Pendahuluan Bagi daerah yang memiliki tanah yang subur dan memiliki keindahan alam, mengembangkan agroeduwisata akan mempunyai manfaat ganda apabila dibandingkan hanya mengembangkan pariwisata dengan obyek dan daya tarik keindahan alam, seni dan budaya. Manfaat lain yang dapat dipetik dari mengembangkan agroeduwisata, yaitu disamping dapat menjual jasa dari obyek dan daya tarik keindahan alam, sekaligus akan menuai hasil dari penjualan hasil tanaman yang dibudidayakan, sehingga disamping akan memperoleh pendapatan dari sektor jasa sekaligus akan memperoleh pendapatan dari penjualan komoditas pertanian. Selain itu, agroeduwisata dirancang agar dapat memberikan sumbangsih dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengunjung tentang pertanian secara tuntas dari hulu ke hilir. Desa Guci merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Tegal yang cukup dikenal. Selain pemandian air panas, potensi pertanian terutama untuk beberapa komoditas seperti strawberi, wortel, aneka sesayuran, jeruk lemon, dan kopi sangat berpotensi untuk dikembangkan. Nilai lebih yang dapat ditonjolkan dari hasil pertanian adalah dikelola secara organik, sehingga konsumen dijamin mendapat pangan yang aman. Secara ekologis Desa Guci memiliki curah hujan yang cukup, maka mengembangkan agroeduwisata berwawasan lingkungan akan lebih banyak manfaatnya, di samping dapat menjual jasa dari obyek keindahan alam, seni dan budaya yang dimiliki, mengembangkan agrowisata berwawasan lingkungan sekaligus melakukan konservasi tanah. Perkembangan pariwisata di suatu tempat, tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui suatu proses. Proses itu dapat terjadi secara cepat atau lambat, tergantung dari berbagai faktor eksternal (dinamika pasar, situasi politik, ekonomi makro) dan faktor eksternal di tempat yang bersangkutan, kreatifitas dalam mengolah aset yang dimiliki, dukungan pemerintah dan masyarakat (Gunawan, 1999). Pembangunan kepariwisataan memerlukan perencanaan dan perancangan yang baik. Kebutuhan akan perencanaan yang baik tidak hanya dirasakan oleh pemerintah yang memegang fungsi pengarah dan pengendali, tetapi juga oleh swasta, yang merasakan makin tajamnya kompetisi, dan menyadari bahwa keberhasilan bisnis ini juga tak terlepas dari situasi lingkungan yang lebih luas dengan dukungan dari berbagai sektor. Peranan pemerintah sangat membantu terwujudnya obyek wisata. Pemerintah berkewajiban mengatur pemanfaatan ruang melalui distribusi dan alokasi menurut kebutuhan. Mengelola berbagai kepentingan secara proporsional dan tidak ada pihak yang selalu dirugikan atau selalu diuntungkan dalam kaitannya dengan pengalokasian ruang wisata. Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal diharapkan dapat memberdayakan, mengayomi dan memberlakukan peraturan-peraturan, tidak sekedar untuk mengarahkan perkembangan, melainkan juga untuk perintisan atau untuk mendorong sektor-sektor pendukung dalam mewujudkan pengembangan pariwisata, yaitu mempunyai fungsi koordinasi, pemasaran, termasuk di dalamnya promosi, pengaturan harga untuk komponen-komponen tertentu, pengaturan sistem distribusi ataupun penyediaan informasi. Sedangkan operasionalnya diserahkan kepada swasta. Potensi Wisata Desa Guci Desa Guci adalah desa wisata yang dikenal obyek wisata air terjun, pemandian air panas, taman di kaki Gunung Slamet, lebih kurang 27 km ke arah selatan dari Slawi. Terdapat kebun strawberi yang dapat dipetik langsung, juga terdapat banyak penginapan yang muncul bersamaan sejak 5 tahun terakhir. Penduduk Desa Guci Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dalam artu luas dengan sistem pengolahan tanah yang sangat sederhana. Bila kemajuan teknologi pertanian diajarkan kepada mereka niscaya kelak petani Desa Guci akan menjadi tulang punggung perekonomian Desa Guci dalam meningkatkan pendapatan asli daerah, melalui komoditas pertanian yang mencakup antara lain: tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan, dengan keragaman dan keunikannya