Loading...

Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Sirih (Piper Betlel) Untuk Mengendalikan Damping Off Pada Tanaman Cabai

Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Sirih (Piper Betlel) Untuk Mengendalikan Damping Off Pada Tanaman Cabai
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.) UNTUK MENGENDALIKAN DAMPING OFF PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum) ( EKO ASEP SIHOMBING, SP) PENDAHULUAN Sclerotium rolfsii merupakan penyebab penyakit damping-off pada tanaman cabai yang sulit untuk dikendalikan. Penggunaan pestisida kimia sintetik ternyata dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, salah satunya adalah penggunaan pestisida nabati dari daun sirih. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi dan lama perendaman benih cabai yang paling baik di dalam larutan ekstrak daun sirih untuk mengendalikan penyakit damping-off yang disebabkan oleh jamur S. rolfsii. Cabai merah (Capsicum annum) merupakan tanaman hortikultura semusim untuk rempahrempah yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai penyedap masakan dan penghangat badan. Luas pertanaman cabai di Indonesia pada tahun 2010 sebesar ha dengan produksi ton dan merupakan usaha budidaya terbesar di Indonesia bila dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnya (Septana dkk., 2012). Budidaya cabai merah mengalami banyak gangguan yang salah satunya berasal dari faktor biotik seperti serangan jamur, bakteri dan virus yang menyebabkan kehilangan hasil panen dalam jumlah besar. Salah satu serangan jamur adalah busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii. Soesanto (2008), melaporkan bahwa S. rolfsii sulit ditanggani Gerbang Daerah karena mampu bertahan selama bertahun-tahun dalam tanah dalam bentuk sklerotium dan mempunyai 261 kisaran inang yang luas. Menurut Sugiharso dan Suseno (1985) penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh S. rolfsii dapat menyebabkan kerugian sampai 80% pada persemaian cabai. Bahkan apabila keadaan lingkungan cocok untuk perkembangan penyakit ini, kerugian dapat mencapai 100% Petani seringkali mengendalian penyakit rebah kecambah dengan pemberian pestisida terhadap benih maupun pada media tanam. Benih direndam dengan menggunakan fungisida berbahan aktif Hexaconazol, propiconazol, tebuconazol, difenconazol, dan carbendazim (Madhavi, 2011). Bahan aktif yang terkandung dalam pestisida kimia bersifat persisten dalam tanah sehingga dapat menyebabkan penurunan jumlah populasi, keragaman dan aktivitas mikroorganisme tanah bahkan dapat mematikan mikroorganisme tersebut. Kematian mikroorganisme tanah menyebabkan berkurangnya kesuburan tanah, karena mikroorganisme tanah akan berkaitan langsung dalam siklus hara tanah. Oleh sebab itu perlu dicari alternatif lain untuk mengendalikan penyakit damping-off, Salah satu diantaranya adalah dengan mengunakan fungisida nabati yaitu bahan yang berasal dari tumbuhan (Friska, 2008). Bahan tanaman yang diduga mengandung senyawa anti bakteri dan anti jamur salah satunya adalah daun sirih. Daun sirih mengandung minyak atsiri, yang terdiri dari 82,8% senyawa fenol, dan hanya 18,2% merupakan senyawa bukan fenol (Koesmiati, 1996). Minyak atsiri tersebut berupa adalah betlephenol, eugenol, salinen, farnesen, metil eugenol dan germaceren (Sexena, 2014). Mekanisme kerja zat anti fungal adalah dengan cara menghambat metabolisme, mengakumulasi globula lemak di dalam sitoplasma, mengurangi jumlah mitokondria, merusak membran nukleus cendawan, dan mereduksi miselium, sehingga terjadi pemendekan pada ujung hifa dan pada akhirnya miselium akan mengalami lisis (Nurmansyah, 2004). Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa daun sirih memiliki kemampuan untuk mengendalikan penyakit akibat cendawan. Nurhayati (2007) membuktikan bahwa ekstrak daun sirih mampu mematikan cendawan Colleotricum capsici lebih baik bila dibandingkan dengan ekstrak biji jarak, kulit jeruk, daun dan biji nimbi, laos serta brotowali. Aisyah dkk. (2008) menyatakan bahwa ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 40% dapat menghambat cendawan Pythium sp secara in vitro. Penelitian Zaidun (2006) Penggunaan ekstrak daun sirih dan rimpang lengkuas mampu menekan intensitas penyakit blas pada tanaman padi yang disebabkan oleh Pyricularia oryzae pada tanaman padi dari 35,2% menjadi 19,2%. Pengguaan eksrak daun sirih dan rimpang lengkuas mampu menekan perkembangan penyakit bercak daun kacang tanah dari 48,9% menjadi 17.7%. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi dan Green house Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktor tunggal, yang terdiri dari 9 perlakuan, yaitu pemberian Ekstrak daun sirih konsentrasi 0%, 40%, 60% atau 80% dengan lama perendaman 1 jam, 2 jam atau 3 jam. Setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan, setiap unit percobaan terdiri dari 20 benih cabai. Benih cabai yang digunakan adalah varietas Branang yang diperoleh dari Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPPTPH) Yogyakarta dengan daya berkecambah 80%. HASIL DAN PEMBAHASAN Viabilitas Spora Semua unit percobaan memiliki spora yang viabel sehingga memiliki kemungkinan tinggi dapat menginfeksi benih cabai yang akan ditanam, ditandai dengan munculnya serabut putih pada buah timun. Serabut putih tersebut merupakan miselium dari Sclerotium rolfsii. Pada beberapa bagian dari miselium yang bersentuhan dengan buah timun terdapat sclerotium berwarna putih (gambar 1). Penggunaan timun sebagai umpan dikarenakan daging buah timun cenderung lunak sehingga sesuai untuk pertumbuhan S. roflsii. S. roflsii juga merupakan patogen yang menyebabkan busuk buah pada timun. Busuk buah pada timun yang disebabkan oleh S. rolfsii tergolong ke dalam penyakit minor, karena hanya menyebabkan kerusakan pada buah yang menempel pada tanah. Gambar 1. Cendawan S. rolfsii yang hidup pada umpan buah timun Kemungkinan cendawan Sclerotium rolfsii menginfeksi tanaman cabai juga diperkuat dengan perbandingan media tanam yang sesuai sebagaimana hasil penelitian Mulyati (2009) yang menyatakan bahwa cendawan Sclerotium rolfsii dapat tumbuh dan menginfeksi dengan lebih baik pada media dengan perbandingan pasir, tanah dan pupuk kandang 2:1:1. Agrios (1988) juga menyatakan cendawan Sclerotium rolfsii dapat tumbuh dengan baik pada media berpasir. Ketersediaan Oksigen yang tinggi pada medium berpasir mampu meningkatkan viabilitas Sclerotia. Serangan Sclerotium rolfsii Cendawan S. rolfsii menyerang persemaian dalam tiga katagori, yaitu germination loss, preemergence damping off dan post emergence damping off (Achmad, 1999). Germination loss dapat dibaikan karena bersumber dari benih unggul. Pengamatan pre-emergence damping off tidak dapat dibuktikan dalam penelitian ini. Pengamatan post emergence damping off menunjukkan tidak ada kejadian dilapangan. S. rolfsii diduga lebih menyerang benih yang baru mulai berkecambah dan belum keluar dari tanah bila dibandingkan dengan benih yang telah keluar dari tanah. Benih akan mengalami proses imbibisi sehingga benih lebih lunak, radikula yang muncul dari benih juga memiliki struktur yang lunak sehingga miselia S. rolfsii dapat menyebabkan preemergence damping off (Tjahjadi, 1989). Kejadian post emergence damping off yang rendah diduga disebabkan oleh adanya senyawa antifungal seperti fenol dan kavikol sehingga memberikan perlindungan tambahan pada tanaman cabai terhadap serangan cendawan S. rolfsii (Nurmansyah, 2004). Selain itu, varietas branang memiliki ketahanan terhadap penyakit layu bakteri dan