Loading...

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU KACANG HIJAU BERDASARKAN FASE TUMBUH TANAMAN (FASE SEBELUM TANAM)

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU KACANG HIJAU BERDASARKAN FASE TUMBUH TANAMAN  (FASE SEBELUM TANAM)
Pada setiap fase tumbuh, tanaman memiliki ciri yang khas, baik dalam hal kondisi pertumbuhan, maupun hubungannya dengan jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), khususnya hama dan penyakit (HPT) yang menyerang. Sering dijumpai OPT tertentu pada suatu fase tumbuh tertentu. Agar tidak menimbulkan kerugian, perlu dilakukan upaya pengendalian HPT. Tulisan ini mencoba memberikan informasi bagaimana mengendalikan hama dan penyakit tanaman kacang hijau berdasarkan fase pertumbuhannya. Secara spesifik pada tulisan ini akan disampaikan tentang cara mengendalikan hama dan penyakit pada fase sebelum tanam (pratanam). Adapun beberapa langkah untuk mengendalikan hama dan penyakit kacang hijau pada fase sebelum tanam (pra tanam) adalah sebagai berikut: Kenali Lingkungan Tumbuh Pertumbuhan kacang hijau memerlukan iklim panas, dan dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah dan paling cocok di tanah lempung atau liat sampai lempung yang mempunyai kandungan bahan organik tinggi dan pH tanah 5,5-6,5. Kacang hijau dapat ditanam pada musim kemarau setelah tanaman padi. Jika ditaman pada lahan bekas tanaman palawija yang mempunyai jenis OPT yang sama dengan kacang hijau, sisa-sisa tanaman merupakan tempat bertahannya cendawan tetentu yang akan menjadi sumber infeksi tanaman inang berikutnya (kacang hijau). Selain itu terdapat pula populasi hama yang merupakan sumber serangan yang perlu diwaspadai. Beberapa Cara Pengendalian 1. Perencanaan tanam serentak Perencanaan tanam serentak dapat dilakukan dengan tanaman kacang-kacangan lain, misalnya dengan kedelai. Karena kacang hijau dan kedelai mempunyai hama utama yang sama, kecuali Phaedonia inclusa yang bukan merupakan hama kacang hijau. Sedangkan Maruca testulalis merupakan hama perusak polong yang penting pada kacang hijau. 2. Perencanaan pola tanam atau pergiliran tanaman Pergiliran tanaman selain didasarkan pada tujuan ntuk pemutusan rantai makanan bagi hama dan penyakit juga didasarkan pada peningkatan produktivitas lahan (terutama lahan kering). Pergiliran tanaman disesuaikan dengan jenis lahan, tipe pengairan atau lamanya bulan basah. Kacang hijau dapat dibudidayakan secara monokultur atau tumpangsari. Pada lahan tegalan kacang hijau dapat ditanam secara tumpangsari dengan jagung atau ubi kayu. Pergiliran tanaman dengan pola tumpangsari disesuaikan denga kondisi setempat. 3. Pemilihan varietas Varietas unggul digunakan sesuai dengan jenis lahan dan apabila memungkinkan, gunakan varietas yang tahan atau toleran terhadap penyakit endemis setempat. 4. Persiapan benih Benih yang digunakan harus benih murni (tidak tercampur dengan varietas lain), dengan daya kecambah minimal 80%, mulus, tidak keriput, tidak berlubang dan sehat (tidak bercendawan maupun bukan berasal dari tanaman yang terserang virus. 5. Pengolahan tanah Jika kacang hijau ditanam pada lahan sawah (irigasi dan tadah hujan) setelah padi maka tidak perlu dilakukan pengolahan lahan. Namun apabila di lahan terdapat gulma atau di daerah endemis penyakit, maka perlu dilakukan pengolahan tanah secara dangkal (olah tanah minimum). Di daerah endemis penyakit busuk pangkal batang Rhizoctonia solani, penyakit layu Sclerotium rolfsii, perlu dilakukan sanitasi sisa-sisa tanaman untuk menghilangkan sumber inokulum dengan cara dibakar. Begitu pula jika kacang hijauakan di tanam di lahan bekas serangan virus mozaik kacang hijau (MMV), virus mozaik kuning buncis (BYMV), penyakit cendawan (embun tepung, bercak daun, kudis) dan hama (lalat kacang, kutu kebul), maka perlu dilakukan sanitasi sisa-sisa tanaman, baik pada kacang hijau atau tanaman kacang-kacangan yang terinfeksi dengan cara dibakar. Pada lahan tegalan pengolahan tanah sebaiknya dilakukan hingga gembur dan bersih dari gulma. 6. Pembuatan saluran drainase Parit drainase dibuat pada keliling lahan, membujur (jarak antar parit 2-4 m) dan melintang lahan sesuai dengan keadaan lahan, jenis lahan dan topografi. Pada lahan tegalan jarak antar parit membujur biasanya lebih lebar dari pada lahan sawah, yaitu 4-5 m atau tergantung keadaan lahan. Pembuatan saluran drainase yang baik yaitu lebar 25-30 cm dan kedalaman 20-30 cm. Sumber: Direktorat Perlindungan Tanaman. 2000. Pedoman rekomendasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Kacang-kacangan, Edisi Kacang Hijau. Penyusun: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Emai: ume_humaedah@yahoo.com