Loading...

PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH DENGAN TEKNIK GERAKAN BERSAMA (GROPYOKAN)

PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH DENGAN TEKNIK GERAKAN BERSAMA  (GROPYOKAN)
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama penting tanaman padi yang tiap tahunnya selalu mengancam produksi pertanian di desa setempat . Hal ini disebabkan karena pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat karena mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurangnya monitoring oleh petani. Pemahaman petani mengenai informasi aspek dinamika populasi tikus, yang menjadi dasar dalam pengendalian juga masih kurang. Kecenderungan petani masih kurang peduli dalam menyediakan sarana pengendalian tikus, organisasi pengendalian yang masih lemah, dan pelaksanaan pengendalian yang tidak berkelanjutan dapat mengakibatkan meningkatnya hama tikus sawah.Tidak kalah penting adalah masih banyak petani yang mempunyai ”persepsi mistis”. Di lingkungan masyarakat Jawa, biasanya bila petani melihat tikus, tidak boleh menyebut tikus tetapi disebutnya ”den bagus”. Padahal, pada hakekatnya hal tersebut dapat menghambat dalam usaha pengendalian tikus itu sendiri. Melihat kondisi di atas, maka perlu Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT). Strategi PHTT dilaksanakan berdasarkan pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Disamping itu kegiatan pengendalian diprioritaskan pada waktu sebelum tanam (pengenalian dini), untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadium generataif padi; dan pelaksanaan pengenalian dilkukan olehpetani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dalam cakupan skala luas (hamparan). Kegiatan gropyokan berburu tikus di desa Penataan Kec.Winongan Kab.Pasuruan Puluhan anggota Kelompoktani yang masih aktif dan warga lainnya di Desa Penataan kecamatan Winongan kabupaten Pasuruan bersama aparat desa dan dibantu oleh petugas atau kru PPL pertanian Kecamatan Winongan beserta POPT untuk melakukan kegiatan gropyokan berburu tikus yang menjadi hama perusak tanaman padi pada waktu periode habis panen saat akan pengolahan tanah. Pasalnya serangan hama tikus semakin meluas dan mengancam produksi pertanian desa setempat, kegiataan gropyokan tikus dilakukan secara massal (Bersama-sama). Melalui kegiatan tersebut diharapkan populasi tikus bisa berkurang, dan akan lebih meningkatkan hasil panen petani. Sehingga bisa lebih banyak membasmi salah satu hama di areal pertanian itu. Perburuan cukup efektif karena hama tikus hampir setiap musim tanam selalu ada sehingga harus dibasmi agar tidak mempengaruhi produksi pertanian di satu wilayah Gropyokan merupakan salah satu dari beragam cara pemberantasan hama di areal persawahan. Cara yang dilakukan alami dan ramah lingkungan karena sama sekali tidak memakai bahan kimia, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kegotong-royongan. Dari kegiatan ini masing-masing secara bersemangat berhasil membasmi hama tikus sampai kelubang-lubangnya dan membakarnya. kegiatan ini di dukung oleh peran aktif PPL pertanian dan petugas POPT kecamatan Winongan sebagai tim pendampingan ke petani. Dengan adanya kerja sama yang terbina diharapkan untuk hasil panen petani bisa meningkat yang akan mendobrak swasembada pangan. Dalam pengendalian hama tikus sawah dengan salah satu teknik gerakan bersama (Gropyokan) harus perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut antara lain : Gropyokan massal, rutin, dan berkelanjutan (terus menerus) melibatkan seluruh petani, kelompoktani, aparat desa, petugas pertanian, dan segenap warga Gunakan berbagai cara menangkap / membunuh tikus, seperti penggalian lubang, pemukulan, penjaringan dll Kombinasikan dengan teknik lain seperti Fumigasi dan Sanitasi Pada saat gropyokan, dilarang menggunakan senjata tajam seperti : parang, pedang, sabit, cukup gunakan bilah bambu atau pemukul dari ranting kayu untuk membunuh tikus Tikus yang keluar dari lubangnya akan berlari secara acak, sehingga dikhawatirkan bisa terjadi kecelakaan / melukai orang yang ikut gropyokan jika menggunakan senjata tajam Pada periode persemaian, gropyokan massal (berburu tikus) masih harus terus dilakukan. Pemagaran persemaian dengan plastik dan pemasangan bubu perangkap perlu dilakukan. Hal tersebut selain dapat mengamankan persemaian juga dapat menurunkan populasi tikus di daerah tersebut. Persemaian sebaiknya dibuat sebagai persemaian kelompok sehingga akan lebih memudahkan pengelolaan. Oleh karena itu, penanganan hama tikus di lapangan harus dilakukan dengan strategi khusus dan relatif