antraknosa, sehingga diduga ada senyawa antifungal yang juga mampu menghambat pertumbuhan S. rolfsii (Agrios, 1988). Senyawa tersebut tidak dapat bertahan sepenuhnya terhadap serangan cendawan S. rolfsii dibuktikan dengan daya berkecambah yang rendah pada kontrol. Daya Berkecambah Perendaman benih dengan ekstrak daun sirih 60% pada perendaman 1 jam dan 2 jam terbukti mampu memberikan daya berkecambah yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kontrol (tabel 1). Senyawa aktif pada ekstrak daun sirih mampu mencegah serangan S. rolfsii melalui mekanisme pereduksian miselium, sehingga terjadi pemendekan pada ujung hifa, dan miselium lisis (Nurmansyah, 2004). Perendaman benih dengan ekstrak daun sirih 60% pada perendaman 1 jam dan 2 jam terbukti mampu memberikan daya berkecambah yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan pemberian konsentrasi 80%. Senyawa pada ekstrak daun sirih tidak hanya berpengaruh pada cendawan S. rolfsii namun juga pada benih melalui mekanisme penghambatan metabolisme sel, mangakumulasi globula lemak di dalam sitoplasma sel, mengurangi jumlah mitokondira dan juga merusak membran nukleus (Nurmansyah, 2004). Lama perendaman benih akan membantu pematahan dormansi fisik, namun bila perendaman dilakukan dalam waktu yang cukup lama maka akan merusak benih. Schmidt (2000) menyatakan perendaman merupakan prosedur yang sangat lambat untuk mengatasi dormansi fisik, dan ada resiko besar bahwa benih akan mati jika dibiarkan dalam air sampai seluruh benih menjadi permeable. Selain itu, perendaman yang terlalu lama dapat menyebabkan benih mengalami anoksia atau kondisi kekurangan oksigen sehingga benih menjadi rusak (Schmidt, 2000). Vigor Benih Kecepatan berkecambah merupakan aspek penting yang akan memberikan vigor benih. Vigor benih sering diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang suboptimal. Benih yang punya kecepatan berkecambah tinggi akan menghasilkan tanaman yang tahan terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Ekspresi kecepatan berkecambah Secara matematis yang umum digunakan adalah koefisien perkecambahan dan indeks vigor (Rineka, 1992). Seringkali pengukuran kecepatan berkecambah dilakukan dengan menggunakan metode first count juga digunakan untuk mengukur vigor benih. Perlakuan ekstrak daun sirih 60% dengan lama perendaman 1 jam dan 2 jam memberikan hasil indeks vigor, Koefisien berkecambah dan kecepatan berkecambah yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan lain (Tabel 2). Senyawa betlephenol dan kavikol mampu menghambat metabolisme, merusak membran nukleus dan mengurangi jumlah mitokondria, sehingga senyawa aktif pada daun sirih akan lebih memiliki kemampuan untuk merusak sel ketika konsentrasi yang diberikan terlalu tinggi. Proses masuknya senyawa ke dalam sel dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, semakin tinggi konsentrasi semakin cepat proses difusi. Selain itu molekul dengan ukuran besar membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berdifusi bila dibandingkan dengan molekul dengan ukuran yang lebih kecil (Lambers 2008). Nilai kontrol untuk indeks vigor, koefisien berkecambah dan kecepatan berkecambah memiliki nilai yang lebih rendah bila dibandingkan dengan perlakuan pemberian ekstrak daun sirih (Tabel 2). Benih tidak memiliki pertahanan terhadap serangan cendawan S. rolfsii. Nilai Vigor benih dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah keberadaan mikroorganisme penyebab penyakit. Benih dengan vigor yang tinggi lebih kuat terhadap serangan penyakit (Lita, 1985) Hasil pengamatan indeks vigor, kecepatan berkecambah, dan first count memberikan hasil perlakuan tertinggi yang berbeda-beda. Indeks vigor memberikan hasil tertinggi pada perlakuan ekstrak daun sirih 60% dengan lama