Loading...

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK POLONG TANAMAN KEDELAI

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK POLONG TANAMAN KEDELAI
Di Indonesia, hama penggerek polong kedelai Etiella spp. (Etiella zinckenella dan Etiella hopsoni) dapat menimbulkan kerusakan polong yang sangat parah. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 80%. Lebih dari itu, jika tidak ada tindakan pengendalian bisa mengakibatkan puso. Sebaran hama ini terdapat hampir di seluruh provinsi dan merupakan salah satu hama utama di daerah sentra produksi kedelai. Hasil survei yang telah dilakukan menyebutkan bahwa hama ini ditemukan di 20 provinsi di Indonesia. Etiella hopsoni banyak terdapat di wilayah Sumatera, serta beberapa tempat di Jawa dan Sulawesi. Sedangkan E. zinckenella tersebar luas di seluruh Indonesia. Berkaitan dengan itu, diduga kepadatan populasi Etiella spp. cenderung meningkat bila pertanaman inangnya semakin luas. Pada dasarnya, pertumbuhan dan perkembangan serangga hama di alam salah satunya dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan. Menurut hasil penelitian Prof. Dr. Marwoto, hama Larva Etiellaspp. lebih suka memakan biji muda. Biji tersebut digerek habis sama sekali atau hanya tersisa sedikit. Hal lainnya yang bisa dicermati adalah dalam satu polong jarang ditemukan lebih dari satu ekor larva. Larva lebih senang hidup sendiri dalam polong, jika terjadi dalam satu polong ada lebih dari satu maka akan terjadi kompetisi yang akhirnya larva yang lemah akan keluar dan pindah ke polong lain. Serangan pada polong muda ini dapat mengakibatkan kerontokan polong. Sebaliknya, serangan pada polong tua dapat menurunkan kuantitas dan kualitas biji kedelai. Secara fisik kedua hama kedelai ini memiliki perbedaan. Ngengat E. zinckenella berwarna keabu-abuan dan mempunyai garis putih pada sayap depan sedangkan E. hobsoni tidak mempunyai garis putih pada sayapnya. Saat bertelur, telur diletakkan berkelompok di bagian bawah daun, kelopak bunga atau pada polong. Tiap kelompok banyaknya 4-15 butir. Telur tersebut berbentuk lonjong dengan diameter 0,6 mm. Pada saat diletakkan telur berwarna putih mengilap, lalu berubah menjadi kemerahan. Ketika akan menetas warna menjadi jingga. Setelah 3-4 hari, telur menetas dan keluar ulat. Setelah instar 2, ulat hidup di luar biji. Dalam satu polong sering dijumpai lebih dari 1 ekor ulat. Ulat instar akhir mempunyai panjang 13-15 mm dengan lebar 2-3 mm. Proses berikutnya, kepompong dibentuk dalam tanah dengan terlebih dulu membuat sel dari tanah. Ke­pompong berwarna coklat dengan panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm. Setelah 9-15 hari, kepompong berubah menjadi ngengat. Tanda serangan berupa lubang gerek berbentuk bundar pada kulit polong. Apabila terdapat dua lubang gerek pada polong tersebut berarti ulat sudah meninggalkan polong. Pengendalian Hama Penggerek Polong Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan berlandaskan pada strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Prinsip operasional yang digunakan dalam PHT antara lain: Budidaya tanaman sehat. Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Untuk itu, penggunaan paket-paket teknologi produksi dalam praktik-praktik agronomis yang dilaksanakan harus diarahkan kepada terwujudnya tanaman yang sehat. Pelestarian musuh alami. Musuh alami (parasit, predator dan patogen serangga) merupakan faktor pengendali hama penting yang perlu dilestarikan dan dikelola agar mampu berperan secara maksimum dalam pengaturan populasi hama di lapang. Pemantauan ekosistem secara terpadu. Pemantauan ekosistem pertanaman yang intensif secara rutin oleh petani merupakan dasar analisis ekosistem untuk pengambilan keputusan dan melakukan tindakan yang diperlukan. Petani sebagai ahli PHT. Petani sebagai pengambil keputusan dan keterampilan dalam menganalisis ekosistem serta mampu menetapkan keputusan pengendalian hama secara tepat sesuai dengan dasar PHT.