yang bernilai tinggi, serta diperkuat oleh kekayaan kultural yang sangat beragam, mempunyai daya tarik kuat sebagai agrowisata. Keseluruhannya sangat berpeluang besar menjadi andalan dalam meningkatkan perekonomian Kabupaten Tegal. Desa Guci memiliki potensi besar untuk mengembangkan agrowisata di Kabupaten Tegal karena posisi geografis dan kondisi alam hayatinya yang tersedia. Kondisi seperti ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus melestarikan sumberdaya lahan yang tersedia. Dengan kondisi tanah dan iklim udara yang sejuk, peluang untuk mengembangkan berbagai komoditas pertanian pun semakin besar dengan menerapkan sistem pengelolaan lahan yang ramah lingkungan. Hal ini tercermin pada berbagai teknologi pertanian lokal yang berkembang di masyarakat Desa Guci yang ternyata sudah dapat menyesuaikannya dengan tipologi lahan. Keunikan-keunikan tersebut merupakan aset yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung atau berwisata ke Desa Guci. Agroeduwisata Pertanian berkelanjutan mengintegrasikan berbagai aspek sebagai suatu sistem. Aspek-aspek yang berkaitan tersebut antara lain agronomi, ekologi, ekonomi, sosial dan budaya (Salikin, 2003). Lebih lanjut menurut Rival et al., (2011), pembangunan pertanian perdesaan yang berkelanjutan menjadi isu penting strategis yang menjadiperhatian dan pembicaraan semua negara dewasa ini. Pembangunan pertanian berkelanjutan selain sudah menjadi tujuan, tetapi juga sudah menjadi paradigma pola pembangunan pertanian. Salah satu pengembangan dan penerapan pertanian berkelanjutan yaitu dengan adanya pengelolaan kawasan pertanian dan pengembangan pertanian dari sisi hulu hingga hilir. Integrated farming system yang mencakup berbagai subsektor pertanian ini memberikan peluang pengembangan agroeduwisata di berbagai daerah (Kusumastuti et al., 2018). Agroeduwisata merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, pendapatan petani dapat meningkat bersamaan dengan upaya melestarikan sumberdaya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya. Agroeduwisata dinilai dari gabungan dari dua konsep yaitu agrowisata dan edukasi. Agroeduwisata merupakan istilah dari wisata pertanian dengan serangkaian aktivitas dalam memanfaatkan lokasi atau sektor pertanian. Edukasi merupakan aktivitas dalam pengembangan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman. Pengembangan agrowisata sesuai dengan kapabilitas, tipologi, dan fungsi ekologis masing-masing lahan, akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumberdaya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat sekitarnya. Kegiatan ini secara tidak langsung akan meningkatkan pendapat positif petani serta masyarakat sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumberdaya lahan pertanian. Lestarinya sumberdaya lahan akan mempunyai dampak positif terhadap pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan. Pengembangan agroeduwisata pada gilirannya akan menciptakan lapangan pekerjaan, karena usaha ini dapat menyerap tenaga kerja dari masyarakat pedesaan, sehingga dapat menahan atau mengurangi arus urbanisasi yang semakin meningkat saat ini. Manfaat yang dapat diperoleh dari agroeduwisata adalah melestarikan sumberdaya alam, melestarikan teknologi lokal, dan meningkatkan pendapatan petani atau masyarakat sekitar lokasi wisata. Fauziah et al., (2016), mengatakan bahwa bahwa strategi pengembangan dan pengelolaan agroedutourism berkelanjutan dilakukan dapat dilakukan dengan cara: (a) membuat sinergi dengan sekolah/lembaga untuk menyusun paket agroedutourism yang sesuai dengan latar belakang wisatawan yang bervariasi, (b) melakukan kerja sama dengan petani dalam hal penggunaan sawah padi untuk lokasi agroedutourism, (c) melakukan pelatihan pertanian padi organik pada petani, (d) mengintegrasikan agroedutourism pada kegiatan Pendidikan formal. Poin Sustainable Development Goals yang dapat disasar adalah pendidikan yang berkualitas bagi petani. Untuk itu, agroeduwisata di Desa Guci dapat