Pada setiap fase tumbuh, tanaman memiliki ciri yang khas, baik dalam hal kondisi pertumbuhan, maupun hubungannya dengan jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), khususnya hama dan penyakit (HPT) yang menyerang. Sering dijumpai OPT tertentu pada suatu fase tumbuh tertentu. Agar tidak menimbulkan kerugian, perlu dilakukan upaya pengendalian HPT. Tulisan ini akan mencoba memberikan informasi bagaimana mengendalikan hama dan penyakit tanaman kacang hijau berdasarkan fase pertumbuhannya. Secara spesifik pada tulisan ini akan disampaikan tentang cara mengendalikan hama dan penyakit pada fase pertumbuhan atau fase vegetative (umur 11 - 30 hari setelah tanam). Karakteristik Ekosistem Pada awal fase ini daun majemuk pertama telah membuka penuh, tanaman tumbuh dan berkembang hingga berbunga pada umur 20 hari setelah tanam. Hama utama yang mungkin dijumpai di pertanaman ialah ulat grayak (Spodoptera litura) dan ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites). Serangga hama lainnya yang mungkin dijumpai ialah penggerek pucuk (Agromyza dolichostigma), pelipat daun (Biloba/Stomopteryx subsecivella),penggulung daun (Lamprosema indicata, adoxophyses sp.dan Homona sp.), kumbang tanah kuning dan tungau merah (tetranychus cinnabarius). Serangan virus yang ditularkan oleh vektor, yaitu kutu hijau dan kutu kebul sampai tanaman berumur 21 hst masih sangat membahayakan pertumbuhan tanaman dan produksi. Imago ulat buah datang pada sekitar tanaman berumur 25 hst, dan pada umur tersebut tanaman sangat disukai untuk tempat meletakkan telurnya, termasuk ulat grayak dan ulat jengkal. Kerusakan daun pada fase ini masih dapat dikompensasi dengan pembentukan daun baru. Kehilangan daun sampai dengan 50% pada fase ini hanya menurunkan produksi sekitar 3%, tetapi keberadan hama daun perlu diwaspadai agar dapat dikendalikan sebelum mencapai instar 4 dan tidak merusak pada fase berikutnya. Pertanaman kacang hijau MK I setelah padi biasanya relatif bebasdari serangan penyakit karat. Serangn penyakit karat biasanya terjadi pada tanaman kacang-kacangan kedua terutama apabila terjadi keterlambatan tanam. Budidaya dan pengelolaan ekosistem Penyiangan dilakukan pada umur 14-28 hari setelah tanam. Apabila tidak ada hujan, perlu diairi setiap 1-2 minggu sekali (tergantung keadaan) dan dilakukan sampai dengan seminggu sebelum panen, terutama pada saat pembungaan dan pengisian polong. Pengamatan, analisis ekosistem dan pengambilan keputusan 1. Pengamatan Pada fase ini hama dan penyakit penting yang perlu diperhatikan adalah Thrips sp dan hama daun yaitu ulat grayak, ulat jengkal dan penggulung daun; sedangkan serangga hama lainnya biasanya tidak menghawatirkan. Penyakit penting yang perlu duperhatikan ialah penyakit layu ialah R. Solani. Pada fase ini biasanya ditemukan berbagaio musuh alami. Predator biasanya lebih dominan dari pada parasitoid. Predator yang biasa ditemukan yaitu laba-laba, kumbang Coccinellidae, capung semut api, belalang sembah, vespidae, Asilidae, Carabidae dan Paederus sp. Parasitaoid yang biasa banyak dijumpai yaitu Agromyzidae, dan parasitoid hama daun misalnya Apanteles sp dan Snelleius sp. 2. Analisis ekosistem dan pengambilan keputusan Kerusakan daun pada fase ini relatif tidak menurunkan produksi secara nyata. Oleh karena itu pengendalian hama daun seperti ulat grayak cukup dilakukan dengan cara mekanis, karena biasanya pada fase ini hama tersebut baru mulai meletakkan telur atau larva kecil masih mengelompok dan kemungkinan besar populasi musuh alami mulai meningkat. Apabila tidak diperlukan hindari penggunaan pestisida untuk memberi kesempatan musuh alami berkembangbiak, sehingga peranannya dialam dapat meningkat. Pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan mengamati dan menganalisis kondisi ekosistem yang ada yaitu: • Jika ada tanaman yang mati karena penyakit layu R. Rosali dan tanaman yang sakit karena virus mozaik kacang hijau (MMV) dan virus mozaik buncis (BYMV) segera dicabut, dibenamkan atau dibakar ditempat lain di luar lahan pertanian. Apabila daerah ini merupakan endemis penyakit layu, maka perlu diantisipasi secara dini dengan pembalikan tanah yang dalam atau dibuat saluran drainase atau penambahan agens antagonis atau kompos/pupuk kandang yang matang. • Apabila serangan penyakit embun tepung, bercak daun dan kudis mencapai intensitas ? 20 % dilakukan pengendalian dengan fungsida efektif. Didaerah indemis virus MMV dan BYMV apabila dijumpai vektor virus Aphis sp dan gejala serangan virus dapat dilakukan pengendalian serangga vektor. • Jika tanaman terserang ulat grayak, untuk menekan pertumbuhan populasinya secara awal dapat dilakukan pengumpulan kelompok telur. Apabila dijumpai populasi ulat berkelompok mencapai ? 2 kelompok instar 1/30 rumpun atau < 180 instar 2/30 dapat dilakukan pengumpulan ulat yang berkelompok. Apabila populasi masih tinggi atau kerusakan melampaui ambang pengendalian (180 instar 1/20 rumpun, 10 instar 3/10 rumpun atau ? 25 % kerusakan daun), dapat dilakukan aplikasi dengan insektisida efektif yang aman bagi manusia dan lingkungan. Apabila tersedia biakan agens hayati SL-NPV diaplikasikan untuk menekan perkembangan ulat grayak. • Apabila dijumpai larva dewasa ulat jengkal (Crysodeixis chalcites/Trichloplusiani oricbalcea) dapat dilakukan pengumpulan ulat besar. Bila populasi masih tinggi dan atau kerusakan daun melampaui ambang pengendalian (200 instar 1/10 rumpun, 120 instar 2/10 rumpun, 20 instar 2/10 rumpun atau 25% kerusakan daun), agar dilakukan aplikasi insektisida efektif yang aman bagi manusia dan lingkungan. • Apabila populasi ulat buah instar awal tinggi melampaui ambang pengendalian (50 instar 1/10 rumpun), dapat digunakan insektisida efektif yang aman bagi manusia dan lingkungan. Bila sarana agens hayati memadai dapat dilakukan penyamprotan Ha-NPV untuk menekan populasi ulat buah. Sumber: Direktorat Perlindungan Tanaman. 2000. Pedoman rekomendasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Kacang-kacangan, Edisi Kacang Hijau. Penyusun: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. emai: ume_humaedah@yahoo.com