Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan sebuah pendekatan alam pengelolaan lahan, air, tanaman kedelai, pengendalian organisme pengganggu tanaman dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas, dan kelestarian lingkungan. Pendakatan PTT kedelai mulai dikembangkan sejak tahun 2009, saat ini pemasalan penerapan PTT dilaksanakan melalui Gerakaan Penerapan PTT (GP-PTT). Dalam PTT terdapat dua kelompok komponen teknologi, yaitu: komponen dasar (sangat dianjurkan pada semua areal pertanaman kedelai), dan komponen pilihan (disesuaikan dengan kondisi, kemauan dan kemampuan petani setempat). Termasuk dalam komponen teknologi dasar yaitu: varietas unggul baru, benih bermutu dan berlabel, pembuatan saluran drainase, pengaturan populasi tanaman, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu. Sedangkan komponen teknologi pilihan, yaitu: penyiapan lahan, pemupukan sesuai kebutuhan tanaman, pemberian pupuk organik, pemberian amelioran pada lahan kering masam, pengairan pada periode kritis serta penanganan panen dan pasca panen. Varietas Unggul Baru (VUB) Varietas unggul baru umumnya memiliki daya hasil yang tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama. Dalam penentuan varietas yang akan ditanam, sesuaikan dengan agroekosistem dan permintaan pengguna. Agroekosistem tanaman kedelai diantaranya lahan sawah, lahan kering, lahan kering masam, dan lahan pasang surut. Pada lahan sawah dan lahan kering, beberapa varietas yang dapat diusahakan diantaranya: Kaba, Sinabung, Anjasmoro, Mahameru, Baluran, Merubetiri, Ijen, Panderman, Gumitir, Argopuro, Arjasari, Gorobogan, Kipas Merah, Gepak Kuning, Gepak Ijo, dan varietas Dering 1. Pada lahan kering masam, beberapa pilihan varietas yang dapat diusahakan adalah Tanggamus, Sibayak, Nanti, Ratai, Seulawah, dan Rajabasa. Sedangkan pada lahan pasang surut diantaranya varietas Menyapa dan Lawit. Benih Bermutu dan Berlabel Benih bermutu dan berlabel digunakan untuk menjamin pertumbuhan yang baik dan hasil yang tinggi. Benih bermutu memiliki kemurnian dan diketahui varietasnya, daya tumbuh diatas 85%, vigor baik. Tanda fisik benih bermutu tidak terkontaminasi bibit penyakit, bernas, mengkilat, tidak keriput, bersih, tidak tercampur biji tanaman lain atau rerumputan. Pembuatan Saluran Drainase Pada kondisi tanah jenuh air perlu dibuat saluran drainase dengan kedalaman dan lebar 30 cm. Jarak antar saluran sekitar 4-6 meter. Pengaturan Populasi Tanaman Pengaturan populasi tanaman dilakukan dengan menerapkan jarak tanam. Pada lahan sawah, direkomendasikan jarak tanam 40 cm x 20 cm, sehingga populasi per hektar sebanyak 125.000 lubang tanam. Dengan penanaman 2 biji per lubang tanam, maka populasi per hektar adalah 250.000 tanaman. Pembuatan lubang tanam menggunakan tugal, dengan kedalaman lubang tanam sekitar 2-3 cm. Pengendalian OPT Secara Terpadu Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) kedelai adalah adanya gulma dan serangan hama penyakit. Keberdaan gulma mampu menurunkan hasil kedelai sebesar 18–68%. Untuk itu diperlukan upaya pengendalian. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual atau mekanis menggunakan alat. Pengendalian hama dan penyakit, dilakukan dengan konsep Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT). Penggunaan pestisida berbahan aktif karbosulfan dapat diberikan sebagai perlakuan benih untuk mengendalikan lalat kacang/lalat bibit. Karbosulfan merupakan satusatunya bahan aktif pestisida yang dapat diaplikasikan bersama dengan aplikasi bakteri Rhizobium. Penyiapan Lahan Pada lahan sawah dengan tingkat kesuburan relatif lebih tinggi, pengolahan tanah dilakukan secara minimal atau tanpa olah tanah (TOT). Babat jerami bekas padi hingga sejajar dengan permukaan tanah. Penanaman kedelai pada lahan sawah di lakukan segera setelah panen padi dengan tujuan mengejar ketersediaan air untuk proses perkecambahan benih dan pertumbuhan. Pemupukan Sesuai Kebutuhan Pemupukan pada kedelai disesuaikan dengan ketersediaan pupuk organik maupun an organik di wilayah setempat. Pada lahan sawah dapat menggunakan jerami sebagai mulsa, selain dapat berfungsi sebagai sumber unsur hara K (Kalium). Unsur hara K yang diserap oleh tanaman padi, sebesar 89% tersimpan dalam jerami. Sedangkan untuk menjamin ketersediaan hara N (Nitrogen) diperlukan penambahan pupuk hayati yang mengandung bakteri Rhizobium. Dalam pemberian Rhizobium perlu diperhatikan waktu kadaluarsa dan pemberiannya disesuaikan dengan kebutuhan. Pemberian Bahan Organik Pemberian bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Bahan organik yang diberikan dapat berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair. Amelioran pada Lahan Kering Masam Amelioran diberikan untuk menurunkan tingkat kemasaman lahan. Bahannya berupa dolomit atau kalsit. Pada lahan dengan pH 4,5-5,3 diberikan 2 ton kapur /ha, pH 5,3-5,5 diberikan 1 ton kapur/ha, dan untuk pH 5,5-6,0 diberikan 0,5 ton kapur/ha. Pengairan pada Periode Kritis Periode kritis kedelai terjadi pada saat pembentukan bunga hingga pengisian biji. Pengairan secukupnya diberikan menjelang fase pengisian polong. Panen dan Pascapanen Panen dilakukan jika 95% polong telah berwarna coklat dan daun berwarna kuning. Pemanenan dilakukan dengan memotong pangkal batang atau mencabut batang. Brangkasan hasil panen langsung dihamparkan untuk dijemur menggunakan sinar matahari setebal sekitar 2.5 – 3 cm, selama 2-3 hari menyesuaikan kondisi cuaca, dan diberi alas terpal atau lainnya. Pengeringan dilakukan sampai kadar air biji sekitar 14%. setelah kering, brangkasan dirontok secara manual atau menggunakan threser dengan kecepatan tidak boleh lebih dari 400 putaran per menit. Biji hasil perontokan dibersihkan secara manual atau menggunakan blower. Selanjutnya biji disimpan dalam kemasan karung yang telah dilapisi plastik dan diusahakan supaya kedap udara. Penyimpanan karung berisi kedelai tidak boleh langsung bersentuhan dengan lantai, melainkan harus diberi alas kayu. Sumber : Badan Litbang Pertanian. 2007. Pedoman Umum PTT Kedelai. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian; Email: ume_humaedah@yahoo.com