dijadikan wahana meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani melalui kegiatan penyuluhan pertanian. Pada umumnya sebagian besar anggota keluarga petani masih didominasi oleh lulusan SD dan SMP . Argabright et al., (2012); Yanfika et al. (2019) dan Listiana et al. (2019), penyuluhan yang dilakukan merupakan proses kreatif dan inovatif, mengenali karakteristik budaya masyarakat setempat, dapat diaplikasikan dalam praktik sehari-hari yang memunculkan dan mendukung perilaku kreatif dan inovatif. Penyuluhan juga menumbuhkan lingkungan yang mendukung di mana stakeholder terbuka untuk ide-ide baru dan memiliki kesediaan untuk melindungi risiko saat fokus pada tujuan akhir. Agroeduwisata berwawasan lingkungan Banyak manfaat yang akan diperoleh dengan membangun agroeduwisata berwawasan lingkungan di Desa Guci, di samping akan menggali potensi budidaya agro dan obyek kepariwisataan, pengembangan agroeduwisata berwawasan lingkungan juga melakukan upaya penyelamatan lingkungan hidup. Dengan mengembangkan budidaya pertanian yang aman dan ramah lingkungan berarti telah melakukan pemeliharaan ekosistem secara berkesinambungan. Mengembangkan budidaya pertanian berwawasan lingkungan akan mempertahankan permukaan tanah selalu tertutup oleh tetumbuhan, hal ini akan mencegah terjadinya erosi atau pengikisan lapisan permukaan tanah. Laju erosi yang tinggi akan menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah, sehingga tanah tidak lagi subur. Desa Guci merupakan memiliki tanah yang subur. Dalam bidang pertanian, peranan tanah sangatlah penting untuk menentukan keberhasilan dari suatu budi daya tanaman. Ini karena, tanah berfungsi sebagai media tumbuh, penyimpan unsur hara, udara, cadangan air serta sebagai rumah bagi mikroorganisme pengurai tanah. Pada dasarnya manusia sangat berperan terhadap perubahan lingkungannya. Manusia dapat menjadikan lingkungan menjadi baik dan dapat pula merubah lingkungan menjadi buruk. Banyak sekali penyebab tanah menjadi tidak subur. Salah satu sebab berkurangnya kesuburan tanah ialah terjadinya erosi. Pengembangan agroeduwisata diharapkan dapat memiliki nilai-nilai pelestarian lingkungan. Dengan banyaknya pepohonan, selain dapat menyerap kebisingan, menjerap debu, menahan laju air hujan, juga dapat menjadikan udara segar dan nyaman. Keberadaan pepohonan akan memiliki fungsi hidrologis untuk menahan cadangan air. Selain itu, pemeliharaan berbagai jenis tanaman berguna untuk melestarikan sumber plasma nutfah tanaman budidaya. Kondisi topografi Desa Guci sangat memungkinkan untuk memberikan pasokan air pada wilayah yang lebih rendah, dengan memperkaya tetumbuhan hingga vegetasinya rapat, maka Desa Guci selain berfungsi sebagai obyek wisata pertanian, akan berfungsi pula sebagai tempat penyimpanan air hujan untuk media pengolah tata air Daerah Aliran Sungai (DAS). Tetumbuhan yang tumbuh kompak menjadikan lapisan di atas tanah menjadi subur dan dapat mencegah banjir. Air hujan yang deras jatuh diatas tanah dihambat oleh tetumbuhan yang lebat, tidak segera mengalir ke sungai namun akan merembes ke dalam tanah. Melalui proses itu banjir dapat dicegah, sehingga alampun dapat mencegah sendiri terjadinya banjir. Lahan pertanian di Desa Guci terdiri atas tanah berbukit-bukit dan sedikit berlembah perlu dilindungi dengan tetumbuhan, sehingga tetap akan berfungsi sebagai penyangga air, penahan air dan resapan air. Bila kondisi ini dipertahankan, penduduk pada wilayah hilirnya akan terselamatkan dari acaman bahaya erosi dan kekeringan. Namun apabila tanah di sekitarnya dibangun bangunan masal seperti perumahan real astate, secara perlahan namun pasti penduduk pada wilayah hilirnya akan kekurangan air, bahkan akan terjadi erosi akibat terbukanya dedaunan penutup tanah dan tidak berfungsinya pengatur tata air DAS pada wilayah hulu. Dengan tetap memelihara alam di Desa Guci sebagai obyek agroeduwisata berwawasan lingkungan, yang pertama kali akan memperoleh keuntungan dalam memanfaatkan air adalah penduduk di wilayah hilir di luar Desa Guci, air bersih dapat dinikmatinya setiap saat. Demikian pula udara pun akan bertahan bersih, bila di sekitarnya banyak ditumbuhi pepohonan. Pepohonan berfungsi sebagai pompa air raksasa ciptaan Tuhan, tersusun atas akar dan daun yang dihubungkan dengan sistem saluran sederhana. Akar berfungsi menyedot air. Larutan mineral bergerak naik menuju daun melalui jaringan di bawah kulit kayu. Di daun keduanya diubah menjadi zat makanan. Makanan ini kemudian bergerak turun ke akar untuk membantu pertumbuhannya. Dedaunan juga melepas banyak uap air kembali ke atmosfer. Daun menyerap udara kotor karbon dioksida (CO2) yang terdapat di udara, seperti hasil pembakaran tungku masak, cerobong industri, hasil pembakaran lewat knalpot kendaraan sekaligus mengeluarkan udara bersih, oksigen (O). Tumbuhan hijau menggunakan fotosintesa untuk membentuk zat gula dan karbonhidrat dari CO2 dan air, dengan sinar matahari sebagai penyedia energi. Penutup Pengembangan kawasan agroeduwisata dilakukan secara ramah lingkungan, yaitu dengan menghindari atau mengurangi penggunaan bahan kimia, menggunakan pupuk organik yang diolah sendiri dari sampah yang dihasilkan dari lingkungan obyek agroeduwisata dan sekitarnya. Pengembangan agrowisata berwawasan lingkungan pada Kawasan Agrowisata Desa Guci harus melibatkan masyarakat Desa Guci dan semua stakeholder. Model kerjasama pengembangan agrowisata berwawasan lingkungan pada Kawasan Agrowisata Desa Guci diusulkan dengan sistem manajemen partisipatif melibatkan masyarakat pada obyek pengembangan dan pembentukan kelompok tani. Dalam mengembangkan agroeduwisata berwawasan lingkungan masing-masing stekeholders akan mempunyai fingsi. Pemerintah berperan sebagai motifator dan fasilitator, swasta berperan mengelola dan mengembangkan agrowisata, masyarakat terlibat dalam pengembangan budidaya agro dan kepariwisataan. Petani yang tidak terlibat langsung dalam manajemen pengembangan agrowisata dibina dan didampingi dalam kelompok tani binaan. Referensi Argabright K, McGuire J, King J. 2012. Extension Through a New Lens:Creativity and Innovation Now and for the Future. Journal of Extension 50(2). Fauziah HN, Asrisoesilaningsih E, Yanuwiadi B. 2016. Analisis Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Agroedutourism Berkelanjutan. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari (J-PAL).7(2). Gunawan, M. P. 1997. Perencanaan Pembangunan Kepariwisataan di Indonesia PJP I-PJP II, Bunga Rampai Perencanaan Pembangunan di Indonesia, penyunting Budhy Tjahjati, dkk, Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia-Grasindo, Jakarta. Kuswardani RA, Simanullang ES, Siregar NS. Kusumastuti TA, Susilo B. 2018. Perkampungan Ternal Kambing: Wahana Eduwisata dan Sentra Produksi di Pedesaan (Pendekatan Ekonomi Lingkungan Berbasis Sistem Informasi Geografis). Yogyakarta: GadjahMada University Press. Listiana, I. Efendi, I. Mutolib, A. dan Rahmat, A. 2019. The behavior of Extension Agents in Utilizing Information and Technology to Improve the Performance of Extension Agents in Lampung Province. Journal of Physics: Conference Series, 1155 (012004): 1-9. Novikarumsari, N. D., & Amanah, S. Pengembangan model Agroeduwisata sebagai Implementasi Pertanian Berkelanjutan. Suluh Pembangunan, 1, 67-71. Pamulardi, B. (2006). Pengembangan Agrowisata Berwawasan Lingkungan (Studi Kasus Desa Wisata Tingkir, Salatiga) (Doctoral dissertation, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro). Rival RS, Anugrag IS. 2011. Konsep dan Impelentasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi. (29):1. Salikin A. K. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius. Yanfika, H. Listiana, I. Mutolib, A. dan Rahmat, A. 2019. Linkages between Extension Institutions and Stakeholders in the Development of Sustainable Fisheries in Lampung Province. Journal of Physics: Conference Series, 1155 (01201):1-9. Rokhlani Penyuluh Pertanian Madya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Tegal