berbeda dengan penanganan hama dari kelompok serangga. Berbagai teknik pengendalian tikus sawah yang ada sebenarnya telah cukup efektif untuk mengendalikan tikus di lapangan apabila penerapannya sesuai anjuran. Untuk lahan sawah irigasi, usaha pengendalian tikus yang telah terbukti efektif adalah dengan model strategi Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT). Pelaksanaan pengendalian difokuskan pada 2 minggu sebelum dan sesudah tanam, agar tikus sawah tidak sempat memasuki periode perkembangbiakan yang terjadi pada setiap stadia generatif padi. Setidaknya ada beberapa cara Teknik Pengendalian Hama Tikus sawah secara Terpadu antara lain : Kultur teknis Pada dasarnya, metode ini bertujuan mengondisikan lingkungan sawah, yang merupakan ‘’rumah’’ bagi tikus sawah, beberapa teknik yang dapat dilaksanakan meliputi : - Tanam dan Panen Serempak Dalam satu hamparan diusahakan tanam serempak dengan luasan minimal 50 ha. Apabila tidak memungkinkan, aturlah agar selisih waktu tanam tidak lebih dari 2 minggu dengan tujuan untuk membatasi ketersediaan pakan bagi tikus sawah sehingga tidak mampu berkembangbiak terus menerus. - Pengaturan Pola Tanam Pada daerah endemik yang dicirikan dengan adanya serangan tikus sawah pada setiap musim tanam, pola tanam padi-padi-bera, padi-padi-palawija, atau padi-palawija-padi dianjurkan untuk dilakukan. Kondisi bera berakibat ketiadaan pakan sehingga memutus siklus hidup dan menekan kerapatan populasi tikus. Pada pertanaman palawija, tikus sawah tidak mampu berkembang biak optimal sehingga jumlah anak yang dilahirkan tidak banyak apabila terdapat tanaman padi. -Pengaturan Jarak Tanam/Tata Tanam Jajar Legowo Dengan sistem tanam jajar legowo, tikus sawah kurang suka dengan kondisi tersebut karena terdapat lorong-lorong yang ‘’lebih terbuka’’ sehingga memungkinkan lebih mudah diketahui oleh predatornya. Sanitasi habitat Dilakukan selama musim tanam padi, yaitu dengan cara membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus yang meliputi tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang sawah, parit, saluran irigasi dan lain-lain. Juga dilakukan minimalisasi ukuran pematang (tinggi dan lebat pematang) kurang 30 cm agar tidak digunakan sebagai tempat bersarang tikus. Gerakan bersama (gropyokan massal) Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani. Gunakan berbagai cara untuk menangkap/membunuh tikus seperti penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing, dan sebagainya. Pengemposan massal (fumigasi) Fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya di dalam sarang. Agar tikus mati, tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. Lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi. Trap Barrier System (TBS) TBS dengan tanaman perangkap diterapkan terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS berukuran 20 x 20 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan tikus seluas 15 ha. Linier Trap Barrier System (LTBS) LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk tikus berselang-seling arah. LTBS dipasang di daerah perbatasan habitat tikus atau pada saat ada migrasi tikus. Pemasangan dipindahkan setelah tidak ada lagi tangkapan tikus atau sekurang-kurangnya di pasang selama 3 malam. Memanfaatan musuh alami Cara termudah ini adalah dengan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah, khususnya pemangsa, seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular tikus, dan lain-lain. Rodentisida Merupakan cara kedelapan ini, digunakan hanya apabila populasi tikus sangat tinggi terutama pada saat bera atau awal tanam. Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus, seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan. Cara pengendalian lokal lainnya Dengan memanfaatkan cara pengendalian tikus yang biasa digunakan petani setempat, seperti penggenangan sarang tikus, penjaringan, pemerangkapan, bunyi-bunyian, dan cara-cara lainnya. Tikus yang telah terbunuh/tertangkap hanya merupakan indikasi turunnya populasi. Yang perlu diwaspadai adalah populasi tikus yang masih hidup, karena akan terus berkembang biak dengan pesat selama musim tanam padi. Disamping itu monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sangat penting diketahui sejak dini agar usaha pengendalian dapat berhasil. Cara monitoring antara lain dengan melihat lubang aktif, jejak tikus, jalur jalan tikus, kotoran atau gejala kerusakan tanaman. Dan tidak kalah pentingnya adalah mewaspadai terhadap kemungkinan terjadinya migrasi (perpindahan tikus) secara tiba-tiba dari daerah lain dalam jumlah yang besar.