Adisarwanto. 2008 Kebutuhan komoditas kedelai yang terus meningkat, produksi kedelai di Indonesia akan terus berlanjut dan menjurus pada pola pertanian dengan masukan teknologi tinggi dengan pola tanam monokultur. Hama merupakan faktor kendala dan pembatas utama bagi produktivitas kedelai. Sementara masih minimnya paket teknologi yang mendasarkan pada pendekatan multilateral, penggunaan insektisida masih menjadi andalan pengendalian hama, karena itu ancaman terhadap stabilitas hasil dan kepastian hasil masih menjadi kendala peningkatan produksi. Untuk mensukseskan dan menjamin keberhasilan produksi, sistem produksi perlu didukung dengan strategi pengendalian hama yang handal, layak biaya, mudah diterapkan, memberi keuntungan optimal serta dapat membantu terpeliharanya kualitas lingkungan. Strategi pengendalian yang sesuai adalah PHT. Upaya pengendalian hama saat ini dilakuka secara bijak yang didasarkan pada pengembangan system pengendalian secara terpadu (PHT). Sstem PHT lebih menonjolkan keterpaduan penggunaan beberapa faktor komponen pengendalian alami, seperti musuh alami, iklim dan competitor. Komponen insektisida bisa digunakan bila populasi hama dilapangan sudah tidak dapat ditekan lagi. Langkah-langkah operasional palksanaan PHT harus mengacu pada beberapa pendekatan, yaitu: tanaman sehat, peningkatan peran musuh alami, pengendalian secara kultur teknis, pengendalian secara fisik dan mekanik, pengendalian dengan menanam varietas tahan, pengendalian secara biologis dan pengendalian memakai insektisida alami. Varietas tahan Penggunaan varietas tahan dilakukan dengan menanam varietas yang tahan/ toleran terhadap suatu hama. Saat ini penggunaan varietas tahan untuk pengendalian hama kedelai masih terbatas. Berdasarkan pengamatan di lapang, varietas Kerinci mempunyai toleransi yang cukup baik terhadap hama kutu kebul. Tanaman yang menunjukkan kerusakan yang lebih ringan atau mendapat serangan yang lebih kecil dibandingkan dengan yang lainnya dalam keadaan lingkungan yang sama di lapang disebut tahan atau resisten. Ketahanan suatu varietas terdiri atas satu atau beberapa komponen, yaitu tidak disukai, anti biosis, dan toleran.. Penggunaan varietas tahan dalam pengendalian hama kedelai merupakan komponen penting, karena pelaksanaannya mudah dan murah serta tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Akan tetapi cara ini dapat menimbulkan biotipe atau koloni baru, seperti yang terjadi pada tanaman padi dengan timbulnya biotipe-biotipe 1, 2, dan biotipe Sumatera Utara dari hama wereng coklat.Ini dapat dihindari dengan pergiliran varietas yang mempunyai gen tahan yang berlainan. Insektisida sintesis dan nabati Teknologi pengendalian hama kedelai yang efektif adalah insektisida sidametrin untuk lalat kacang, matador untuk hama daun, dan deltametrin untuk hama penghisap polong. Keunggulan dan kelemahan pestisida nabati adalah sebagai berikut: Keunggulan: 1. Penguraian yang cepat oleh sinar matahari 2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga 3. Toksisitas rendah terhadap hewan dan relatif lebih aman pada manusia dan lingkungan 4. Memiliki spektrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif 5. Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia 6. Fitoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman 7. Murah dan mudah dibuat oleh petani Kekurangan: 1. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering 2. Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga) 3. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku 4. Kurang praktis 5. Tidak tahan disimpan Fungsi Insektisida Nabati: 1. Repelen, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat 2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot. 3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa 4. Menghambat reproduksi serangga betina 5. Racun syaraf 6. Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga 7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga 8. Mengendalikan pertumbuhan patogen jamur/ bakteri Cendawan entomopatogen efektif Cendawan entomopatogen merupakan salah satu jenis bioinsektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman. Beberapa jenis cendawan entomopatogen yang sudah diketahui efektif mengendalikan hama penting tanaman adalah Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, Paecilomyces fumosoroseus, Aspergillus parasiticus, dan Lecanicillum lecanii. Pemanfaatan berbagai jenis cendawan tersebut sering menghadapi kendala, antara lain kurangnya pengetahuan petani tentang jenis hama serta manfaat dan upaya mempertahankan viabilitas dan keefektifan cendawan dalam pengendalian hama, termasuk cara perbanyakan, penyiapan dan aplikasinya. Pada tanaman pangan, keefektifan cendawan biasanya rendah karena tanaman pangan bersifat semusim. Upaya untuk meningkatkan keefektifan cendawan dapat dilakukan dengan: 1) melakukan identifikasi jenis hama utama yang akan dikendalikan, 2) mengaplikasikan cendawan entomopatogen pada sore hari dengan konsentrasi konidia minimal 107/ml, 3) mengulang aplikasi sebanyak tiga kali, dan 4) menambahkan bahan perekat dan bahan pembawa pada suspensi konidia sebelum diaplikasikan pada hama sasaran. diaplikasikan, baik dengan bahan perekat maupun bahan pembawa sehingga pengaruh buruk tersebut dapat dieliminir. Penulis : Sundari, S.ST Sumber: ‘- Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Tanaman Kedelai. Balikabi.2010 ‘- KEDELAI. Seri Agribisnis.Dr. T.