Penyakit blas (Pyriculariagrisea) merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi pada budidaya padi dan sekarang sudah menjadi kendala serius pada padi sawah. Hal ini menjadi penting artinya, terutama dengan adanya perluasan padi ataupun penggunaan padi unggul yang rentan terhadap blas. Penyakit blas dapat menurunkan hasil sampai mencapai 70% jika tidak ditangani segera. Blas menginfeksi pada semua stadia pertumbuhan tanaman yaitu daun, buku, leher malai, namun jarang menyerang pada bagian pelepah daun. Keadaan suhu yang kondusif pada kisaran 28°C. Suhu demikian umumnya ditemukan di wilayah-wilayah pengusahaan padi gogo, maupun padi sawah sehingga blas dapat berkembang biak dan menyebabkan kerusakan yang serius atau sering mengakibatkan puso. Serangan blas sudah menyerang tanaman padi di wilayah Kabupaten Jembrana, salah satunya di Subak Babakan Pohsanten, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo. Areal tanaman padi yang terdampak blas seluas 10 ha dari total luas wilayah subak 33 ha, berdasarkan hasil pengamatan petugas POPT dan Penyuluh Pertanian setempat. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, disarankan agar petani segera untuk melakukan penyemprotan fungisida guna mencegah serangan blas tidak semakin meluas. Adapun pencegahan tersebut petani menggunakan fungisida yang didapatkan dari bantuan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali melalui UPTD. Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH). Bantuan fungisida yang diterima sebanyak 12 liter dengan dosis 1 liter fungisida untuk 1 ha hamparan padi. Kelihan Subak Babakan Pohsanten I Made Suamba mengatakan, “penyemprotan fungisida sudah dilakukan oleh petani subak sesuai dengan anjuran petugas POPT. Sehingga rantai penyebaran blas bisa diminimalisir dan diputus”. Made Suamba berharap agar hasil panen padi tidak menurun karena blas. Penyemprotan fungisida dilaksanakan pada akhir bulan april 2020. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perkembangan Penyakit Blas: Inang utamanya yaitu padi dengan inang alternatif adalah rerumputan serta dapat juga memanfaatkan jagung untuk mempertahankan hidupnya. Miselia patogen tersebut dapat bertahan selama setahun pada jerami sisa-sisa panen. Fase penetrasi spora cendawan ini hanya membutuhkan waktu yang singkat yaitu 6-8 jam, menginfeksi melalui stomata, dan periode laten untuk memproduksi kembali spora juga tergolong singkat sekitar 4 hari (Hashioka, 1985). Faktor lain yang mendukung perkembangan blas adalah keadaan kelembaban sekitar 90%. Faktor pemicu lainnya adalah pemupukan nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi. Kehilangan hasil yang besar juga sering ditemukan pada infeksi leher malai. Penanaman dengan jarak tanam yang rapat serta pemupukan nitrogen yang tinggi tanpa menggunakan kalium menciptakan iklim meso dan media tumbuh yang kondusif untuk berkembangnya penyakit blas pada leher malai (Ismunadji et al, 1976). Gejala khas pada malai yang sering ditemukan yaitu adanya bercak kehitaman dengan malai yang patah, atau bulir yang mengering dan hampa. Gejala Serangan Penyakit Blas Daun (leaf blast) Pada daun terdapat bercak coklat berbentuk belah ketupat dan memanjang searah dengan urat daun Pinggir bercak berwarna coklat dengan bagian tengah berwarna putih keabuan Bercak-bercak terutama terlihat pada stadium pertumbuhan vegetative Bercak-bercak dapat bergabung menjadi satu, sehingga secara keseluruhan tampak tanaman seperti terbakar Gejala Serangan Penyakit Blas Leher (node blast) Serangan terjadi pada tanaman yang telah keluar malainya. Buku-buku yang terserang berwarna cokelat kehitaman dan busuk, sehingga mudah patah bila terhembus angin. Malai menjadi mengkerut, butir tidak terisi penuh, dan kadang-kadang menjadi hampa. TEKNIK PENGENDALIAN PENYAKIT BLAS Keberhasilan pengendalian penyakit blas dipengaruhi oleh kemampuan pengaturan lingkungan, terutama iklim mikro tanaman, keseimbangan penyerapan unsur hara dan tingkat kesuburan tanah. Kondisi lingkungan berpengaruh terhadap laju perubahan ras pathogen blas, diantaranya varietas tahan, musim tanam yang tepat, pemakaian pupuk seimbang, dan penggunaan fungisida secara tepat. Penggunaan Varietas Tahan Penanaman varietas tahan merupakan cara pengendalian yang terbaik, diharapkan varietas mempunyai ketahanan yang stabil. Ketahanan stabil adalah ketahanan yang tidak berubah (konsisten) pada tempat dan waktu penanaman yang berbeda atau tahan terhadap Pyricularia Oryzae WaktuTanam Perbedaan agroklimat antarlokasi/wilayah dalam skala besar atau kecil memerlukan pengelolaan yang berbeda dalam menghadapi serangan blas. Oleh karenaitu, penanaman padi gogo dianjurkan pada awal musim penghujan. Penanaman pada awal musim hujan perlu dibantu dengan penyemprotan fungisida untuk menekan blas leher, terutama pada saat keluar malai dan awal berbunga. Jarak Tanam Umumnya penanaman padi ditanam dengan jarak yang rapat. Oleh karena itu, tingkat populasi tanaman mempunyai arti penting yang berhubungan dengan produksi dan perkembangan penyakit blas. Jarak tanam rapat dan jumlah benih yang banyak menciptakan iklim mikro yang optimum untuk perkembangan penyakit blas. Pemupukan Pengaruh pemupukan terhadap penyakit blas tergantung pada kesuburan tanah, jenis dan takaran pupuk, serta varietas yang ditanam.Varietas yang rentan dengan peningkatan takaran pupuk Nitrogen menyebabkan tanaman mudah terserang blas, karena menurunkan kadar Kalium dalam jaringan tanaman. Untuk tanah PMK dianjurkan menggunakan pupuk 60 – 90 kg N, 90 kg P2O5, 60 kg KCl per hektar. Untuk varietas Lokal, pemupukan optimal dianjurkan 45 kg N, 45 kg P2O5, 30 kgKCl per hektar. Pemberian abu sekam yang mengandung Silikat 300 kg/ha dapat menurunkan kerusakan blas dari 90 % menjadi 48 %. Penggunaan Fungisida Hampir 30 – 40 % penyakit blas pada padi ditularkan melalui benih, sehingga pada stadium awal vegetative tanaman padi dapat terserang blas. Oleh karena itu, perlakuan benih (seed treatment) dengan fungisida sistemik seperti Pyroquilone 50 WP sebanyak 8 g/kg benih sangat diperlukan. Untuk blas leher diperlukan penyemprotan dengan fungisida Tricyclazole pada saat bunting. Penulis : I Gd. Pt. Edi Setiawan, S.P.