Loading...

Penanggulangan Hama Padi

Penanggulangan Hama Padi
PENANGGULANGAN HAMA PADIOleh : SulaemanPenyuluh PertanianKini gangguan anomali cuaca pada sektor pertanian bukan lagi sekadar wacana. Namun, anomali cuaca tersebut telah sangat nyata menimbulkan berbagai ganguan pada petani sawah. Curah hujan tinggi dan kondisi basah sepanjang tahun, misalnya, menyebabkan banyak padi sawah di Jawa diserang hama wereng. Konsekuensinya, para petani sawah, seperti di Cirebon dan Indramayu, mengatur ulang tanam padi dan mengupayakan bertanam padi sawah secara serempak sebagai adaptasi terhadap kondisi cuaca dan demi memutus daur hidup hama padi (Kompas Jawa Barat, 25/7). Mengadaptasi lingkungan Bercocok tanam padi membutuhkan ketepatan dalam memilih waktu. Sebab, salah memilih waktu tanam padi dapat menyebabkan kegagalan panen. Karena itu, tak mengherankan apabila berbagai kelompok masyarakat tradisional di Jabar dan Banten, seperti masyarakat Baduy, pantang menanam padi huma sembarang waktu. Namun, tanaman padi tersebut harus mengikuti kalender tani khusus mereka yang mengadaptasikan diri terhadap lingkungannya. Untuk bercocok tanam padi, masyarakat Baduy tetap kokoh mencermati kondisi cuaca dan mengantisipasi serangan hama padi, antara lain dengan berpedoman pada indikator rasi bintang orion (bentang kidang) di alam. Jadi, dikenal ungkapan populer orang Baduy, seperti kidang marem turun kungkang, ulah melak pare. Artinya, urang Baduy dilarang menanam padi ketika bentang kidang tidak lagi menampakkan diri (marem) di ufuk barat waktu fajar. Menurut tafsir orang Baduy, apabila warga Baduy memaksakan tanam padi ketika bentang kidang telah marem, tanaman padi huma mereka bakal banyak diserang hama kungkang (Leptocorisa acuta). Selain kungkang, di huma Baduy biasa ditemukan beberapa jenis hama padi lain, seperti hama ganjur (Oseolia orizae), gaang (Grylottalpa africana), dan ongrek/kuuk (larva serangga) (Iskandar 1998:327). Karena itu, untuk menghindari kegagalan panen padi huma akibat faktor lingkungan, seperti anomali cuaca dan serangan hama, dalam bercocok tanam padi huma, masyarakat Baduy sangat teguh berpedoman pada kalender tani mereka. Masa tanam dan masa panen huma warga Baduy senantiasa serempak. Lantas, seusai panen padi, untuk penggarapan huma musim berikutnya, ada jeda cukup lama. Akibatnya, daur hidup berbagai serangga hama dapat diputus di huma Baduy. Tidak hanya itu, dalam mengendalikan hama padi huma, masyarakat Baduy biasa melakukan pengobatan padi (ngubaran pare) secara teratur pada bulan Hapit Lemah (November-Desember). Saat itu, seusai penyiangan huma kedua kali (ngored ngarambas) dan upacara ngirab sawan, pengobatan padi menggunakan racikan biopestisida yang biasa ditabur di huma. Campuran yang umum digunakan untuk racikan biopestisida, di antaranya, buah cangkudu (Morinda citrifolia), rimpang laja (Languas galanga), kulit jeruk besar (Citrus grandis), air kelapa (Cocos nucifera), tuak aren (Arenga pinnata), dan abu tungku (lebu hawu). Sementara itu, racikan khusus untuk mengusir kungkang biasanya menggunakan bingbin (Pinanga sp), panglay (Zingiber cassumunar), dan pasir sungai (keusik). Penaburan racikan biopestisida umumnya dilakukan beberapa kali. Pada masa itu, tiap keluarga Baduy juga rajin-hampir tiap hari-membakar dedaunan beraroma ladang (rawun pare), misalnya daun walang (Amomum walang) dan daun kanyere (Bridelia monoica). Mengusir hama Penanggulangan hama padi pada masyarakat Baduy bersifat mengusir daripada membunuh. Dalam bertani, mereka selalu menjaga keselarasan dengan alam, bukannya melawan alam. Maka dari itu, dalam penanggulangan hama padi huma, masyarakat Baduy lebih memilih racikan biopestisida dan rawun pare daripada pestisida pabrikan yang dianggap dapat meracuni dan merusak lingkungan. Upaya mengusir hama padi huma tersebut tampaknya cukup berhasil. Buktinya, kejadian puso panen padi huma akibat gangguan hama sangat jarang terjadi di Baduy. Mengapa demikian? Pasalnya, berbagai tumbuhan untuk biopestisida atau rawun pare orang Baduy dikenal secara ilmiah (etik) termasuk kategori tumbuhan pengusir hama (repellent) (cf Reijntjes dkk 1992:192). Buah cangkudu, misalnya, mengandung alkaloid pahit dan panglay mengandung atsiri bau pahang dengan rasa pahit. Karena itu, bahan ramuan tersebut sesuai untuk mengusir serangga hama. Adapun rimpang laja yang berbau dan mengandung minyak esensial dikenal sangat berguna sebagai antibakteri, antifungal, antiprotozoa, dan insektisida. Daun walang yang biasa dibakar di saung huma dan beberapa tempat di huma masyarakat Baduy juga banyak mengandung minyak atsiri. Kalau dibakar, daun tersebut menghasilkan asap yang sangat bau dan ampuh mengusir serangga hama padi di huma. Tidak hanya itu, pola tanam huma di Baduy utamanya menerapkan sistem intercropping, yaitu di antara barisan tanaman padi juga biasa ditanam aneka ragam tanaman nonpadi. Jadi, sistem intercropping itu secara ekologis sangat tahan menghadapi serangan hama ataupun anomali cuaca. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul " Penanggulangan Hama Padi", https://lifestyle.kompas.com/read/2010/09/27/14293683/.penanggulangan.hama.padi.