Pandemi Covid-19 membawa dampak pada berbagai lini kehidupan masyarakat, sehingga pemerintah membuat kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang akhirnya memaksa warga baik perkotaan maupun pedesaan memiliki banyak waktu luang di rumah. Kita belum mengetahui kapan pandemi Covid-19 di Indonesia akan berakhir. Hal ini menyebabkan kecukupan pasokan pangan menjadi penting, namun menjadi modal utama bagi suatu daerah untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19. Krisis pangan di tengah pandemi maupun masa pemulihan pasca Covid-19 dapat memicu krisis sosial yang dampak negatifnya sangat besar. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk menghindari krisis pangan merupakan agenda kebijakan yang harus menjadi prioritas utama. Upaya untuk membatasi penyebaran Covid-19 melalui PPKM darurat juga berimplikasi pada nasib petani. Terganggunya kelancaran sistem distribusi dan turunnya permintaan dari industri kuliner dan industri pengolahan selama pelaksanaan PPKM darurat menyebabkan turunnya harga sejumlah komoditas pertanian secara nyata. Di beberapa lokasi sentra produksi, harga daging dan telur ayam di tingkat peternak turun lebih dari 10%. Meskipun angkanya tidak sebesar yang dirasakan para peternak, penurunan harga juga terjadi pada komoditas pangan lainnya terutama produk hortikultura. Sampai saat ini dampak nyata dari pandemi Covid-19 pada pertanian bukan terletak pada tenaga kerja yang tersedia untuk berusaha tani tetapi merosotnya pendapatan yang tentunya berimplikasi pula pada turunnya kemampuan permodalan petani. Merosotnya pendapatan diakibatkan setidaknya oleh dua hal berikut. Pertama, akibat dari kenaikan harga input dan turunnya harga hasil panen di tingkat petani. Dengan demikian, PPKM darurat juga menyebabkan aktivitas ekonomi nonpertanian di perdesaan mengalami kelesuan meskipun tidak sedahsyat yang terjadi di perkotaan. Akibat Covid-19, rumah tangga petani yang memperoleh pendapatan dari bekerja sebagai migran musiman di perkotaan maupun pendapatan kiriman dari anggota keluarganya yang bekerja di kota bukan hanya merosot, tetapi untuk sementara ini tidak ada lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kendala terbesar peningkatan produksi pangan MT III terletak pada terbatasnya air. BMKG memperkirakan bahwa secara umum musim kemarau 2021 relatif lebih basah daripada 2020 akan tetapi ada sekitar 30% wilayah yang menurut zona musim (ZOM) akan lebih kering dari kondisi normalnya. Puncak musim kemarau di sebagian besar daerah zona musim diprediksi akan terjadi di bulan Agustus. Awal musim kemarau juga bervariasi antarwilayah. Sekitar 19,3% daerah ZOM diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal 37,4% ZOM sama seperti biasanya, dan 43,3% ZOM lebih lambat dari biasanya. Selain air, kendala pada peringkat berikutnya adalah modal. Terkurasnya tabungan dan berkurangnya pendapatan petani dari kegiatan nonpertanian mengakibatkan persediaan modal untuk berusaha tani menjadi sangat terbatas. Untuk ketersediaan tenaga kerja diperkirakan cukup. Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengatasi kendala tersebut adalah sebagai berikut : Pada areal pesawahan yang pasokan airnya memungkinkan untuk menanam padi maka diperlukan peningkatan eï¬Âsiensi dalam penggunaan air. Itu dapat dilakukan dengan menerapkan teknik irigasi berselang (intermittent) dan penggunaan air irigasi macak-macak. Untuk mengantisipasi risiko kekeringan, sepanjang memungkinkan, pemanfaatan irigasi pompa perlu disiapkan sejak awal dan pemeliharaan saluran irigasi harus lebih diintensifkan. Selain untuk meningkatkan eï¬Âsiensi penyaluran air, hal ini juga sangat diperlukan bagi peningkatan kinerja irigasi untuk usaha tani padi MT I tahun Peningkatan diversiï¬Âkasi usaha tani. Peningkatan produksi pangan nonpadi seperti kacang hijau, cabai, tomat, dan jagung. Untuk memperoleh hasil produksi yang lebih tinggi, sistem pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman perlu diperhatikan. Intensiï¬Âkasi pemanfaatan lahan pekarangan. Untuk kebutuhan sendiri, penanaman beberapa jenis sayuran seperti cabai, kangkung,tomat, terong, dan sebagainya akan sangat membantu meringankan beban pengeluaran rumah tangga. Di samping itu, diperlukan dukungan kebijakan yang sasarannya terkait dengan beberapa hal berikut. Pertama, penambahan permodalan petani dengan meningkatkan akses terhadap kredit murah dan atau bantuan permodalan. Kedua, peningkatan ketersediaan benih padi unggul yang relatif toleran kekeringan. Ketiga, ketersediaan pupuk. Keempat, peningkatan ketersediaan pompa-pompa irigasi berbagai ukuran sehingga sesuai dengan kondisi di lapang. Kelima, program padat karya pada kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi (oks_setyawan). OK SETYANTO SETYAWAN, S.P. Penyuluh Pertanian Ahli Pertama BPP Undaan