Loading...

Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Rawa Pasang Surut Sistem Tanam Benih Langsung

Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Rawa Pasang Surut   Sistem Tanam Benih Langsung
Lahan rawa pasang surut termasuk salah satu tipe ekosistem lahan basah yang karena pengaruh pasang dan surut air dari sungai/laut sekitarnya. Lahan rawa pasang surut dapat memberikan harapan bagi masa kini dan masa depan dalam rangka mewujudkan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan, khususnya padi. Pemanfaatan dan konservasi sumber daya genetik atau biodiversitas tanaman pangan khususnya padi di lahan rawa pasang surut penting untuk mendukung kedaulatan pangan melalui perluasan areal pertanaman dan perbaikan budidaya untuk meningkatkan produktivitas hasil. Potensi lahan rawa pasang surut masih luas dari 9,25 juta ha, diantaranya 5,29 juta ha telah dimanfaatkan (eksisting), dan 4,0 juta ha yang masih belum dibuka. Dengan optimalisasi lahan baik berupa ekstensifikasi, intensifikasi, maupun diversifikasi maka dapat dihasilkan jutan ton gabah padi dan tanaman pangan lainnya.Pengembangan padi di lahan rawa pasang surut merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan peningkatan produksi padi yang makin kompleks. Dengan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), peningkatan produktivitas dan produksi padi dilahan rawa, serta peningkatan pendapatan petani dapat tercapai.Budidaya padi di lahan rawa pasang surut dihadapkan pada keragaman sifat fisiko-kimia lahan berupa kesuburan dan pH tanah yang rendah, zat beracun (aluminium, besi, hidrogen sulfida dan natrium), dan lapisan gambut, kekeringan/genangan air dan intrusi air asin. Permasalahan pada lahan pasang surut tersebut terutama berpangkal pada lapisan pirit atau bahan sulfidik yang bila mengalami oksidasi dan menimbulkan proses pemasaman serta racun. Perlunya jaringan tata air yang baik serta pemberian bahan ameliorasi kapur sebagai upaya perbaikan kemasaman lahan.Budidaya padi melalui pengelolaan tanaman terpadu dilahan pasang surut dapat menggunakan sistem tanam pindah atau sistem tanam benih langsung. Hal ini disesuaikan dengan sosial budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Sistem tanam benih langsung biasanya dilakukan pada lokasi dengan kepemilikan lahan yang luas dan kurangnya tenaga kerja didaerah tersebut. Yang harus diperhatikan dalam pengelolaan tanaman terpadu padi pasang surut dengan menggunakan sistem tanam benih langsung adalah:1) Penggunaan benih. Varietas benih yang digunakan sebaiknya verietas unggul bermutu yang mempunyai potensi hasil tinggi serta toleran keracunan besi dan tahan blast. Varietas benih unggul untuk lahan rawa pasang surut diantaranya adalah: Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 6, Inpara7, Inpara 8, Inpara 9, Margasari, Indragiri, Martapura2) Persiapan lahan. Salah satu kunci keberhasilan pengembangan padi di lahan pasang surut adalah dengan menerapkan teknologi pengelolaan lahan dan tata air secara benar, termasuk kondisi jaringannya. Persiapan lahan untuk pengembangan padi lahan pasang surut diantaranya: melakukan aplikasi herbisida berbahan aktif glyphosate dengan dosis 4-5 lt/ha, satu minggu sebelum olah tanah. Olah tanah dapat menggunakan traktor (bajak singkal/modifikasi), dilanjutkan rotary atau glebek. Untuk lahan pirit dangkal (3) Tanam Benih Langsung (Tabela). Penanaman dapat dilakukan menggunakan dua cara diantaranya: a). dengan penanaman benih langsung dalam barisan menggunakan drum seeder legowo dengan kebutuhan benih 40 kg/ha. b) Penanaman dengan cara sistem hambur baik menggunakan alat sprayer termodifikasi ataupun manual dengan kebutuhan benih 60 kg/ha.4) Pengendalian Gulma. Penyiangan pada sistem barisan/legowo dilakukan antar barisan 15-20 HST secara manual atau menggunakan gasrok atau power weeder jika tersedia, atau menggunakan herbisida selektif pascatumbuh, bispyribac sodium, diaplikasikan sekitar 14 hari setelah tanaman tumbuh dengan takaran sesuai anjuran. Tabela sistem hambur pengendalian gulma dapat menggunakan herbisida pratumbuh.5) Trap Barier System (TBS). Terdiri atas tanaman perangkap, pagar plastik, dan bubu perangkap. TBS dilakukan dengan cara membuat parit dengan lebar ±50cm. Batas parit adalah pematang ganda dengan lebar masing-masing pematang ±20 cm. Jangan menanam padi di parit tersebut. Pasang pagar plastik (plastik bening /terpal/fiber). Selanjutnya pasang bubu perangkap, menempel pagar plastik agar tikus tidak mampu menerobosnya serta membuat gundukan tanah di depan corong bubu agar tikus mudah menemukan pintu masuk perangkap.6) Pemupukan. Gunakan perangkat uji tanah rawa (PUTR), untuk menentukan kebutuhan pupuk, atau menggunakan anjuran umum pemupukan: 200 kg NPK/ha + 150 kg Urea/ha. Pupuk NPK diberikan seluruhnya pada umur 0 – 10 hari setelah tanam, pemberian pupuk urea 50% pada umur 24-27 hari setelah tanam dan sisanya diaplikasikan pada 43-47 hari setelah tanam.7) Pengelolaan Air Mikro (TAM). Tata air mikro menggunakan kombinasi sistem aliran satu arah dan tabat konservasi (SISTAK) menggunakan pintu stoplog. Kemalir dibuat pada petakan dengan jarak antar kemalir 3 - 6 m (bila kedalaman lapisan pirit 8) Pengendalian Hama dan Penyakit. Perlunya pemantauan populasi hama atau serangan penyakit, agar dapat dikendalikan. Gunakan pupuk N secukupnya, karena penggunaan N secara berlebihan dapat memperparah serangan hama dan penyakit. Pemberian Fungisida, bakterisida dan insektisida yang tepat saat dibutuhkan. Gunakan cara pengendalian lokal yang terbukti efektif. Contohnya : Penanaman purun tikus (Eliocharis dulcis) untuk mengendalikan penggerek padi di lahan rawa tanah dan air masam. 9) Panen dan Penanganan Pascapanen. Panen dilakukan saat 80-90% gabah telah masak atau telah bewarna kuning keemasan. Panen dapat menggunakan power threaser atau mini-combine harvester. Pengeringan dapat menggunakan lantai jemur atau di atas terpal/plastic atau menggunakan mesin pengering jika tersedia. Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan)Sumber:Noor, M. dan Rahman, A. 2015. Biodiversitas dan kearifan lokal dalam budidaya tanaman pangan mendukung kedaulatan pangan: Kasus di lahan rawa pasang surut. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Kalimantan Selatan.Darman, Arsyad.M,, Busyra B.S., Enrizal. 2014. Optimalisasi Lahan Sub Optimal Rawa Pasang Surut Mendukung Kedaulatan pangan. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor.Hutahaean,L., Ananto E.E., Raharjo,B. 2015. Pengembangan Teknologi Pertanian Lahan Rawa Pasang Surut Dalam Mendukung Peningkatan Produksi Pangan: Kasus di Sumatera Selatan. IAARD Press.