Loading...

Penanggulangan Kerugian Saat Pasca Panen Ubi Kayu

Penanggulangan Kerugian Saat Pasca Panen  Ubi Kayu
Ubi kayu merupakan tanaman pertanian yang biasa ditanam sebagai tanaman pekarangan. Dibudidayakan sangat mudah. Daun ubi kayu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Selain daunnya dimanfaatkan sebagai sayuran, umbi ubi kayu memiliki berbagai baik sebagai bahan makanan pokok, tambahan atau sampingan. Ubi kayu selain dipergunakan sebagai bahan makanan manusia, juga untuk makanan ternak dan bahan industri.Panen ubi kayu dilakukan bila sudah tua dimana kriteria itu ditentukan oleh kandungan tepung dalam umbi mencapai maksimum, tetapi kebanyakan petani sering menunda masa panen, karena tergantung pada harga pasar dan kebutuhannya tidak mendesak. Hal ini bila terus dibiarkan akan menyebabkan umbinya berubah menjadi berkayu (keras).Ubi kayu yang sudah terlanjur dipanen tidak bisa ditahan lama, tanpa pengolahan tertentu atau langsung dipasarkan. Jika itu tidak dilakukan akan bisa menimbulkan kerusakan. Adapun jenis kerusakaanya sebagai berikut. 1. Kerusakan tingkat pertama, ditandai dengan adanya perubahan warna pada umbi. Gejala pada mulanya berupa garis hitam kebiruan, selanjutnya berubah menjadi warna kecokiatan. Bila dimakan umbi nya tidak enak, karena keras dan rasanya pahit.2. Kerusakan tingkat kedua, disebabkan oleh bakteri, yang menimbulkan peragian (permentasi) dan dapat melunakkan umbi. Biasanya proses ini berlangsung lambat. 3. Kerusakan lain yaitu kerusakan mekanis yang disebabkan oleh peralatan panen, di karenakan kurang hati-hati pada waktu memanen. Kerusakan pada tingkat ini beberapa luka maupun memar. Kerugian pasca panen belum dapat ditanggulangi, karena minimnya pengetahuan para petani dan sifat tanaman yang mudah rusak. Oleh karena itu maka tindakan panen dan pasca panen harus diperhatikan. Adapun langkahnya sebagai berikut:1. Perhatikan umur tasnyapanen sesuai varietasnya. Umur panen tanaman ketela pohon telah mencapai 6–8 bulan untuk varietas Genjah dan 9–12 bulan untuk varietas Dalam2. Tanda-tanda daunnya: daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok.3. Caranya:Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut batangnya dan umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah. Sebaiknya panen dilakukan pada pagi atau sore hari Usahakan jangan terkena sinar matahari langsung agar tidak kering. Setelah ubi kayu dicabut, umbinya dipetik atau dpotong pangkalnya dengan di sertai sedikit batangnya, dengan menggunakan pisau. Usahakan jangan sampai terluka. Sebaiknya panen dilakukan pada pagi atau sore hari. Usahakan jangan terkena sinar matahari langsung agar tidak kering. Setelah ubi kayu dicabut, umbinya dipetik atau dpotong pankalnya dengan di sertai sedikit batangnya, dengan menggunakan pisau. Usahakan jangan sampai terluka.4. Hasil panen : Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan5. Penyortiran: Pemilihan atau penyortiran umbi ketela pohon sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran umbi ketela pohon dapat dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis-garis pada daging umbi.6. Penyimpanan: Cara penyimpanan hasil panen umbi ketela pohon ada beberapa cara, salah satunya dengan cara sebagai berikut: Buat lubang di dalam tanah untuk tempat penyimpanan umbi segar ketela pohon tersebut. Ukuran lubang disesuaikan dengan jumlah umbi yang akan disimpan. Alasi dasar lubang dengan jerami atau daun-daun, misalnya dengan daun nangka atau daun ketela pohon itu sendiri. Masukkan umbi ketela pohon secara tersusun dan teratur secara berlapis kemudian masing-masing lapisan tutup dengan daun-daunan segar tersebut di atas atau jerami. Terakhir timbun lubang berisi umbi ketela pohon tersebut sampai lubang permukaan tertutup berbentuk cembung. Penutupnya upayakan yang tidak bisa dimasuki tikus dan binatang lain Lubang penyimpanan diusahakan dalam kondisi becek. Apabila penyimpanan dilakukan pada musim hujan, perlu diberi perlindungan agar umbi yang ada didalam lubang tidak basah. Penyimpanan secara sederhana ini, umbi ubi kayu akan tahan sampai sebulan atau lebih. 7. Pengemasan: Pengemasan umbi ketela pohon bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/ dalam negeri dikemas dan dimasukkan dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap segar. Khusus untuk pemasaran antar pulau maupun diekspor, biasanya umbi ketela pohon ini dikemas dalam bentuk gaplek atau dijadikan tepung tapioka. Kemasan selanjutnya dapat disimpan dalam karton ataupun plastik-plastik dalam perbagai ukuran, sesuai permintaan produsen.8. Pengangkutan: Setelah dikemas umbi ketela pohon dalam bentuk segar maupun dalam bentuk gaplek ataupun tapioka diangkut dengan alat trasportasi baik tradisional maupun modern ke pihak konsumen, baik dalam maupun luar negeri.Demikian yang harus dilakukan agar resiko kerugian panen dapat ditekan.Penyunting:Yulia Tri SEmail:yuliatrisedyowati@yahoo.co.id : Sumberhttp://www.kompasiana.com/bangpilot/langkah-langkah-budidaya-singkong-hasil-luar-biasa_56c3300a917a61f50a6de53ahttp://peuyeumcipatat.blogspot.co.id/2013/05/tsips-cara-menanam-singkong-yang-benar.htmlhttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/52837