Di Indonesia, bagian terbesar dari produksi jagung dimanfaatkan untuk keperluan industri pakan, sedangkan jumlah yang dikonsumsi langsung dan digunakan dalam industri pangan relatif kecil. Sebagian kecil lagi jagung ditanam untuk dikonsumsi sebagai sayuran, yaitu jenis jagung manis, tetapi dipanen lebih muda sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai produk biji-bijian. Tanaman jagung dapat dipanen apabila sudah mencapai matang fisologis (tergantung dari varietas dan tinggi tempat). Berikut adalah beberapa faktor dan ciri-ciri yang dapat mempengaruhi masa panen yaitu :1. Jagung yang akan siap panen terlihat dari terbentuknya lapisan hitam di ujung biji dan kulit tongkol (klobot) yang sudah mengering atau berwarna coklat muda. Panen jagung dilakukan pada saat tongkol berumur 7-8 minggu setelah keluar bunga, adanya penampakan biji jagung yang mengkilap pada saaat tongkol dikupas, dan biji pada saat ditekan dengan tangan tidak meninggalkan bekas melekuk, serta kadar air dalam biji sudah mencapai 35 – 40%. 2. Jangan melakukan panen dalam waktu awal atau tongkol masih belum mencapai matang fisilogis, karena akan menyebabkan penurunan kualitas produksi seperti menghasilkan banyak butir muda, sehingga daya simpan jagung menjadi rendah. Dan apabila panen dilakukan terlambaat, maka akan menyebabkan rusaknya biji akibat deraan lingkungan dan serangan hama. Jika panen dilakukan pada musim hujan menyebabkan biji jagung mudah berjamur sehingga biji akan terkontaminasi aflatoksin, yaitu metabolit beracun yang dihasilkan oleh cendawan Aspergillus flavus yang dapat meracuni manusia dan hewan. 3. Perhatikan keadaan cuaca pada saat akan melakukan panen, sebaiknya pilihlah cuaca yang cerah pada saat pemanenan jagung dilakukan. 4. Cara pemanenan tanaman jagung dilakukan secara manual dengan tangan, dengan menentukan tanaman (pohon) yang bertongkol matang fisiologis kemudian tongkol dipetik dengan tangan hingga terlepas dari batangnya. Jika tidak segera dikonsumsi atau dijual, jagung sebaiknya dipanen bersama klobotnya agar biji tidak mudah rusak dan dapat disimpan selama 3-4 bulan. Kemudian lakukan proses pengeringan atau penyimpanan jagung berupa para-para dalam jumlah yang cukup. Pasca Panen Jagung Penanganan pascapanen jagung sebagai produk biji-bijian meliputi panen, yang dapat dilakukan pada tingkat kadar masih tinggi (lebih dari 30%) ataupun ketika kadar air jagung sudah cukup rendah (20-25%), perontokan, dan pengeringan, baik pengeringan jagung tongkol maupun jagung pipil. Tingkat kemasakan jagung dilihat dari perbedaan dalam proses penanganannya, yaitu masak susu dan masak lunak terdiri dari panen, pengemasan segar dan penyimpanan. Kemudian proses pasca panen berikutnya untuk jagung yaitu masak tua dan masak mati terdiri dari proses panen, pengeringan tongkol, penyimpanan tongkol, pemipilan, pengeringan jagung pipilan dan penyimpanan jagung pipilan. Penanganan ini sangat bertujuan untuk memproduksi jagung pipilan dari pengumpulan hasil, penempatan dalam wadah, pengangkutan, pengeringan, pemipilan, pengeringan ulang dan penyimpanan. Penanganan pasca panen ini dibedakan antara penanganan jagung tongkol dan jagung pipilan. Berikut adalah tahapan penanganan jagung tongkol yaitu :1. Pengumpulan hasil. 2. Pewadahan. 3. Pengangkutan. 4. Pengeringan tongkol. 5. Penyimpanan. Penulis : Arliza, SP ( Penyuluh Pertanian Pertama ) Sumber Tulisan : https://www.jitunews.com/read/10440/proses-jitu-penanganan-panen-dan-pasca-panen-jagung