Loading...

Penerapan SL-GHP Padi Sekolah Lapang Good Handling Practice (SL-GHP) Padi di Kelompok Tani Sembilangan Jaya I, Desa Sembilan

Penerapan SL-GHP Padi  Sekolah Lapang Good Handling Practice (SL-GHP) Padi di Kelompok Tani Sembilangan Jaya I, Desa Sembilan
SL-GHP (Sekolah Lapang Good Handling Practice) padi adalah pedoman untuk melaksanakan pasca panen secara baik dan benar sehingga kehilangan dan kerusakan hasil dapat ditekan seminimal mungkin untuk menghasilkan produk yang bermutu. Penanganan pasca panen sangat menentukan terhadap mutu hasil produksi komoditi tanaman, maka dalam penanganan proses harus memperhatikan dan menerapkan teknologi pemanenan dan penanganan pasca panen yang baik dan benar yang berbasis GHP (Good Handling Practice). Panen juga sering dilakukan tidak tepat waktu sehingga mempengaruhi mutu hasil. Maka perlu terus menerus dilakukan pembinaan kepada petani / kelompok petani oleh petugas / penyuluh / pendamping agar dapat menerapkan teknologi pemanenan dan penanganan pasca panen yang baik dan benar yang berbasis GHP (Good Handling Practice). Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan ketika memulai pasca panen dan ini semua harus dilakukan demi terpenuhinya kualitas padi yang bermutu tinggi sesuai dengan standard pangan. Berikut ini merupakan tahapan yang harus dilakukan ketika memulai pasca panen: I. Pemanenan Pemanenan merupakan sebuah proses kegiatan yang dilakukan mulai dari memanen sampai menghasilkan produk yang setengah jadi. Produk setengah jadi adalah hasil panen yang belum mengalami perubahan bentuk dan sifatnya. Tanda-tanda padi siap panen antara lain: a. Sebanyak 90% bulir padi telah menguning dan daun bendera mengeringb. Kadar airnya kurang lebih 21-26%c. Kerontokan gabah ± 16-30 %. Kerontokan gabah dapat diukur dengan cara meremas malai dengan telapak tangan. II. Perontokan dan Pengangkutan Gabah Perontokan dan pengangkutan gabah dilakukan sesegera mungkin setelah panen. Perontokan dilakukan menggunakan alas. III. Pengeringan GabahKadar air panen adalah 20-25 %, sehingga perlu pengeringan sampai maksimal 14%. Hal ini bertujuan agar gabah tidak mudah rusak waktu disimpan. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan pengeringan dengan menggunakan sinar matahari antara lain: a. Tempat penjemuran harus keringb. Tempat penjemuran harus terlindung dari gangguan binatangc. Tempat penjemuran harus terkena sinar mataharid. Tempat penjemuran memiliki lantai jemure. Ketebalan gabah yang dikeringkan adalah 5-7 cm dan dibolak-balik tiap 1-2 jamf. Bila menggunakan alas jemur, jangan menggunakan terpal berbahan plastik karena dapat mempengaruhi kadar airg. Waktu penjemuran antara pukul 08.00-16.00 WIBh. Pengeringan dilakukan 2-3 hari pada cuaca baik sampai mencapai kadar air 14%i. Jangan menjemur gabah terlalu lama agar tidak pecah saat penggilingan IV. Penyimpanan Penyimpanan hasil produksi gabah sebaiknya dilakukan dengan memberi alas pada bagian bawah. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi resiko kehilangan hasil produksi. Penyimpanan merupakan tindakan yang dilakukan untuk menjaga gabah sampai waktu tertentu dengan keadaan aman. Hal yang perlu diperhatikan adalah kelembaban tempat penyimpanan harus rendah sehingga dapat mengurangi resiko tumbuhnya jamur. V. Penggilingan Penggilingan adalah sebuah proses membuat gabah menjadi beras. Penggilingan gabah merupakan proses menghilangkan kulit gabah baik secara tradisional maupun modern. Hj. Atiek Koesharmawatie, SP(Penyuluh Pertanian Lapang BPP Kecamatan Bangkalan)