perendaman 1 jam, sedangkan pada kecepatan berkecambah dan first count memberikan hasil tertinggi pada ekstrak daun sirih 40% dengan lama perendaman 1 jam. Nilai indeks vigor berkaitan dengan jumlah benih yang berkecambah, semakin besar jumlah benih yang berkecambah maka semakin besar pula indeks vigor. Jumlah benih berkecambah akan memberikan nilai tambah pada indeks vigor. Nilai kecepatan perkecambahan tidak ada kaitannya dengan jumlah benih yang berkecambah, semakin lama waktu yang dibutuhkan benih untuk berkecambah maka akan memperkecil nilai dari koefisien perkecambahan. Nilai first count tidak berkaitan dengan jumlah benih berkecambah total karena batas waktu perhitungan first count dihentikan sebelum waktu perkecambahan selesai (Singh dkk, 2010). SIMPULAN Perlakuan fungisida nabati ekstrak daun sirih yang mampu memberikan perlindungan terhadap serangan cendawan Sclerotium rolfsii adalah pemberian ekstrak daun sirih konsentrasi 60% dengan lama perendaman 1 jam. DAFTAR PUSTAKA Achmad Prospek Pengendalian Terpadu Penyakit Lodoh pada Persemaian Tanaman Kehutanan. J. Manajemen Hutan Tropika. 1 : 1-9 Agrios, G.N Plant Pathology. NewYork. Academic Press. 635p Copeland, L.O Principles of Seed Science and Technology. Burgess Publ.Comp., Minneapolis. Fery, R.L., and P.D. Dukes Shouthern Blight (Sclerotium rolfsii) of Cowpea: Genetic Charaterization of Two Sources of Resistence. International Journal of Agronomy. org/ / 2011/ Friska M.S Uji Efektivitas Beberapa Pestisida Nabati untuk Mengendalikan Penyakit Antraknosa (Colletotrichum capsici) Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum) di Lapangan. Universitas Sumatra Utara. Medan. Koesmiati, S Daun sirih (Piper betle) sebagai desinfektan. Skripsi. Departemen Farmasi. Institut Teknologi Bandung. Bandung. Kotowski, F Temperature relations to germination of vegetable seed. Proceedings of the American Society for Horticultural Science 23: Lambers, H., F.S. Chapin., T.L. Pons Plant Physiological Ecology. Springer. New York. Lita S Teknologi Benih. Rajawali. Jakarta. Madhavi, GB., SL. Battiprolu Integrated Disease Management of Dry Root Rot of Chilli Incited by Sclerotium rolfsii (Sacc.). Int. J. of Plant Anim. and Env. 1(2):31-37 Mulyati, S Pengaruh Kandungan Pasir pada Media Semai Terhadap Penyakit Rebah Kecambah (Sclerotium rolfsii Sacc) pada Persemaian Tanaman Cabai. J. Agronomi 13(1): Nurhayati Pertumbuhan Colletotrichum capsici Penyebab Antraknosa Buah Cabai pada Berbagai Media yang Mengandung Ekstrak Tanaman. J. Rafflesia. 9(1): Nurmansyah Pengaruh Penambahan Minyak Serai Wangi dan Limbah Kayu Manis terhadap Daya Anti Fungi Pestisida Nabati Sirih. Prosiding Ekspose Teknologi Gambir Kayu Manis dan Atsiri. Hal Rineka Cipta Teknologi Benih: Pengelolaan Benih dan Tuntunan Praktikum. Rineka Cipta. Jakarta. Schmidt, L Guide to Handling of Tropical and Subtropical Forest Seed. Danida Forest Seed Centre. Denmark. Saxena, M., N.K. Khare, P. Saxene, K.V. Syamsundar, dan S.K. Srivastava Antimicrobial Activity and Chemical Composition of Leaf Oil in Two Varieties of Piper Betle From Northern Plains of India. Journal of Scientific & Industial Research. 73:95-99 Septana, N. Agustin, A.M. Ar-Rozi Kinerja Produksi dan Harga Komoditas Cabai Merah. go.id/ind/pdffiles/anjak_2012_10.pdf, diakses pada 13 Maret Singh, N.I., K.K. Verma and, J.S. Chauhan Comparative Efficacy of Different Vigour Test Parameters of Pea (Pisum sativum L.) Seed Testing. Libyan Agric. Res. Cen. J. Intl., 1 (5): Soesanto, L Pengantar Pengendalian Penyakit Tanaman. rajawali Pers. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Tjahjadi, N Hama dan Penyakit Tanaman. Kanisius. Yogyakarta. Zaidun Bahan Tumbuhan Rawa yang Berpotensi Sebagai Fungisida Nabati. Temu Teknis Tenaga Fungsional