Di Indonesia kebutuhan kedelai setiap tahunnya meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah, tetapi belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri karena area panennya terus berkurang dan produktivitasnya berflukluasi. Penurunan areal tanam antara lain disebabkan oleh daya saing kedelai terhadap komoditas lain lebih rendah, sehingga petani beralih ke komoditas yang Iebih menguntungkan. Produktivitas yang berfluktuasi antara lain disebabkan oleh tidak optimalnya pasokan kebutuhan air. Di lahan sawah, kedelai umumnya ditanam setelah padi dengan pola padi - padi - kedelai atau padi - kedelai - kedelai bergantung pada ketersediaan air. Pada awal pertumbuhan, kedelai sering mengalami cekaman air akibat genangan, terutama di tanah-tanah berat, dan pada akhir periode pertumbuhan sering mengalami cekaman kekeringan akibat curah hujan atau pengairan yang tidak mencukupi kebutuhan. Di samping itu, pelumpuran tanah yang terus-menerus menyebabkan permeabilitas tanah rendah dan memperburuk drainase sehingga kurang menguntungkan bagi pertumbuhan akar kedelai. Kedelai yang ditanam di lahan kering, pada awal musim hujan umumnya kurang baik dan memberikan hasil rendah karena curah hujan tinggi dan radiasi surya kurang, sehingga petani lebih memilih bertanam jagung atau padi gogo. Kedelai yang ditanam pada akhir musim hujan juga sering menghadapi kekeringan, terutama di daerah-daerah kering dengan bulan basah 3-6 bulan per tahun. Oleh karena itu, pengaturan pola tanam, penggunaan varietas toleran kekeringan, konservasi lengas tanah, dan pemanfaatan air secara efisien merupakan faktor penting dalam budi daya kedelai di lahan kering. Kandungan air tanah yang berlebihan menyebabkan genangan dan berpengaruh kurang baik bagi pertumbuhan tanaman karena menurunkan ketersediaan oksigen bagi akar, organisme tanah, dan pembentukan bintil akar. Di tanah beraerasi baik, kandungan oksigen dalam tanah mendekati keadaan di atmosfer. Pada kapasitas lapang, tanah mempunyai volume pori berisi udara 10-30%, dan jika tergenang pasokan tersebut akan berkurang. Pertumbuhan akar sebagian besar tanaman akan mengalami penurunan bila ruang pori tanah kurang dari 10%, dai laju difusi oksigen kurang dari 0,2 ug cm/menit. Kekurangan oksigen akibat genangan dapat terjadi sekitar tiga hari setelah genangan pada tanah pasiran dan sehari pada tanah lempungan. Bila tanah ditumbuhi tanaman, penurunan kandungan oksigen makin cepat karena akar menyerap oksigen untuk respirasi. Genangan selain berpengaruh Iangsung terhadap pertumbuhan tanaman, juga akan mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah. Saat terjadi genangan, struktur tanah rusak akibat daya rekat agregat lemah oleh adanya air, sehingga menghalangi difusi udara. Genangan menyebabkan beberapa perubahan elektro-kimia, antara lain penurunan potensial redoks, peningkatan pH tanah masam, penurunan pH tanah alkalin, perubahan keseimbangan hara, reaksi pertukaran kation dan anion, serta penyerapan dan pelepasan ion. Genangan meningkatkan ketersediaan P, K, Ca, Si, Fe, 5, Mo, Ni, Zn, Pb, Co, Mn, dan Al, tetapi menurunkan serapan N, P, K, dan beberapa hara mikro . Pada tanaman kacang-kacangan, genangan tidak saja menghambat pertumbuhan akar dan tajuk, tetapi juga mengganggu perkembangan dan fungsi bintil akar karena penurunan ketersediaan oksigen. Aktivitas nitrogenase pada kedelai menurun segera setelah terjadi genangan. OIeh karena itu, tanaman yang tergenang menunjukkan kiorosis seperti gejala kekahatan nitrogen yang diduga akibat berkurangnya N tanah karena denitrifikasi atau pelindian. Genangan yang terjadi pada fase pembungaan hingga pengisian polong menyebabkan penurunan hasil mencapai 50% dibanding genangan pada fase pertumbuhan lain. Untuk mengatasi terjadinya penurunan hasil kedelai akibat genangan pada lahan yang sering tergenang sebaiknya dibuat bedengan untuk tiap 2 m lahan. Penyunting: Yulia Tri S Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,2007, Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,1985, Kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian