Loading...

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT PADA TANAMAN PISANG HIAS (HELICONIA)

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT PADA TANAMAN PISANG HIAS (HELICONIA)
Sasaran produksi heliconia tahun 2014 yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian cq. Direktorat Jenderal Hortikultura yaitu sebesar 7.802.843 tangkai. Jumlah ini meningkat dibandingkan sasaran tahun 2013 sebesar 7.327.302 tangkai. Salah satu masalah yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman pisang hias (heliconia), yaitu terjadinya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), baik berupa hama maupun penyakit. Mengingat petani diharapkan dapat berproduksi secara efektif dan efisien guna menghasilkan produk yang ramah lingkungan, maka pengendalian OPT tersebut perlu dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip pengendalian Hama Penyakit Terpadu (PHT), yaitu: 1) memonitor dan mencatat keberadaan OPT; 2) mengaplikasikan penggunaan pestisida hanya bila serangan mencapai tingkat yang menyebabkan kerugian secara ekonomi; 3) mengendalikan OPT dengan memanfaatkan musuh alaminya; dan 4) mengaplikasikan bahan pengendalian OPT dengan tepat waktu, tepat dosis dan tepat cara. Dalam konsep PHT, tindakan preemtif/antisipatif yang dilakukan melalui budidaya tanaman secara sehat didahulukan, sebelum tindakan responsif. Di bawah ini diuraikan secara singkat mengenai spesifikasi beberapa hama dan penyakit penting pada heliconia, gejala yang ditimbulkan dan cara pengendaliannya. Pengendalian Hama 1. Kumbang (Scymnus roefkei De FL) a. Spesifikasi Kumbang ini berukuran 0,3 - 0,5 cm berwarna hitam mengkilap dengan bagian punggung kemerah-merahan, hidup bergerombol pada permukaan bawah daun dan batang. Jika terganggu, kumbang mudah berpindah tempat, sehingga menyulitkan dalam pengendaliannya. Namun demikian, selain sebagai pengganggu, kumbang ini juga berfungsi sebagai predator bagi hama kutu putih. b. Gejala Luka bekas tusukan kumbang dapat menimbulkan bercak-bercak berwarna cokelat, dan jaringan tanaman dapat mengering akibat cairan tanaman yang dihisapnya. c. Pengendalian Pengendalian dilakukan dengan lebih memperhatikan aspek sanitasi kebun, antara lain dengan memotong daun dan batang tua yang tidak produktif, agar sinar matahari dapat menembus ke semua ruang; mengatur jarak tanam; melakukan penjarangan tanaman; dan bila sudah sangat mengganggu dapat dilakukan penyemprotan insektisida sistemik yang dianjurkan oleh Menteri Pertanian, dengan konsentrasi 0,1 - 0,2 %. 2. Semut a. Spesifikasi Semut bersimbiosis dengan kutu daun dan kutu dompolan putih. b. Gejala Semut yang bergerombol pada bagian bawah permukaan daun dipicu oleh terdapatnya madu sisa ekskresi kutu dompolan putih yang berceceran di daun, sehingga menumbuhkan cendawan yang mengganggu proses fotosintesis. Apabila cendawan tumbuh pada bunga, maka bunga menjadi kotor dan kualitasnya turun. c. Pengendalian Pengendalian dilakukan dengan membersihkan daun-daun tua yang berpotensi menjadi sarang semut; melalukan penjarangan tanaman, pembersihan gulma dan tanaman inang di sekitar tanaman; dan membongkar sarang semut pada daun serta tanah. Apabila sudah sangat mengganggu, dapat dilakukan penaburan insektisida curater sebanyak 1/2 sendok teh ke dalam tanah atau penyemprotan insektisida yang dianjurkan oleh Menteri Pertanian, dengan konsentrasi 0,2 %. 3. Kutu Dompolan Putih (Pseudococcus lilacinus CKLL) a. Spesifikasi Kutu ini bersifat poliphage dan hidup bergerombol pada bagian bawah permukaaan daun di dekat pelepah, tangkai bunga dan mahkota bunga. Bentuknya hampir elips dengan panjang sekitar 3 mm. Seluruh badannya ditutup lapisan massa berwarna putih. Telurnya mencapai 500 butir dan menetas setelah berumur sekitar 20 hari. b. Gejala Kutu menyerang dengan cara mengisap cairan tanaman dan dapat menularkan virus. Serangannya mengakibatkan timbulnya bintik-bintik cokelat karena adanya luka bekas tusukan yang ditumbuhi jamur, serta meninggalkan madu yang