan yang digunakan bersih; b) Lateks segera diangkut ke tempat pengolahan tanpa banyak goncangan; c) lateks tidak boleh terkena matahari langsung; d) Dapat menggunakan anti koagulan seperti amoniak (NH) atai natrium sufit (Na2SO3).Kegiatan yang dilakukan dalam penanganan lateks kebun yaitu pembersihan bidang sadap, pengumpulan lateks, pengawetan lateks dan pengangkutan lateks,Pembesihan bidang sadap Pembersihan bidang sadap dilakukan dengan cara membersihkan bagian kulit yang akan disadap sebelum penyadapan.Pengumpulan lateksLateks dalam mangkuk sadap dituang ke dalam ember atau bedeng 4-5 jam setelah penyadapan. Sisa lateks selanjutnya dibersihkan menggunakan sudip yang terbuat dari kayu yang dibungkus dengan selembar karet ban dalam. Ember sebaiknya terbuat dari aluminium dan bejana yang dilapisi timah putih dan memakai tutup, jangan menggunakan drum besi bekas atau ember dari email. Ember agar dihindarkan terkena sinar matahari karena suhu yang tinggi akan mempercepat terjadinya prakoagulasi.Pengawetan lateksLateks cair akan diproduksi menjadi bentuk lateks pekat sebagai bahan baku industri. Lateks kebun akan menggumpal setelah beberapa saat, sehingga perlu diberi bahan pengawet agar tidak menggumpal sampai ke tempat pengolahan lateks pekat.Persyaratan bahan pengawet lateks: 1) Dapat membunuh mikroorganisme atau setidaknya dapat menekan keaktifan dan perkembangannya; b) Menaikkan pH lateks atau bereaksi alkali; c) Dapat menjadikan logam dalam lateks, khususnya ion logam berat menjadi tidak aktif; d) Tidak beracun bagi manusia dan bagi lateks yang diperoleh; e) Tidak memberikan warna pada lateks atau film dari lateks tersebut; f) Tidak memberikan bau, tidak menganggu proses lateks selanjutnya, harga relatif murah serta mudah penanganannya.Salah satu pengawet lateks yang masih digunakan sebagai pengawet baku adalah amoniak. Amoniak dapat diperoleh dalam dua bentuk yaitu gas atau larutan 20%, Untuk kebutuhan dalam jumlah sedikit umumnya digunakan larutan ammonia 2,5 % per liter lateks. Amoniak mudah menguap sehingga bila dibiarkan terbuka kadarnya akan cepat menurun dan pada proses penggumpalan diperlukan asam format (semut) yang lebih banyak. Pengawetan lateks dapat menggunakan natrium sulfit. Natrium sulfit diperdagangkan dalam bentuk serbuk putih berkadar 90-98%. Natrium sulfit bersifat higroskopis dan mudah teroksidasi oleh udara sehingga harus tersimpan dalam botol tertutup rapat dan diletakkan di tempat yang kering dan dingin. Dosis yang digunakan adalah 5 ml-10 ml larutan Na2 SO3 10% per liter lateks. Amonia atau natrium sulfit sedapat mungkin ditambahkan ke dalam mangkuk lateks, semakin cepat akan semakin baik.Pengangkutan lateksLateks kebun yang sudah dibubuhi amoniak dituangkan melalui tabung atau pipa ke dalam tangki pengangkut. Tangki dilengkapi dengan penyaring 40 mesh yang ukurannya sesuai dengan lubang masuk. Prakoagulum dan skrep yang telah terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam suatu tempat lalu diangkut menuju pabrik. Lateks yang telah dibubuhi amoniak dapat bereaksi dengan tembaga, kuningan, seng dan sebagainya sehingga harus dihindarkan dari logam tersebut. Penyaring lateks juga sebaiknya terbuat dari baja tahan karat. Tangki lateks terbuat dari besi lunak dan dianjurkan dilapisi lilin untuk mengurangi melekatnya lateks pada sisi-sisi dan alas tangki. Dengan dilapisi lilin juga akan mempermudah dalam pembersihan karena film karet yang melekat dapat dikuliti dengan mudah. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian Pusluhtan)Sumber: Pedoman Penanganan Pasca Panen Karet. Direktorat Penanganan Pasca Panen. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Departemen Pertanian. 2007