Loading...

Pengendalian Hama Pada Duku

Pengendalian Hama Pada Duku
Pengendalian hama pada tanaman duku,sebaiknya mengikuti kaidah budidaya tanaman duku yang baik dan benar,sehingga tanaman duku yang ditanam tidak berdampak kepada keamanan produk,kebersihan produk,kelestarian lingkungan kebun dan sumberdaya alam. Dengan pengendalian hama agar diperoleh tanaman duku menghasilkan buah duku yang berkualitas baik dan berbuah maksimal. Sebelum melakukan pengendalian hama pada tanaman duku, kenali dulu hama-hama pada tanaman duku. Ada beberapa hama yang menyerang pada tanaman duku, sebagai berikut : Lalat Buah (Dacus sp). Gejala pada buah duku yang diserang hama ini akan tampak noda-noda hitam seperti bekas tusukan jarum. Bila buah duku dibelah akan terlihat larva yang menggerogoti daging buah , akibatnya buah duku berwarna coklat kehitaman. Selanjutnya buah akan busuk dan rontok sebelum matang. Lalat buah ini menyerang sejak buah masih muda. Hama menyerang dengan cara menusukkan ujung perutnya dikulit buah dan menimbulkan bekas yang berwarna hitam. Dengan cara seperti itu telur lalat yang berukuran kurang lebih 1 mm telah masuk kedalam daging buah. Sekitar dua atau tiga hari kemudian, telur lalat buah menetas dan menjadi larva putih yang berukuran sekitar 33 mm. Larva tersebut memakan daging buah dan hidup dalam daging buah selama 18 hari. Setelah buah duku rontok,larva akan masuk ke tanah dan berubah menjadi pupa. Seminggu kemudian pupa akan menjadi lalat buah dan selanjutnya mulai dengan siklus hidup yang baru. Pengendalian hama ini dapat dicegah dengan melakukan pembungkusan buah duku dan pengasapan. Buah yang berjatuhan di tanah harus dibongkar,karena akan menjadi sarang serangga. Tanah dibawah pohon duku harus dibersihkan dari rerumputan. Kutu Putih (Pseudococcus leplelleyi). Gejala yang ditimbulkan serangan hama kutu ini akan tampak kuncup daun dan daun muda yang terserang berwarna putih. Kutu putih berbentuk elips,panjangnya kurang lebih 3 mm dan sepanjang tepi badannya terdapat tonjolan seperti lilin yang jumlahnya ada 14-18 pasang. Tonjolan ini menghasilkan sekresi lilin berwarna putih dalam bentuk tepung dan berfungsi untuk melindungi tubuhnya. Untuk pengendalian kutu ini dapat dilakukan dengan penyemprotan Athio 33 EC, Azodrin 60 WSC, Sevin 85 S, dan Perfekthion. Kumbang Penggerek Buah (Curculio sp). Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini pada buah yang sudah matang tampak berlubang-lubang,akhirnya buah duku akan membusuk bila kena air hujan. Hama kumbang ini biasanya disebut juga kumbang moncong,karena mulutnya yang panjang seperti moncong. Kumbang penggerek buah memiliki tubuh berwarna gelap dan tidak berbulu. Sebelum bertelur kumbang ini menggerogoti buah duku untuk membuat lubang dengan moncongnya. Kemudian bertelur di dalam buah sambil terus menggerogoti buah sampai habis. Pencegahan serangan kumbang penggerek buah dapat dilakukan dengan pemberongsongan buah duku atau bisa juga dengan pengasapan secara rutin. Pemberongsongan buah dilakukan untuk menghindari buah dari gangguan hama,sehingga buah yang dihasilkan tidak berkurang dan tetap berkualitas baik. Pemberongsongan dari bambu atau kantong plastik. Waktu pemberongsongan yang baik ialah saat malai bunga menjadi buah atau saat buah mulai membesar. Untuk pengendalian serangan kumbang ini boleh juga disemprot dengan Diazinon selama beberapa menit. Kutu Perisai (Asterolecanitum sp). Gejalanya tampak dari perubahan bentuk tanaman. Daun yang terserang mengecil sehingga bentuk tanamannya menyerupai sapu. Hama kutu perisai memiliki ukuran sebesar kepala jarum dan tubuhnya menyerupai sidik yang datar. Berdasarkan taksonominya kutu ini termasuk dalam famili Asterocelaniidae. Serangan kutu ini dimulai dari celah-celah kulit, kemudian masuk ke dalam batang, dan selanjutnya mengakibatkan kerusakan pada batang. Pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan insektisida yang mengandung senyawa organofosfat dan bersifat sistemik, misalnya Phosfen dan Phosdrin. Kelelawar. Buah duku yang diincar kelelawar adalah buah duku yang siap panen. Untuk mencegah gangguan kelelawar dengan membungkus buah duku sejak buah masih berukuran kecil. Sumardi Sumber : Ditjen Hortikultura.