Loading...

Pengelolaan Panen Kedelai

Pengelolaan Panen Kedelai
Upaya serius pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri menuju swasembada perlu didukung oleh semua pihak yang terkait, di antaranya adalah dalam penyediaan teknologinya. Kendatipun masih diperlukan penelitian untuk menghasilkan teknologi produksi kedelai yang lebih maju, dewasa ini telah tersedia teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dari rata-rata sekitar 1,3 t/ha di tingkat petani menjadi sekitar 2,0 t/ha di tingkat penelitian. Komponen/teknologi yang dimaksud di antaranya adalah: (1) Varietas unggul dengan beragam karakter baik dalam hal potensi hasil, umur panen (genjah sampai dalam), warna biji (kuning, kuning kehijauan, hitam), ukuran biji (kecil, sedang, besar), dan kesesuaiannya terhadap tipe lahan (sawah, lahan kering, lahan kering masam, lahan pasang-surut), (2) produksi benih, (3) penyiapan lahan pengolahan tanah, (4) penanaman, (5) pengelolaan hara dan pemupukan, (6) pengelolaan air/lengas tanah, (7) pengelolaan organisme pengganggu tanaman, (8) sistem tanam tu Panen kedelai sebaiknya dilakukan segera setelah kadar air biji di bawah 18% basis bawah (bb), sebelum terjadi pembasahan kembali oleh hujan. Hal tersebut untuk mendapatkan mutu benih yang baik, dan memperkecil resiko pecahnya polong di lapang, serta menghindari biji bercendawan, Keadaan demikian dapat diperoleh dari pertanaman musim kemarau atau di daerah kering. Dari pertanaman musim hujan, kedelai brangkasan dapat dikeringkan dengan alat pengering buatan dengan suhu udara pengering 40-45 derajat Celsius. Dalam pengelolaan panen yang perlu diperhatikan adalah saat /umur panen dan Cara Panen Saat/Umur Panen Saat atau waktu panen selain ditentukan oleh umur sesuai deskripsi varietas yang ditanam, juga ditentukan oleh adanya warna polong dari kehijauan menjadi cokelat kuning atau kuning jerami. Panen dilakukan apabila > 95% polong tersebut sudah berubah warna dan jumlah daun yang masih ada pada tanaman sekitar 5-10%. Untuk varietas Wilis pada kondisi udara yang kering (Oktober) masih dapat dipanen walaupun daun sudah rontok semua, karena polong tidak mudah pecah di lapang. Untuk varietas unggul yang lain disesuaikan umur dalam deskripsi varietas tersebut. Untuk itu, penentuan saat panen yang tepat akan menghasilkan mutu benih kedelai yang baik. Panen yang dilakukan sebelum masak fisiologis akan mempengaruhi mutu benih karena banyak butir hijau, pipih kurang bernas dan vigor belum maksimum. Umur panen 1-2 hari Iebih lama dari deskripsi varietas menunjukkan tingkat kadar air yang rendah dan mempunyai vigor > 95%. Untuk mendapatkan mutu benih yang baik, memperkecil resiko pecahnya polong di lapang, serta menghindari biji bercendawan, panen kedelai sebaiknya dilakukan segera setelah kadar air biji di bawah 18% basis bawah (bb), sebelum terjadi pembasahan kembali oleh hujan. Keadaan demikian dapat diperoleh dari pertanaman musim kemarau atau di daerah kering. Dari pertanaman musim hujan, kedelai brangkasan dapar dikeringkan dengan alat pengering buatan dengan suhu udara pengering 40-45 derajat Celsius. Selain umur panen, kondisi cuaca saat panen juga banyak berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas benih. Panen musim kemarau memperlihatkan mutu benih (daya tumbuh) yang lebih besar dibanding benih panenan musim hujan. Cara Panen Dengan memotong batang tanaman kedelai sedekat mungkin dengan permukaan tanah, itu cara panen yang umum dilakukan. Sangat dianjurkan agar selalu menggunakan sabit atau gerigi yang tajam. Apabila sabit yang dipakai kurang tajam dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya susut hasil yang cukup banyak dan mengurangi kecepatan/kapasitas waktu panen. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh apabila cara panen dengan memakai sabit, disbanding kalau dicabut. Karena cepat, dapat diterapkan pada kondisi kering maupun basah, bakteri Rhizobium masih berada atau tersisa di dalam tanah, brangkasan tetap bersih dari tanah. Brangkasan hasil panen sangat dianjurkan untuk segera dijemur agar memperoleh kualitas biji yang baik. Untuk pemanenan 100 meter persegi, panen dengan sabit bergerigi, sabit biasa dan dicabut berturut-turut membutuhkan waktu 40,60, dan 90 menit. Untuk mempercepat proses panen , alat panen kedelai dengan tenaga traktor tangan sudah mulai dikembangkan. Hasil penelitian di Thailand menunjukkan bahwa modifikasi alat panen padi menjadi alat panen kedelai dapat menekan kehilangan hasildari 13,2% menjadi 6,3 % pada kapasitas 0,083 ha/jam. Thailan sudah mengembangkan alat panen khusus untuk kedelai yang kapasitas lapangnya sekitar enam kali dari panen secara manual.Alat panen tersebut menggunakan tenaga traktor tangan. Penyunting: Yulia Tri S Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,2007, Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan,1985, Kedelai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 3. Antarlina, S.S., E. Ginting, dan J. S. Utomo. 1999. Perbaikan mutu tepung kedelai. hasil penelitian komponen teknologi tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian tahun 1997/1998. Buku 3. Bidang Pascapanen. Balitkabi. Malang. 4. Arsyad, D.M. dan M. Syam. 1998. Kedelai, sumber pertumbuhan produksi dan teknik budi daya. Puslitbangtan. Bogor. 5. Artuti, A.M., Firdaus, J.P.T. Afdhak. 1993. Pengaruh beberapa cara perontokan terhadap mutu benih kedelai. Risalah Seminar Balittan Sukarami. Vol II. p. 67-71.