Hama Tikus Sawah (Rattus argentiventer). Tikus merusak sejak pesemaian sampai tanaman menjelang dipanen, bahkan menyerang padi simpanan di gudang. Pesemaian dirusak dg cara memotong bibit, demikian juga tanmuda dipotong sehingga bekas potongan spt baru disabit. Kerusakan parah terjadi pada stadium generatif ketika tanaman mulai bermalai dan berbulir padi. Ciri khas serangan tikus sawah berupa kerusakan yg dimulai dari tengah petak, kmd meluas ke arah pinggir sawah, dg hanya menyisakan beberapa baris padi di pinggir petakan. Bioekologi Hama : Tubuh bagian dorsal (punggung) berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam pada rambut-rambutnya, maka secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian ventral (perut) berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan atas kaki seperti warna badan, tetapi ekornya berwarna coklat tua. Ekor tikus sawah biasanya lbh pendek dp panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul. Indera penciuman tikus mendeteksi wilayah pergerakan tikus lain, jejak anggota kelompoknya, dan lawan jenis. Indera pengecap berkembang baik dan mampu membedakan rasa pahit, racun, dan enak/tidaknya suatu pakan. Tikus sawah bisa berlari, menggali, memanjat, melompat, mengerat, berenang, dan menyelam. Periode reproduksi terjadi pd saat tan padi periode generatif. Dlm 1 musim tanam padi, tikus sawah beranak hingga 3 kali dg rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Masa bunting tikus betina 21 hari dan mampu kawin lagi 24-48 jam setelah melahirkan. Seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. Tikus menyerang padi pd malam hari dan pd siang hari sembunyi di dlm lubang pd tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pengendalian : Ditekankan pd awal musim tanam utk menekan populasi awal tikus. Kegiatan tsb meliputi gropyokan masal, sanitasi. Pemasangan dan pembuatan TBS (Trap Barrier System / Sistem Bubu Perangkap) pd daerah endemik tikus utk menekan populasi tikus pd awal musim tanam. Pemanfaatan predator yaitu anjing, kucing, ular dan burung hantu. Aplikasi rodentisida kronis utk mencegah jera racun dp rodentisida akut. Rodentisida kronis: Tomorin, Racumin, Diphacin, Warfarin dan Klerat. Sedangkan rodentisida akut : Zinc Phosphide, Silmurin, Vacor, Kalusa dan Mesophide. TBS dan LTBS Burung Hantu (Tyto alba) dan Sarang Penangkarannya :