Loading...

PENDIDIKAN PERTANIAN DI LAPAK PETANI CABAI DI DESA BANJAR

PENDIDIKAN PERTANIAN DI LAPAK PETANI CABAI DI DESA BANJAR
Menciptakan pemahaman Siswa Pertanian dengan Masalah di Lapangan Pendidikan lapangan merupakan pendidikan yang membentuk jiwa dan karakter siswa itu sendiri. Hal ini memberikan dampak positif bagi siswa dan petani yang utama. Para siswa beranggapan bahwa apa yang didapat di bangku sekolah sangat jauh mengenai dunia pertanian dan masalah yang dihadapi oleh petani. Awalnya siswa memandang sebelah mata mengenai pertanian, tetapi setelah mereka menghadapi dan menjalani pekerjaan yang diberikan oleh pengelola sawah dilokasi mereka sangat bersemangat dan ingin mengetahui lebih jauh informasi yang didapat. SMKN 1 Brang Ene menempatkan siswa-siswi dilokasi yang telah ditunjuk sebagai temat melakukan PKL. Sebut saja 10 (sepuluh) siswa yang ditempatkan dilokasi diantaranya Deby Ardiansyah, Abdul Azis, Ahmad Abduh, M. Taufik, Muhajirin, Daniel Akbar, Fajar Iskanuddin, M. Toni, Agus Apiadi, Firmansyah. Ke sepuluh siswa ini ditempatkan di kelompok tani Harapan Rakyat selama 3 bulan. Pelaksanaan PKL dilaksanakan dari tanggal 13 Januari s/d 14 April 2014. Setelah ditinjau dari tanggal pelaksanaan siswa PKL sudah berjalan selama 1 bulan lebih. Dan pelaksanan dan sistem pengajaran yang dilakukan di lokasi sudah dilaksanakan. Beberapa kegiatan dalam pengolahan dan pelaksanaan sistem tanam tanaman hortikultura berjalan. Debi Ardiasyah (Debi nama panggilannya) merupakan salah satu siswa yang melaksanakan PKL (Pendidikan Kerja Lapangan) di Kelompok tani Harapan Rakyat desa Banjar mengakui hal itu dan mengatakan “Ilmu yang saya dapat di bangku sekolah jauh sekali, sekolah hanya mengajarkan bagai mana bercocok tanam dan bagaimana mengendalikan masalah tetapi tidak didukung oleh kenyataan dilapangan. Setelah saya berkecimpung di lahan pertanian ini saya mendapat pelajaran yang berharga diantaranya bagaimana memupuk yang benar, mengatasi masalah serangan hama penyakit, cara panen yang benar dan banyak hal yang ditemu dilapangan”. Begitu juga diakui oleh pembimbing lapangan dalam hal ini ketua kelompok tani Harapan Rakyat (Maskoang) mengatakan siswa yang PKL ini benar-benar tidak mengenal pertanian dan benar-benar mereka memandang pertanian itu tidak menarik dan tidak memberikan peluang. Walaupun dengan keterbatasan pendidikan dan pengetahuan saya berharap mampu memberikan ilmu yang bermanfaat bagi siswa itu sendiri dengan cara melibatkan siswa langsung dan mereka secara otomatis mengerti masalah yang dihadapi aku ketua Kelompok Tani Harapan Rakyat. Dari pengakuan ketua kelompok tani itulah bisa dilihat dari tingkat pemahaman siswa. Ini dilihat dari cara siswa melakukan pemupukan, penyemprotan hama penyakit, pengendalian gulma, dan melakukan pemanenan sudah benar. Dan aktifitas siswa PKL menunjukkan semangat dan mengetahui masalah yang dihadapi di lapangan hal ini terbukti mereka mengetahui masalah yang ada di lokasi tempat mereka melakukan PKL. Selain itu juga mereka bisa menerapkan ilmu yang diterima dibangku sekolah dan mengaplikasikannya dilapangan.(Ito red.)