Loading...

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU KACANG HIJAU BERDASARKAN FASE TUMBUH TANAMAN (FASE TANAM DAN FASE TANAMAN MUDA)

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU KACANG HIJAU BERDASARKAN FASE TUMBUH TANAMAN  (FASE TANAM DAN FASE TANAMAN MUDA)
Pada setiap fase tumbuh, tanaman memiliki ciri yang khas, baik dalam hal kondisi pertumbuhan, maupun hubungannya dengan jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), khususnya hama dan penyakit (HPT) yang menyerang. Sering dijumpai OPT tertentu pada suatu fase tumbuh tertentu. Agar tidak menimbulkan kerugian, perlu dilakukan upaya pengendalian HPT. Tulisan ini akan mencoba memberikan informasi bagaimana mengendalikan hama dan penyakit tanaman kacang hijau berdasarkan fase pertumbuhannya. Secara spesifik pada tulisan ini akan disampaikan tentang cara mengendalikan hama dan penyakit pada fase tanam dan fase tanaman muda. Fase Tanam 1. Karesteristik ekosistem Biasanya populasi hama dan musuh alami sangat rendah pada saat tanam. Pengolahan lahan dan waktu pada suatu hamparan dilakukan serentak (termasuk kacang-kacangan lain dianjukan paling lama hanya berlangsung 10 hari). Serangan hama seringkali ditemukan pada tanaman inang liar, oleh karena itu harus diperhatikan populasinya. 2. Budidaya dan pengelolaan ekosistem • Jarak tanam Apabila kacang hijau ditanam secara monokultur, jarak tanamnya tergantung karakteristik varietas, kesuburan tanah, dan musim. Sebagai pedoman, jarak tanam yang berhubungan dengan karesteristik varietas adalah sebagai berikut: tanaman yang kurang bercabang 25 cm x 25 cm, 30 cm x 20 cm, 40 cm x 15 cm; dan tanaman yang bercabang banyak 40 cm x 20 cm. Apabila kacang hijau ditanaman secara tumpangsari dengan jagung atau ubi kayu maka jarak tanamnya disesuaikan. • Cara tanam Baik pada lahan bekas tanaman padi sawah maupun tegalan penanaman kacang hijau dilakukan dengan cara tugal. Tiap lubang tugal diisi 2-3 biji, kemudian ditutup dengan tanah berpasir tipis-tipis atau abu jerami. Di daerah endemis lalat buah Helicoverpa armigera dan kepik hijau Nezara viridula, apabila memungkinkan dapat dipersiapkan lahan untuk tanaman perangkap jagung guna memerangkap ulat buah kacang hijau, kepik hijau, dan lalat kacang. Untuk menghindari peningkatan populasi Thrips, khususnya di daerah serangan Thrips dianjurkan untuk tidak menanam kacang hijau pada bulan Juni, atau disesuaikan dengan dinamika populasi Thrips dimasing-masing lokasi. Pada daerah endemis serangan lalat kacang perlu digunakan mulsa jerami guna menekan munculnya lalat kacang selama pertumbuhan tanaman. • Pemupukan Pupuk Urea, TSP, dan KCl/ ZK diberikan secara berimbang pada saat tanam dalam alur-alur, atau dimasukkan lubang tegal disamping lubang tanam. Dosis pupuk yang diberikan yaitu 50 kg Urea, 50 kg TSP dan 50 kg KCl atau disesuaikan dengan rekomendasi setempat. • Pelakuan lahan Untuk menekan perkembangan penyakit busuk pangkal batang Rhizoctonia solani dan penyakit layu S. rolfsii secara lebih awal, dapat dilakukan aplikasi substrat yang mengandung agens hayati Pseudomonas fluorescens, Gliocladium spp. Atau Trichoderma spp. Fase Tanaman Muda (tumbuh - 10 hari setelah tanam) 1. Karesteristik ekossistem Pada fase ini OPT yang menyerang adalah lalat kacang (Ophiomya phaseoli). Sedangkan OPT penting yang perlu dipantau adalah Thrips sp. Dan serangan cendawan tular tanah Rhizoctonia solani. 2. Budidaya dan pengelolaan ekosistem Apabila terdapat tanaman yang mati dilakukan penyulaman (umur 4-7 hari setelah tanam). Kelembaban tanah perlu diperhatikan agar tidak becek dan kekeringan. 3. Pengamatan, analisis ekosistem dan pengambilan keputusan Tanaman yang layu karena cendawan S. rolfsii, tanaman sakit karena virus mozaik kacang hijau (MMV) dan virus mozaik kuning buncis (BYMV) segera dicabut, dibenamkan atau dibakar. Apabila intensitas serangan <2,5% dilakukan sanitasi pada tanaman terserang. Apabila dijumpai populasi atau intensitas serangan hama lalat kacang telah mencapai 2 ekor/30 rumpun atau ? 2,5% tanaman terserang segera lakukan pengendalian korektif dengan insektisida efektif dan aman terhadap manusia dan lingkungan. Di daerah endemis virus MMV dan BYMV apabila dijumpai populasi vektor Appis craccivora dan terdapat gejala virus dapat dilakukan pengendalian vektor dengan insektisida efektif. Apabila penyakit kudis mencapai intensitas ? 20% dilakukan pengendalian dengan fungisida efektif. Sumber: Direktorat Perlindungan Tanaman. 2000. Pedoman rekomendasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Kacang-kacangan, Edisi Kacang Hijau. Penyusun: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. emai: ume_humaedah@yahoo.com