Loading...

Pengendalian Mutu Benih

Pengendalian Mutu Benih
Benih bermutu merupakan salah satu komponen penting dalam budidaya tanaman. Apabila sarana produksi yang digunakan sangat mendukung untuk usaha budidaya namun benih yang digunakan bukanlah benih bermutu, maka dapat dimungkinankan hasil yang diinginkan belum optimal. Mutu benih tidak hanya dapat dilihat dari kemampuan daya tumbuh atau fenotipenya saja. Kompleksnya mutu benih membuat komponen terpenting dari usaha budidaya ini begitu diperlakukan sangat ketat dan istimewa sebelum dilepas ke pasaran. Dipandang dari individu benih, mutu benih terdiri dari banyak sifat benih yaitu: kebenaran varietas, viabilitas, vigor, kerusakan mekanis, infeksi penyakit, cakupan perawatan, ukuran, dan keragaman. Apabila dibandingkan dengan populasi benih yang membentuk kelompok (lot), maka sifat muti benih terdiri dari kadar air, daya simpan, besaran kontaminan, keseragaman lot, dan potensi keragaan. Benih bermutu tertinggi adalah benih yang murni genetis, dapat berkecambah, vigor tidak rusak, bebas dari kontaminan dan penyakit, berukuran tepat, dan secara keseluruhan berpenampilan baik. Untuk menghasilkan benih bermutu, maka diperlukan adanya pengendalian mutu benih yang terdiri dari tiga aspek yaitu: (1) penetapan standar minimum mutu benih yang dapat diterima; (2) perumusan dan implementasi sistem dan prosedur untuk mencapai standar mutu yang telah ditetapkan dan memeliharanya; dan (3) pendekatan sistematik untuk mengidentifikasi sebab-sebab adanya masalah dalam mutu dan cara memecahkannya. Berdasarkan hal tersebut, maka diketahui beberapa komponen penting dalam pelaksanaan pengendalian mutu benih yang harus diperhatikan terutama oleh produsen benih, yaitu: 1. Sumber Benih Untuk menghasilkan benih bermutu perlu diketahui asal usul tetuanya demi menjaga kemurnian benih tersebut saat diproduksi dalam skala yang lebih besar. Penggunaan benih yang murni varietasnya dan bebas dari gulma merupakan langkah pertama dalam pengendalian mutu benih. 2. Lahan Sejarah lahan yang akan digunakan untuk memproduksi benih bermutu juga perlu diketahui sebelum digunakan untuk memperbanyak benih bermutu. Hal tersebut dilakukan guna menghindari adanya tanaman voluntir atau campuran varietas lain. Lahan yang digunakan harus susbur, berdrainase cukup baik, dan bebas gulma. 3. Penanaman Harus memastikan kebersihan alat atau mesin yang akan digunakan untuk penanaman. Varietas yang ditanam pada satu lahan juga cukup satu saja (kecuali lahannya berbeda dengan jarak tertentu) guna menghindari adanya pencampuran. 4. Isolasi Ini yang membedakan antara penanaman budidaya biasa dengan produksi benih yaitu adanya isolasi jarak dan waktu. Persyaratan minimum jarak atau waktu isolasi telah diatur oleh BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih). 5. Teknik Budidaya Teknik budidaya terbaik harus dilaksanakan, termasuk di dalamnya pengendalian gulma. Pengendalian gulma adalah salah satu kegiatan yang ditekankan dalam prosedur menghasilkan benih bersertifikat. 6. Pemeriksaan Lapang Pengendalian mutu benih sudah dilakukan sejak produksi benih di lapangan yang ditangani oleh petugas pengendali mutu benih. Pemeriksaan di tingkat lapangan dilakukan beberap kali, yaitu: (1) setelah muncul bibit sambil menetapkan status pertanaman, (2) selama musim awal pertumbuhan tanaman sambil mencek keperluan pengendalian gulma dan menilai status pertanaman, (3) pada saat pembungaan untuk mencek kemurnian varietas, dan (4) sebelum panen untuk mencek kemurnian varietas, kehadiran gulma yang berbahaya, dan melaksanakan roguing terakhir. 7. Pemanenan Sama seperti ketika melakukan penanaman, maka alat yang digunakan saat pemanenan juga harus bersih dan telah dilakukan pemeriksaan sebelum digunakan. Lakukan pemanenan apabila kadar air sudah sesuai dengan standar untuk mencegah terjadinya kerusakan mekanis. 8. Penyimpanan Tempat penyimpanan harus dalam kondisi bersih dan terjaga tingkat aerasinya. Pengujian sudah mulai dilakukan pada tahap ini untuk memutuskan apakah diperlukan pengolahan lebih lanjut guna mempertahankan mutu benih. 9. Pengolahan Benih Sebelum digunakan untuk mengolah benih, alat pengolahan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan apakah sudah bersih dari kontaminan. Selama proses pengolahan, dilakukan pengambilan sample untuk dilakukan pengujian mutu benih sekaligus sebagai tanda kapan proses pengolahan selesai dilakukan. 10. Penyimpanan Sebelum disalurkan, produsen benih harus menyimpan benih pada ruang penyimpanan. Masing-masing benih yang disimpan harus memiliki label yang jelas berdasarkan kelompoknya. Produsen benih juga harus memiliki arsip benih sebagai bentuk dokumen telusur apabila dikemudian hari terdapat permasalahan. Ruang penyimpanan harus bersih, terjaga suhu dan kelembabannya, juga terjaga dari hama gudang seperti tikus. 11. Pemeriksaan Terakhir Pengambilan contoh benih perlu dilakukan sebelum benih siap didistribusikan untuk melihat kondisi terakhir dari mutu benih. Pemeriksaan diperlukan selain mengetahui kondisi terkini mutu benih, juga sebagai bahan untuk menjamin kualitas benih yang diedarkan di pasaran guna menghindari adanya tuntutan dari konsumen. Begitu panjangnya rentetan proses dalam pengendalian mutu benih memperlihatkan bahwa benih memang merupakan faktor penting dalam usaha budidaya. Benih yang bermutu dengan adanya jaminan kualitas menbuat para petani maupun konsumen lain menjadi lebih percaya dalam melaksanakan proses budidaya tanaman. Gunakan selalu benih bermutu yang jelas asal usulnya dan memiliki sertifikat label benih untuk menjamin kualitas tanaman yang dihasilkan. Penulis : Evrina Budiastuti, SP Jabatan : Penyuluh Pertanian Muda BPP Dramaga Sumber : Mugnisjah, WQ., dan A. Setiawan. 1995. Produksi Benih. Jakarta. Bumi Aksara bekerja sama dengan Pusat Antar Universitas-Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. 130hal.