dapat memicu datangnya semut. Serangan berat menyebabkan timbulnya bercak pada daun dan nekrosis. c. Pengendalian Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis dengan pembersihan daun yang terserang, pembersihan tanaman tua, pembersihan tanaman inang, dan pengaturan jarak tanam. Secara biologis dapat digunakan pula musuh alami, seperti Coccophagus gurneyi Comp, dan lembing (Symnus apiciflavus Mits) sebagai predator. Apabila sudah sangat mengganggu, dapat dilakukan penyemprotan insektisida yang dianjurkan oleh Menteri Pertanian, dengan konsentrasi 0,2 %, yang diulang selama hama masih menggangguda. 4. Tungau Merah (Tetranichus telarius) a. Spesifikasi Tungau ini mirip laba-laba, berwarna kuning dan memiliki bercak pada bagian punggungnya, memiliki siklus hidup sekitar 15 hari, berukuran sekitar 1 mm, dan berwarna merah jambu pada saat larva. Telur berbentuk bulat berwarna merah, biasanya diletakkan pada daun dan tangkai daun yang sukulen. Perkembangan dari telur menjadi dewasa berlangsung 12 hari untuk betina dan 11 hari untuk jantan, pada kelembaban 50 - 70 %. b. Gejala Perkembangan tungau ini sangat cepat, terutama pada saat udara panas dan kering, dan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan secara mendadak. Penyebarannya terjadi melalui angin, biji, alat pertanian dan manusia. Tungau sering berada di bawah daun. Akibat serangan tungau ini, daun tanaman berubah warna menjadi merah seperti karat, serta timbul bintik merah hingga kecoklatan pada permukan bawah atau atas daun. Pada serangan berat, tepian daun mengeriting dan menggulung, sampai akhirnya layu dan gugur. Luka bekas tusukan kumbang dapat menimbulkan bercak-bercak berwarna cokelat, dan jaringan tanaman dapat mengering akibat cairan tanaman yang dihisapnya. c. Pengendalian Pengendalian dilakukan dengan pergiliran serta pengaturan waktu tanam, pengurangan tanaman inang dan sanitasi kebun. Apabila tingkat serangan sudah cukup berat, dapat dilakukan penyemprotan insektisida atau akarisida yang dianjurkan oleh Menteri Pertanian, dengan konsentrasi 0,1 - 0,2 %. 5. Ulat Kantong (Mahasena corbetti Tams.) a. Spesifikasi Ulat ini hidup dalam kantong yang terbuat dari potongan daun. Saat bergerak, ulat hanya mengeluarkan kepala dan sebagian toraknya. Telur bisa lebih dari 3.000 butir. Larva berwarna merah kecoklatan. Panjang ulat antara 3 - 4 cm. b. Gejala Ulat memakan daun, sehingga daun robek dan bolong-bolong bekas gigitan. Akibat serangan ulat ini tampak banyak ulat bergantungan pada bagian bawah permukaan daun, yang terbungkus oleh serpihan daun bekas gigitannya. c. Pengendalian Pengendalian dilakukan dengan membersihkan daun-daun tua tempat bertelurna kupu-kupu, penggunan musuh alami, yaitu lalat dan lebah, antara lain Nealsomnya rufella Bessi. Apabila sudah sangat mengganggu, dapat dilakukan penyemprotan insektisida sistemik yang dianjurkan oleh oleh Menteri Pertanian, dengan konsentrasi 0,2 %. Pengendalian Penyakit Penyakit yang menonjol pada heliconia antara lain yaitu karat daun yang disebabkan oleh jamur Puccinia kuehnii. Penyakit timbul pada daerah-daerah yang memiliki kelembaban tinggi, terutama dengan penanaman yang rapat. Gejala karat daun ini ditandai dengan terdapatnya garis-garis berwarna merah kecokelatan terutama pada permukaan daun bagian bawah. Pada serangan berat, hampir seluruh permukaan daun dipenuhi karat, sehingga menganggu proses fotosintesis, bahkan dapat menyebabkan daun menjadi layu dan kering. Pengendalian dilakukan secara kimiawi pada saat serangan masih ringan dengan menggunakan fungisida yang dianjurkan oleh oleh Menteri Pertanian, dengan konsentrasi 0,2 %. Diana Prasastyawati, Juli 2013 Sumber: 1. Anonim. 2010. SOP Standar Operasional Prosedur Budidaya Heliconia. Jakarta: Direktorat Budidaya Tanaman Hias, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian 2. Anonim. 2006. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Tanaman Hias Non Anggrek. Jakarta: Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian