Loading...

PENGENDALIAN HAMA PENGHISAP DAN PEMAKAN DAUN KACANG TANAH

PENGENDALIAN HAMA PENGHISAP DAN PEMAKAN DAUN KACANG TANAH
Salah satu kendala dan pembatas dalam meningkatkan produktivitas kacang tanah adalah adanya serangan hama. Akibat serangan hama, dapat menurunkan hasil hingga 80% bahkan mengalami gagal panen. Beberapa penyebab terjadinya serangan hama dan penyakit pada tanaman kacang tanah diantaranya disebabkan oleh: (1) penanaman dilakukan pada musim kemarau; (2) sistem tanam tidak serampak; (3) cuaca panas dapat pendorong peningkatan populasi hama; dan (4) cara aplikasi insektisida yang masih belum sempurna. Sejak tanaman tumbuh hingga menjelang panen, setidaknya ada 20 spesies hama pada tanaman kacang tanah. Berdasarkan bagian tanaman yang diserang, hama tanaman kacang tanah dapat dikelompokkan menjadi: (1) hama penghisap daun; (2) hama pemakan daun; (3) hama polong; dan (4) hama pemakan biji. Pada tulisan ini akan difokuskan pada bagimana cara pengendalian hama penghisap dan pemakan daun. Hama Penghisap Daun 1. Aphis craccivora Koch. Hama Aphis menyukai bagian-bagian muda dari tanaman inangnya. Pucuk tanaman merupakan bagian utama tanaman yang biasa diserang Aphis. Selain memakan pucuk tanaman, hama aphis juga merupakan vektor (pembawa) berbagai penyakit virus kacang-kacangan. Hama apihis berkembang pada cuaca yang panas pada musim kemarau. Pengendalian hama aphis dapat dilakukan dengan melakukan penanaman serempak, dan aplikasi insektisida apabila kerusakan daun telah mencapai 12,5% (mencapai ambang kendali). 2. Kutu Kebul (Bemisia tabaci Gennadius)Serangga kutu kebul menyerang tanaman dengan cara menghisap daun. Cairan yang dikeluarkan kutu kebul menghasilkan embun madu yang dapat menjadi media tumbuh cendawan jelaga. Cendawan jelaga menyebabkan tanaman sering tampak berwarna hitam. Kutu kebul juga merupakan serangga penular penyakit pada tanaman kacang-kacangan. Selain menyerang tanaman, hama kutu kebul juga menyerang tanaman dari famili Compositae, Cucurbitaceae, Cruciferae, Solanaceae, dan Leguminoceae.Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan dengan melakukan tanam serempak, menggunakan varietas tahan, dan aplikasi insektisida bila serangan sudah mencapai ambang kendali (12,5% tingkat kerusakan). 3. Tungau Merah (Tetranychus cinnabarius Biosduval)Tungau menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan daun. Pada daun yang terserang akan dijumpai jaringan benang halus yang digunakan oleh tungau dewasa untuk berpindah ke daun lain yang masih segar dengan cara bergantung pada benang. Akibat serangan tungau, dapat menyebabkan daun berwarna kekuning-kuningan. Selain kacang tanah, tungau merah juga menyerang, kacang hijau, kacang tunggak, kacang panjang, ubikayu, pepaya dan karet.Pengendalian yang dapat dilakukan dengan melakukan tanam serempak, pemantauan secara rutin apabila populasi tinggi semprot dengan Akarisida. 4. Thrips (Scirtothrips dorsalis Hood)Hama thrips menyerang tanaman pada fase nimfa dan serangga dewasa. Hama ini menyerang dengan cara menghisap daun. Serangan berat hama ini menyebabkan daun, khususnya daun muda menjadi keriting, dan pada serangan berat dapat menyebabkan gagal panen.Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan melakukan tanam serempak, memajukan waktu tanam, tumpang sari dengan jagung, dan aplikasi insektisida efektif. 