Pengaruh Jarak Tanam dan Pemberian Mulsa Terhadap Produksi Tanaman Kedelai KedelaiKedelai adalah salah satu tanaman kacang-kacangan yang menjadi bahan dasar pembuatan kecap, tahu, dan tempe dan kedelai juga merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Produksi kedelai di Indonesia pada tahun 2014 sebanyak 954.000 ton (Anonim, 2014). Jumlah tersebut masih kurang jika dibandingkan dengan konsumsi kedelai dalam negeri yang mencapai 2,2 juta ton per tahun (Rachman, 2010). Peningkatan produksi kedelai perlu dilakukan agar Indonesia tidak tergantung dengan kedelai impor melalui perbaikan budidaya, salah satunya dengan menggunakan mulsa. Penggunaan mulsa bertujuan untuk menekan pertumbuhan gulma, mencegah kehilangan air tanah, serta suhu dan kelembaban tanah agar relatif stabil. Penggunaan mulsa merupakan upaya memodifikasi kondisi lingkungan agar sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik (Cahyo, 2013). Cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan pengaturan jarak tanam. Dengan pengaturan jarak tanam diharapkan dapat meningkatkan efesiensi penggunaan lahan. Dengan pengaturan jarak tanam akan berpengaruh terhadap penerimaan cahaya matahari pada setiap tanaman, penerimaan unsur hara, air dan udara. Mulsa Plastik Hitam Mulsa ialah bahan penutup tanah yang berfungsi menjaga kelembaban dan suhu tanah, disamping itu mulsa dapat menekan pertumbuhan gulma, sehingga tanaman akan tumbuh lebih optimal. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan mulsa plastik hitam perak memberikan respon paling baik dibandingkan penggunaan mulsa plastik hitam maupun mulsa jerami. Penggunaan mulsa plastik hitam perak akan memantulkan sinar matahari, sehingga cahaya matahari yang diterima oleh tanaman dapat memperlancar proses fotosintesis yang menghasilkan tinggi tanaman rata-rata mencapai 36,91 cm. Selain itu warna hitam yang berada di bawah dapat berfungsi untuk menyerap panas dan menjadikan suhu tanah lebih stabil, dapat mengurangi penguapan sehingga kebutuhan air bagi tanaman tercukupi. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan serta pertumbuhan akar tanaman. Pemakaian mulsa plastik hitam perak memberikan dampak paling baik pada semua jenis mulsa, karena dapat memantulkan cahaya yang dapat bermanfaat dalam proses fotosintesis sehingga karbohidrat yang terbentuk lebih banyak. Penggunaan mulsa plastik hitam perak sangat berpengaruh nyata sehingga dapat meningkatkan berat 1000 biji kering bila dibandingkan dengan penggunaan mulsa plastik hitam maupun mulsa jerami. Ketersediaan air akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, karena air tanah dapat melarutkan unsur hara, oleh sebab itu kebutuhan unsur hara bagi tanaman dapat terpenuhi. Hasil analisis menunjukkan pemberian mulsa plastik hitam perak lebih baik dibandingkan dengan mulsa plastik hitam dan mulsa jerami. Selain itu terpenuhinya kebutuhan hara bagi tanaman, baik karena pemupukan maupun penyerapan oleh akar dapat menyebabkan metabolisme bekerja lebih optimal, sehingga pembentukan protein,karbohidrat dan pati tidak terhambat, oleh karena itu proses pembentukan biji menjadi lebih cepat. Selain itu pemberian mulsa berpengaruh sangat nyata pada berat biji kering per tanaman. Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat menstabilkan suhu tanah,dan pertumbuhan akar lebih baik. Pertumbuhan akar tersebut dapat berpengaruh pada penyerapan unsur hara serta penyerapan air tanah. Pemberian mulsa plastik hitam perak meningkatkan tinggi tanaman, jumlah cabang produktif per tanaman, berat 1.000 biji kering, berat kering brangkasan per tanaman dan berat biji kering per m2 . Jarak Tanam Jarak tanam 40 cm x 10 cm meningkatkan tinggi tanaman. Jarak tanam 40 cm x 30 cm meningkatkan jumlah cabang produktif per tanaman, berat 1.000 biji kering dan berat kering brangkasan per tanaman. Jarak tanam yang terlalu sempit mengakibatkan tanaman berkompetisi dalam pengambilan unsur hara maupun pengambilan cahaya matahari oleh sebab itu proses fotosintesis tidak maksimal. Sebaliknya jarak tanam yang renggang dapat mengurangi kompetisi pengambilan hara dan cahaya matahari. Penggunaan jarak tanam yang ideal bagi tanaman akan memperkecil terjadinya kompetisi, sehingga dapat memberikan hasil yang optimal Untuk itu pengaturan jarak tanam yang tepat perlu diterapkan dalam sistem budidaya untuk dapat mengoptimalkan hasilnya. Semakin banyak cahaya matahari yang diserap oleh tanaman akan berpengaruh terhadap proses fotosintesis yang dapat dikonversi menjadi fotosintat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam 40 cm x 30 cm menunjukkan hasil terbaik dibandingkan dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm maupun 40 cm x 10 cm. Rata rata berat biji kering per tanaman pada jarak tanam 40 cm x 30 cm yaitu 17,32 g. Hal ini diduga karena pengaturan jarak tanam yang terlalu sempit memungkinkan terjadi kompetisi penyerapan terhadap cahaya matahari, unsur hara maupun air yang menyebabkan proses fotosintesis menjadi terhambat. Ruslia atmaja Sumber : Baltkabi, Badan Litbang Pertanian