Loading...

PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN SAGU

PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN SAGU
Hama merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan budidaya tanaman sagu. Serangan hama tanaman sagu umumnya belum dianggap serius tetapi berpotensi untuk menurunkan hasil. Hama adalah organisme yang dianggap merugikan, karena menyebabkan kerusakan pada tanaman. Ada beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman sagu, yaitu: Hama kumbang Oryctes Hama tersebut dapat dikendalikan secara terpadu melalui tindakan sanitasi, pemanfaatan musuh alami seperti Baculovirus oryctes dan Metarhizium anisopliae, penggunaan feromon, kapur barus, dan serbuk mimba. Sanitasi : dilakukan dengan cara menebang tanaman yang sudah mati kemudian kayunya dimanfaatkan untuk kayu bangunan, perabot rumah tangga atau kayu bakar atau kayu dimusnahkan. Penggunaan Baculovirus oryctes :untuk mengendalikan populasi hama Oryctes di lapangan. Kumbang Oryctesyang terinfeksi Baculovirus sudah tersedia di laboratorium BALIT PALMA. Untuk pertanaman sagu seluas 1 ha cukup dilepas 5 – 10 ekor terinfeksi Baculovirus. Pemanfaatan feromon : kumbang Oryctes diperangkap menggunakan pipa PVC yang bagian bawahnya ditutup dengan sepotong kayu. Dua lubang dibuat pada jarak 26 cm dari bagian atas pipa, dan 130 cm dari bagian bawah pipa. Lubang masuk dibuat dengan ukuran lebar 20 cm dan tinggi 10 cm untuk jalan masuk Oryctes. Feromon sintetik digantung lubang masuk tersebut. Setiap perangkap dimasukkan 2 kg serbuk gergaji dan Dua – tiga feromon dibutuhkan untuk setiap hektar pertanaman sagu. Pemanfaatan kanfer (naftalene balls) : Kanfer digunakan sebagai penolak (repellen) untuk hama Oryctes. Pada tanaman sagu digunakan sekitar 3,5 g kanfer per pohon, yang diletakkan pada tiga pangkal pelepah dibagian pucuk. Aplikasi diulang setiap 45 hari. Pemanfaatan serbuk mimba (powdered neem oil cake) : Serbuk mimba (250 g) dicampur dengan 250 g pasir kemudian diaplikasikan pada pucuk sagu yang menjadi tempat masuk Aplikasi dilakukan pada 3-4 pangkal pelepah pada bagian dengan interval 45 hari. Hama Sexava Usaha pengendalian hama Sexava telah dilakukan secara mekanis, kultur teknis, hayati maupun secara kimia tetapi hingga sekarang belum diperoleh hasil yang memuaskan. Beberapa teknik pengendalian yang dapat diaplikasikan, yaitu: Pelepasan parasitoid telur Leefmansia bicolor : keberhasilan parasitoid telur bicolor untuk menginfeksi telur, di laboratorium bervariasi dari 51-76,75%. Penggunaan Bioinsektisida Metabron: Bioinsektisida Metabron dengan bahan aktif cendawan Metarhizium anisopliae var. anisopliae dapat menyebabkan mortalitas nimfa Sexava 90,25% dan imago 86,26%. Bioinsektisida ini lebih diutamakan untuk mengendalikan hama Sexava yang menyerang tanaman muda berumur < 5 tahun atau tanaman inang lain seperti pada pisang atau pandan. Penggunaan lem serangga: Pemanfaatan lem serangga dipasang pada batang sagu memberikan harapan baru dalam pengendalian hama Sexava. Rata-rata jumlah nimfa Sexava yang terperangkap 1,46 individu, dan jika daya rekat dapat bertahan 3 bulan maka jumlah nimfa yang tertangkap yaitu 131 individu/pohon. Cara ini dapat menekan populasi hama di lapangan apabila dilakukan secara berkesinambungan’ Perangkap Sexava tipe BALIT PALMA : perangkap ini dapat menangkap 0.9 - 6.6 nimfa/pohon atau rata-rata 3.04 nimfa/pohon/hari dan 0.04 imago/pohon/hari. Jika perangkap ini diaplikasikan dalam satu areal yang luas maka diharapkan dapat menekan populasi sampai pada batas tidak merugikan. Sanitasi Kebun dan Penanaman Tanaman Sela : Sexava meletakkan telur di tanah sekitar pertanaman. Sanitasi atau pengolahan tanah, secara tidak langsung dapat mengendalikan populasi hama ini karena dapat merusak telur-telur yang ada di sekitar perakaran. Usaha diversifikasi dengan menanam tanaman tahunan lainnya seperti pala, cengkeh, kopi, dan vanili ataupun tanaman setahun diantara tanaman sagu merupakan salah satu alternatif yang dapat diandalkan untuk mengatasi serangan hama Sexava dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Pengendalian Kimia: cara ini dilakukan apabila perlu. Insektisida sistemik yang dianjurkan yaitu yang berbahan aktif dimehipo. Aplikasi dapat dilakukan melalui infus akar untuk tanaman muda dan injeksi batang untuk tanaman tua. Dosis yang digunakan yaitu 10 ml/pohon, aplikasi 2 kali setahun dengan interval 3 Injeksi batang dengan menggunakan ketiga jenis insektisida sistemik tersebut dapat menyebabkan mortalitas Sexava 100%. Arthona catoxantha Hama ini dapat menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman sagu di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Pengendalian dapat dilakukan dengan: Pengendalian Hayati: Salah satu parasitoid utama yaitu Apanteles artonae yang mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mencari inang walaupun populasi rendah. Parasitoid lain yang potensial yaitu Bessa remota. Pengendalian Kimiawi: Dianjurkan menggunakan insektisida sistemik apabila terdapat lebih dari 3 butir telur dan larva muda per anak daun yang diamati. Kumbang Sagu (Rhynchophorus ferrugineus) Kumbang dewasa 3-4 cm, warna merah berkarat, mulut seperti belalai. Ciri dari serangan hama ini adalah serangan sekunder setelah kumbang oryctes biasanya meletakkan telur di luka bekas oryctes. Bila serangan terjadi pada titik tumbuh dapat menyebabkan kematian pohon. Sanitasi: serangan kumbang sagu seringkali merupakan kelanjutan serangan O. rhinoceros, oleh karena itu serangan O. rhinoceros harus dihindari. Membersihkan kebun dan memotong serta memusnahkan pohon kelapa yang sudah mati agar tidak menjadi sumber infeksi. Pemanfaatan musuh alami: Parasitoid larva (Scolia erratica), Nematoda entomopatogen pada stadia larva dan imago (Heterorhabditis indicus, Steinernema riobrave, dan carpocapsae) Menggunakan perangkap feromon Disusun oleh Rahmawati BBP2TP Kementan Sumber: Permentan RI No. 134/Permentan/OT.140/12/2013 tentang Pedoman Budidaya Sagu (Metroxylon sp) Yang Baik http://disnakbun.banjarkab.go.id/teknik-budidaya-tanaman-sagu/