Kelapa sawit salah satu sumber devisa negara sehingga kelapa sawit mempunyai peranan penting dalam pererkonomian nasional kita. Selayaknya pemerintah memberikan perhatian yang tinggi pada komoditi ini. Hal dibuktikan dengan diterbitkannya Inpres No. 6 tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan 2019. Indonesia masih kakeurangan minyak goreng untuk kebutuhan nasional sehingga peluang untuk pengolahan minyak goring sawit maupunpengolahan CPO dan produk turunan lainnya masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Pertumbuhan kelapa sawit pada tiga tahun pertama disebut sebagai kelapa sawit muda, hal ini dikarenakan kelapa sawit tersebut belum menghasilkan buah. Kelapa sawit mulai berbuah pada usia empat sampai enam tahun. Dan pada usia tujuh sampai sepuluh tahun disebut sebagi periode matang (the mature periode), dimana pada periode tersebut mulai menghasilkan buah tandan segar ( Fresh Fruit Bunch). Tanaman kelapa sawit pada usia sebelas sampai dua puluh tahun mulai mengalami penurunan produksi buah tandan segar. Semua komponen buah sawit dapat dimanfaatkan secara maksimal. Buah sawit memiliki daging dan biji sawit (kernel), dimana daging sawit dapat diolah menjadi CPO (crude palm oil) sedangkan buah sawit diolah menjadi PK (kernel palm). Ekstraksi CPO rata-rata 20 % sedangkan PK 2.5%. Sementara itu cangkang biji sawit dapat dipergunakan sebagai bahan bakar ketel uap. Minyak sawit dapat dipergunakan untuk bahan makanan dan industri melalui proses penyulingan, penjernihan dan penghilangan bau atau RBDPO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil). Disamping itu CPO dapat diuraikan untuk produksi minyak sawit padat (RBD Stearin) dan untuk produksi minyak sawit cair (RBD Olein). RBD Olein terutama dipergunakan untuk pembuatan minyak goreng. Sedangkan RBD Stearin terutama dipergunakan untuk margarin dan shortening, disamping untuk bahan baku industri sabun dan deterjen. Banyak faktor yang mempengaruhi produksi kelapa sawit diantaranya syarat tumbuh yang harus dipenuhi dan iklim. Syarat tumbuh. Kelapa sawit akan tumbuh baik bila syarat pertumbuhan tanamannya dapat terpenuhi sebagai berikut: 1) Tekstur tanah (permukaan): halus, agak halus dan sedang; 2) Kedalaman tanah mineral (pada lahan gambut): mempunyai ketebalan < 60 cm; b) ketebalan dengan sisipan bahan mineral < 40 cm; 3) PH tanah 5,0-6,5; 4) Kandungan C-organik sebesar > 0,8%; 5) Cukup tersedia unsur hara N, P, K, Ca, Mg dan S; dan 6) Kemiringan tanah: a) lereng 3-8%; b) batuan permukaan < 5%; c) singkapan batuan < 5%. Pengaruh Iklim pada produksi kelapa sawit Dalam pertumbuhan dan produksinya kelapa sawit dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim antara lain suhu udara, curah hujan dan kelembaban udara. Untuk pertumbuhan kelapa sawit, memerlukan rata-rata curah hujan tahunan berkisar 2.000 mm tanpa bulan kering. Cekaman air tanah (kekeringan) akan menunjukkan penurunan produksi kelapa sawit, karena meningkatnya jumlah tandan buah jantan (Pahan, 2006). Kisaran rata-rata suhu udara tahunan yang optimum untuk kelapa sawit 25 – 28 derajat celcius, tetapi masih dapat berproduksi pada rata-rata suhu udara tahunan antara 24- 38 derajat Celcius. Kombinasi antara curah hujan dan suhu udara sangat berperan dalam mekanisme proses fotosintesis. Bila dua faktor tersebut ada gangguan tentunya akan mengganggu fotosinsesis yang beujung pada menurunnya produksi kelapa sawit. Terjadinya iklim ekstrim seperti kekeringan sangat berpengaruh pada pertumbuhan kelapa sawit yang dapat digambarkan sebagai berikut: 1) Kekurangan air pada satadium I (nilai defisit air 200-300 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 21-32%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: a) 3-4 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; b) 1-8 pelepah daun tua patah; 2) Kekurangan air pada satadium II (nilai defisit air 300-400 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 33-43%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: a) 4-5 pelepah daun muda umumnya tidak membuka; b) 5-12 pelepah daun tua patah; 3) Kekurangan air pada satadium III (nilai defisit air 400-500 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 44-53%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: a) 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; b) 12-16 pelepah daun tua patah; dan 4) Kekurangan air pada satadium IV (nilai defisit air > 500 mm/tahun) akan terjadi pengurangan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 54-65%). Adapun gejala yang terjadi pada tanaman adalah: a) 4-5 pelepah daun muda mengumpul dan umumnya tidak membuka; b) 12-16 pelepah daun tua patah; c) pucuk patah. Agar produksi kelapa sawit tidak terganggu adanya perubahan iklim ekstrim, petanisawit dianjurkan menanam sawit dengan bibit yang tahan cekaman iklim. (Sri Puji Rahayu/yayuk_edi@yahoo.com)