Loading...

Pengaturan Pola Produksi Bawang Merah

Pengaturan Pola Produksi Bawang Merah
Untuk memenuhi kebutuhan bawang merah masyarakat, perlu diatur pola produksi sepanjang tahun dengan menetapkan dan analisis yang tepat terhadap sasaran produksi, ketersediaan dan kebutuhan bulanan setiap tahun. Kebutuhan masyarakat terhadap beberapa bahan pangan pokok termasuk komoditas sayuran menjelang dan pada saat hari-hari besar keagamaan, seperti Puasa Ramadhan, Lebaran, Natal seperti pada tahun-tahun sebelumnya cenderung mengalami peningkatan. Salah satu komoditas sayuran utama yang perlu mendapat perhatian pada periode tersebut adalah bawang merah. Untuk mengantisipasi kenaikan permintaan bawang merah, dari jauh hari perlu dilakukan penyesuaian perencanaan pola tanam dan produksi yang mengikuti keseimbangan supply-demand. Potensi Kendala dan Hambatan Potensi kendala dan hambatan yang mungkin terjadi dalam penetapan pola produksi bawang merah: a. Jika terjadi anomali iklim, terutama musim hujan yang berkepanjangan dewasa ini telah menimbulkan dampak negatif pada pasokan dan harga bawang merah sebagai akibat dari jumlah produksi dan areal panen berkurang. b. Dampak teknis akibat adanya musim hujan berkepanjangan atau anomali iklim adalah meningkatnya serangan OPT dan kesulitan pemanenan, pasca panen dan distribusi. c. Petani menghindari penanaman pada musim hujan, karena terkendala oleh hujan yang terlalu banyak, serta menghindari resiko gagal yang cukup tinggi. d. Petani memutuskan untuk menunda penanaman dan hanya menanam sebagian luas lahan yang dimilikinya. Akibatnya penanaman menjadi mundur dan jumlah luas tanam berkurang dari rencana yang sudah disepakati. e. Terjadinya peningkatan permintaan terhadap bawang merah karena menjelang bulan puasa dan terkait dengan perayaan hari-hari besar keagamaan (Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, Natal) dan tahun baru. f. Banyaknya permintaan bawang merah dari provinsi lain di luar daerah sentra produksi karena kelangkaan pasokan, akan menjadi daya tarik bagi pedagang untuk memenuhi permintaan itu terlebih dahulu karena harganya yang jauh lebih mahal. Akibatnya terjadi kelangkaan produksi di daerah sentra produksi. g. Dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan rencana penghapusan atau pengurangan subsidi bahan bakar minyak oleh pemerintah akan mendorong terjadinya kenaikan tarif jasa dan transportasi (salah satunya tarif jalan tol). Akibatnya memicu spekulasi kenaikan harga bawang merah, baik di tingkat petani maupun di pasar. h. Naiknya harga-harga sarana produksi pertanian/saprodi (pupuk, herbisida, fungisida dll) yang memicu naiknya harga bawang merah. Upaya Pencapaian Hasil Penetapan Pola Produksi Bawang Merah Pengembangan kawasan dan inisiasi kawasan perlu, yang difasilitasi melalui dana APBN di sentra-sentra produksi. Penerapan cara budidaya sayuran yang baik/GAP, dilakukan secara tepat terutama (a) optimalisasi pengendalian OPT akibat meningkatnya serangan OPT karena kelembaban dan curah hujan yang tinggi dan (b) pengerukan saluran irigasi sekunder dan tersier untuk mencegah penggenangan air yang terlalu tinggi. Melakukan percepatan pelaksanaan kegiatan pengembangan bawang merah yang difasilitasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk pengembangan komoditas pada kawasan dan sentra pengembangan (tahun 2010 ada 16 kabupaten pengembangan bawang merah) yang diharapkan memberikan dampak positif pada areal pengembangan bawang merah seluas 1.625 ha. Adanya pengembangan kawasan ini diharapkan memberikan kontribusi positif pada peningkatan produksi komoditas bawang merah. Upaya lain yang dapat mendorong peningkatan produksi bawang merah adalah (a) bantuan benih berkualitas (unggul bermutu/bersertifikat) untuk meningkatkan produktivitas di sentra produksi, dan (b) penanggulangan OPT berdasarkan prinsip dasar PHT. Dalam rangka mewujudkan pertanaman yang merata sepanjang tahun sesuai dengan permintaan atau serapan pasar, perlu diintensifkan pertemuan penetapan pola produksi sayuran minimal 3 (tiga) kali dalam satu tahun, dengan komoditas yang diatur antara lain cabai besar, cabai rawit, bawang merah, tomat, kentang dan kubis. Penyediaan dana emergensi atau dana bantuan untuk bencana alam yang selama 2 (dua) tahun terakhir dihapus, sehingga dana tersebut dapat digunakan untuk crash program penanggulangan bencana alam dan serangan OPT. Perlu dilakukan kerjasama dengan BMKG, terutama dalam memberikan data prakiraan curah hujan dalam upaya merancang pola tanam dan produksi bagi petani hortikultura khususnya petani bawang merah. Prakiraan iklim yang akurat akan memberikan kesempatan kepada petani untuk melakukan persiapan-persiapan dalam mengantisipasi kondisi iklim yang akan terjadi secara lebih tepat. Memaksimalkan peran penyuluh dalam menyampaikan informasi dan pemantauan keadaan pertanaman, pasokan dan harga sebagai pendukung sistem peringatan dini (early warning system) dan mengambil langkah penanganan segera. Pemantauan pelaksanaan pengembangan kawasan bawang merah perlu dilakukan secara intensif setiap 3 bulan, terutama menyongsong hari-hari besar keagamaan. Fasilitasi gerakan pengendalian OPT dan non pengendalian OPT antara lain SL-PHT, pemanfaatan agens hayati, pemberdayaan laboratorium PHP, pengamatan dan peramalan OPT. Penulis : Admin Sumber : Mariati Tamba/Penyuluh Pertanian Pusat (tabloidsinartani.com)