5. Wereng Empoasca spp.Hama wereng Empoasca juga dikenal dengan nama sikada. Hama ini menyerang pada musim kemarau. Nimfa dan serangga dewasa mengisap cairan daun muda dari permukaan bawah daun. Kerusakan pada daun muda, urat daun menjadi putih. Serangan pada tanaman muda menjadikan tanaman layu. Pada tanaman yang lebih tua, ujung daun muda yang terserang berwarna kuning membentuk huruf V. Kacang tanah yang terserang sikada tampak lebih kuning daripada tanaman sehat. kehilangan hasil akibat serangan sikada dapat mencapai 40%. Pengendalian dapat dilakukan melalui: tanam serempak tidak lebih dari 10 hari, memajukan waktu tanam, sistem tanam secara tumpang sari dengan jagung, dan aplikasi insektisida efektif. Hama Pemakan Daun 1. Ulat grayak (Spodoptera litura Fabricus)Hama ulat grayak aktif makan pada malam hari, dengan menyerang lapisan daun atas dan tulang daun. Selain memakan daun, ulat dewasa memakan polong muda dan tulang daun muda, sedang pada daun yang tua. Hama ini hanya menyisakan tulang daun. Selain kacang tanah, ulat grayak juga menyerang jagung, kentang, tembakau, kacang hijau, bayam dan kubis.Pengendalian dapat dilakukan melalui tanam serempak, pemantauan secara rutin, serta lakukan penyemprotan insektisida apabila telah mencapai ambang kendali (2 ekor/ 8 tanaman). 2. Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esper)Ulat makan daun dari arah pinggir. Serangan sering terjadi pada saat tanaman berada pada fase pengisian polong. Serangan berat pada daun mengakibatkan hanya tulang-tulang daun yang tersisa. Hama ulat jengkal juga menyerang tanaman jagung, kentang, tembakau dan kacang-kacangan lain.Pengendalian dapat dilakukan dengan tanam serempak, penyemprotan insektisida apabila serangan telah mencapai ambang kendali (kerusakan daun 12,5%). 3. Ulat penggulung daunSerangan hama ini terlihat dengan adanya daun-daun yang tergulung menjadi satu. Bila gulungan dibuka, akan dijumpai ulat atau kotorannya yang berwarna coklat hitam. Selain menyerang kacang tanah, ulat ini juga menyerang kacang hijau, kacang tunggak, kacang panjang, dan Calopogonium sp.Pengendalian dapat dilakukan dengan tanam serempak, pemantauan secara rutin, apabila populasi tinggi semprot dengan insektisida. 4. Ulat buah HelicoverpaCiri khusus cara makan ulat Helicoverpa adalah kepala dan sebagian tubuhnya masuk ke dalam polong. Selain makan polong, ulat juga menyerang daun dan bunga. Serangga hama ini mempunyai banyak tanaman inang: kacang hijau, kacang buncis, kacang tanah, gude, kentang, tomat, kapas, jagung, kentang, kubis, bawang merah, apel, jarak, tembakau, sorgum, jeruk dan bunga matahari.Pengendalian dapat dilakukan dengan tanam serempak, penyemprotan insektisida bila telah mencapai ambang kendali (kerusakan daun 12,5%). 5. Penggorok daunHama penggorok daun menyerang tanaman pada fase larva. Telur menetas dan larva muda langsung menggerek/mengorok di dalam daun di antara epidermis atas dan bawah. Gejala serangan dapat diamati dengan adanya perubahan warna daun menjadi kecoklatan seperti kering. Serangan berat di lapangan, terlihat daun kacang tanah seperti terbakar. Pertumbuhan dan perkembangan hama ini dipicu dengan keadaan musim yang kering.Langkah pengendalian dengan melakukan pemantauan secara rutin, bila diketahui serangan mencapai 12,5% lakukan penyemprotan dengan insektisida sistemik. Sumber: Marwoto. 2015. Hama Utama Kacang Tanah dan Stragtegi Pengendaliannya. Dalam Astanto, et al. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Badan Litbang Pertanian. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com