Pada setiap fase tumbuh, tanaman memiliki ciri yang khas, baik dalam hal kondisi pertumbuhan, maupun hubungannya dengan jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), khususnya hama dan penyakit (HPT) yang menyerang. Sering dijumpai OPT tertentu pada suatu fase tumbuh tertentu. Agar tidak menimbulkan kerugian, perlu dilakukan upaya pengendalian HPT. Tulisan ini akan mencoba memberikan informasi bagaimana mengendalikan hama dan penyakit tanaman kacang hijau berdasarkan fase pertumbuhannya. Secara spesifik pada tulisan ini akan disampaikan tentang cara mengendalikan hama dan penyakit pada fase perkembangan (vase berbunga, pembentukan dan pengisian polong). Pada fase ini, tanaman berumur sekitar 31 - 51 hari setelah tanam. Karakteristik ekosistem Pada fase ini, kacang hijau mulai berbunga kemudian membentuk polong dan biji. Pada prinsipnya keberadaan dan jenis hama yang menyerang tanaman pada fase ini adalah penggulung daun, ulat grayak, ulat jengkal, ulat buah, kepik hijau dan penggerek polong (Maruca testulalis). Pada fase ini merupakan fase kritis tanaman terhadap serangan ulat penggerek polong. M. testulalis, karena hama ini mulai meletakkan telur pada kuncup bunga dan larvanya merusak bunga, polong dan biji yang terbentuk. Selain itu, ulat buah Heliothis armigera dan Heliothis sp. sering menimbulkan serangan serius. Penyakit penting yang seringmuncul pada fase ini ialah penyakit bercak daun Cercospora canescens, kudis Elsinoe iwatae dan embun tepung Erysiphe poligoni. Budidaya dan pengelolaan ekosistem Pada fase ini tanaman membutuhkan air yang cukup, karena itu kondisi lahan harus selalu diperhatikan agar pengairan dapat dilakukan pada waktunya. Pada fase ini tidak dilakukan penyiangan, karena penyiangan terakhir telah dilakukan pada umur 28 hst. Pengamatan, analisis ekosistem dan pengambilan keputusan 1. Pengamatan Hama penting yang perlu dipantau secara intensif ialah ulat buah, penggerek polong dan pengisap polong (N. Viridula, P. Hybneri, Riptortus spp). Sedangkan penyakit penting yang perlu dipantau ialah bercak daun Cercospora canescens, embun tepung Erysiphe poligoni, dan kudis Elsinoe iwatae. 2. Analisis ekosistem dan pengambilan keputusan Pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan mengamati dan menganalisis kondisi ekosistem yang ada yaitu: • Apabila ditemukan ulat grayak dan populasinya rendah, pengendalian dilakukan dengan cara pengumpulan kelompok telur, ulat instar muda yang masih mengelompok dan pengumpulan larva dewasa instar 4-6. Apabila populasinya masih tinggi dan kerusakan daun melampaui ambang pengendalian ? 180 instar 2/10 rumpun atau 15 instar 3/10 rumpun atau ? 12,5% daun rusak dapat digunakan insektisida efektif. • Apabila diperlukan, dilakukan pengendalian mekanis terhadap kelompok telur, nimpa instar 1-3, serta imago N. Viridula, P. Hybneri, serta imago Riptortus spp. • Apabila dijumpai kepik menghisap polong mencapai ambang pengendalian 2 ekor/10 rumpun dapat dilakukan aplikasi insektisida efektif. • Apabila berdasarkan hasil pemantauan kacang hijau yang menggunakan tanaman perangkap jagung untuk memerangkap ulat buah , tanaman jagung dapat dipanen apabila rambut tongkolnya telah layu dan didalamnya terdapat ulat buah dapat dilakukan pengumpulan larva dewasa H. Armigera. Bila populasi buah cukup tinggi atau kerusakan buah melampaui ambang pengendalian15 instar 2/10 rumpun atau 10 instar 3/10 rumpun atau ? 2% polong rusak dapat digunakan insektisida efektif. penggunaan Ha-NPV apabila populasi ulat buah dominan. • Apabila terdapat 20% daun terserang penyakit (bercak daun, penyakit kudis, dan embun tepung) perlu dilakukan pengendalian dengan fungisida efektif. • Hindari penggunaan insektisida yang tidak diperlukan untuk memberi kesempatan musuh alami berkembangbiak. Sumber: Direktorat Perlindungan Tanaman. 2000. Pedoman rekomendasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Kacang-kacangan, Edisi Kacang Hijau. Penyusun: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian emai: ume_humaedah@yahoo.com