Loading...

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU KACANG HIJAU BERDASARKAN FASE TUMBUH TANAMAN (FASE PEMBENTUKAN POLONG DAN BIJI)

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU KACANG HIJAU BERDASARKAN FASE TUMBUH TANAMAN  (FASE PEMBENTUKAN POLONG DAN BIJI)
Pada setiap fase tumbuh, tanaman memiliki ciri yang khas, baik dalam hal kondisi pertumbuhan, maupun hubungannya dengan jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), khususnya hama dan penyakit (HPT) yang menyerang. Sering dijumpai OPT tertentu pada suatu fase tumbuh tertentu. Agar tidak menimbulkan kerugian, perlu dilakukan upaya pengendalian HPT. Tulisan ini akan mencoba memberikan informasi bagaimana mengendalikan hama dan penyakit tanaman kacang hijau berdasarkan fase pertumbuhannya. Secara spesifik pada tulisan ini akan disampaikan tentang cara mengendalikan hama dan penyakit pada fase pembentukan polong dan biji (fase pertumbuhan dan pemasakan polong dan biji). Fase Pertumbuhan Polong dan Biji (51-60 hst) 1. Karakteristik Pada fase ini berlangsung pengisian biji atau pemasakan polong,tergantung varietas yang ditanam dan hama-hama perusak polong masih mungkin merusak. Dalam kondisi tertentu penyakit bercak daun Cercospora sp. embun tepung Erysiphe poligoni dan penyakit kudis Elsinoe iwatae masih mungkin dapat berkembang. 2. Budidaya dan pengelolaan ekosistem Kebutuhan air pada fase pengisian polong dan biji mulai berkurang. Tetapi untuk varietas yang berumur dalam masih memerlukan air lebih banyak, sehingga apabila memungkinkan dapat diairi sesuai kebutuhan. 3. Pengamatan, analisis ekosistem dan pengambilan keputusan • Pengamatan Jenis OPT yang perlu diwaspadai pada fase ini adalah hama ulat grayak, ulat jengkal, penggerek polong (M. testulalis), bercak daun Cercospora sp., embun tepung dan penyakit kudis. • Analisis ekosistem dan pengambilan keputusan Pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan mengamati dan menganalisis kondisi ekosistem yang ada yaitu: ? Apabila ditemukan ulat grayak dan populasinya rendah, pengendaliannya dilakukan dengan cara pengumpulan kelompok telur, ulat instar 1 larva dewasa (instar 4-6). ? Apabila populasinya tinggi dan atau kerusakan daun melampaui ambang pengendalian (? 180 instar 2/10 rumpun, ? 120 instar 3/10 rumpun atau ? 12,5% daun rusak) dapat digunakan insektisida efektif dan aman bagi manusia dan lingkungan. ? Apabila kepadatan populasi ulat jengkal rendah dapat dikendalikan secara mekanis, yaitu dengan pengumpulan larva dewasa. ? Apabila populasi ulat jengkal tinggi dan atau kerusakan daun melampaui ambang pengendalian (? 200 instar 1/10 rumpun, ? 120 instar 2/10 rumpun atau > instar 3/10 rumpun atau 12,5% polong rusak) dapat digunakan insektisida efektif dan aman bagi manusia dan lingkungan. ? Apabila populasi penggerek polong (penggugur bunga) mencapai ambang pengendalian (? 2 ekor/rumpun atau 2,5% polong terserang) dapat dilakukan pengendalian dengan pestisida efektif dan aman bagi manusia dan lingkungan. Fase Pemasakan Polong (61 hst - panen) 1. Karateristik ekosistem Pada fase ini polong telah berisi penuh, bahkan untuk verietas genjah (Merak) sudah mulai dipanen. Serangan hama kurang berpengaruhterhadap reproduksi, kecuali apabila populasi tinggi, terutama hama penghisap polong. Serangan penggerek polong dan ulat buah dapat terjadi apabila pada fase sebelumnya tidak dikendalikan. 2. Budidaya dan pengelolaan ekosistem Entuk mempercepat pemasakan polong dan biji, pada fase pemasakan polong ini perlu diadakan pengeringan lahan paling lambat seminggu sebelum panen. Untuk varietas genjah pengeringan lahan dilakukan sebelum 61 hst. 3. Pengamatan, analisis ekosistem dan pengambilan keputusan • Pengamatan Jenis OPT yang perlu diwaspadai pada fase ini adalah hama penghisap polong, penggerek polong dan ulat buah. • Analisis ekosistem, dan pengambilan keputusan Pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan mengamati dan menganalisis kondisi ekosistem yang ada yaitu : ? Apabila pada fase ini masih dijumpai hama-hama perusak polong (pengisap polong dan ulat buah) perlu dilakukan pengendalian secara mekanis. Penggerek polong harus diantisipasi dengan baik sejak fase sebelumnya. Sumber: Direktorat Perlindungan Tanaman. 2000. Pedoman rekomendasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Kacang-kacangan, Edisi Kacang Hijau. Penyusun: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. emai: ume_humaedah@yahoo.com