Lalat buah pada tanaman cabai, memang menjadi salah satu hama penting,hal ini disebabkan apabila datang suatu serangan, efeknya bisa merusak 80-90 % buah sehingga petani gagal panen. Hal ini tidak bisa dianggap sepele, karena pada umumnya setiap cabai membesar dan memerah, buah sudah terisi telur dan kemudian menetas jadi larva ulat. Petani biasanya “kecolongan“, karena tiba-tiba, buah cabainya sudah berlubang, dan secara otomatis, buahnya sudah tidak laku lagi dipasaran. Lalat buah biasanya menusuk buah dengan alat peletak telur dan menembus kulit buah kemudian meletakkan telurnya. Masa/ periode telur sekitar, 1-20 hari. Larva (ulat) berwarna putih ke kuningan memakan/merusak daging buah cabai dan di ikuti biasanya dengan masuknya bakteri dan jamur sehingga buah cabai mengalami pembusukan. Buah yang telah terserang akan rontok dan jatuh di tanah. Sedangkan Periode ulat 6-35 hari, selanjutnya larva (ulat) akan jatuh ke tanah dan masuk pada periode pupa/kepompong (10-12 hari). Imago (Serangga Dewasa) dapat bermigrasi berpindah tempat,sejauh 5-100 km, bisa kita bayangkan betapa jauhnya daya jelajah dari hama ini. Serangan hama lalat buah dapat mengakibatkan produksi dan mutu buah menjadi rendah, bahkan dapat mengakibatkan gagal panen. Jenis lalat buah yang menyerang cabai rawit ialah Bactrocera cucurbitae. Adapun masalah yang dihadapi dilapangan yaitu petani cabai merah mengalami kesulitan dalam mengatasi serangan lalat buah ini karena gejala dan kerusakan terlihat pada saat buah cabai menjelang matang atau merah. Pada tanaman cabai, seringkali ditemukan buah yang rontok dan membusuk, baik sebelum masak maupun yang sudah masak, kadang kala buah berwarna cokelat kehitaman atau agak menguning dan pada bagian tertentu dari kulit buah cabai ditemukan bintik hitam yang berukuran sangat kecil. Hal ini menandakan bahwa buah cabai tersebut telah terserang oleh hama lalat buah. Teknologi pengendalian hama lalat buah yang ramah lingkungan ialah pengendalian secara kultur teknis, pengendalian secara fisik/mekanik, pengendalian secara biologi, dan pengendalian secara kimiawi (dapat digunakan sebagai alternatif terakhir. 1. Secara kultur teknis Sanitasi lahan. Sanitasi lahan bertujuan untuk memutuskan daur hidup lalat buah, sehingga perkembangan lalat buah dapat ditekan. Sanitasi dilakukan dengan cara mengumpulkan buah yang jatuh atau busuk kemudian dimusnahkan dan dibakar atau dibenamkan di dalam tanah dengan cara membuat lobang berukuran 1 x 0,5 m atau 1 x 1 m sampah/serasah di sekitar tanaman juga harus dikumpulkan dan dibakar atau dipendam dalam tanah. Pastikan ke dalam tanah tidak memungkinkan larva dapat berkembang menjadi pupa. Pupa yang ada dalam tanah dapat dimusnahkan dengan cara membalikkan tanah di sekitar tanaman. Gunakan perangkap lem kuning atau lem tikus bening yang dicampur dengan sedikit metyl eugenol untuk menangkap lalat buah dewasa. Pengasapan dengan membakar sampah kering, dan dibagian atasnya ditutupi sampah basah, agar dapat dihasilkan asap dan tidak sampai terbakar. Kepulan asap yang menyebar ke seluruh bagian tanaman akan mengusir keberadaan hama lalat buah. Pemasangan mulsa plastik dapat menekan larva berubah menjadi pupa dan akhirnya mengurangi populasi serangga dewasa. 2. Pengendalian secara fisik/mekanis. Gunakan perangkap atraktan metyl eugenol/cue lure yang dipasang atau digantung di dalam perangkap yang terbuat dari bekas air mineral untuk menangkap lalat jantan. Bagian dasar botol diberi sedikit air lalat buah mati terendam air. Sebaiknya perangkap dipasang dibagian luar lahan atau di bagian pinggir pertanaman, hal ini bertujuan agar lalat tidak terkumpul di tengah pertanaman. 3. Pengendalian secara biologi. Pengendalian lalat buah secara biologi dapat dilakukan dengan cara menghasilkan lalat buah jantan mandul. Teknik pengendalian jantan mandul berhasil mengendalikan hama lalat buah di Jepang. Dengan melepaskan serangga jantan yang sudah mandul, maka telur yang dihasilkan dari perkawinan dengan lalat betina menjadi steril atau tidak bisa menghasilkan keturunan, dan akhirnya populasi akan turun dan musnah. Memanfaatkan musuh alami baik parasitoid, predator atau patogen namun di Indonesia belum banyak diterapkan. Jenis parasitoid yang banyak ditemukan adalah Biosteres sp. dan Opius sp (Braconidae). Predator lalat buah yang umum adalah semut, laba-laba, kumbang stafilinid dan cocopet (Dermaptera). Jenis patogen yang banyak menyerang pupa lalat buah adalah Beauveria sp. 4. Pengendalian secara kimia Dapat dilakukan dengan cara pengabutan/pengasapan (fogging). Caranya menggunakan alat pengabutan panas (fogger) dan pestisida yang keluar berbentuk kabut/asap karena ukuran dropletnya sangat kecil. Pencampuran insektisida dengan zat penarik (atraktan) maupun food attraktan (tertarik dengan makanan). Food attraktan yang biasanya digunakan adalah berupa protein hidrolisa yang berasal dari limbah bir dan diberi insektisida spinosad kemudian disemprotkan pada tanaman. Umpan beracun akan dimakan oleh lalat buah jantan atau betina yang akhirnya dapat membunuh lalat buah.