Loading...

Pengendalian Opt Ramah Lingkungan, Sebuah Alternatif Sebelum Penggunaan Pestisida

Pengendalian Opt Ramah Lingkungan, Sebuah Alternatif Sebelum Penggunaan Pestisida
Serangan OPT atau Organisme Pengganggu Tanaman adalah salah satu resiko yang dihadapi oleh para petani dalam melakukan usaha budidaya. Sebenarnya apabila tanaman yang dibudidayakan memiliki agroekosistem yang sehat, maka serangan OPT mungkin dapat ditekan baik dari dalam lingkungan itu sendiri maupun dengan bantuan manusia. Akan tetapi jika agroekosistemnya tidak mendukung, maka serangan OPT dapat menjadi sebuah mimpi buruk karena keberadaannya mampu mengurangi produksi. Dikutip dari Buku Pedoman Pengendalian OPT Tanaman Pangan yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan tahun 2013, OPT adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan atau menyebabkan kematian pada tumbuhan. Sementara pengendalian OPT adalah upaya pengendalian terhadap OPT untuk mengamankan pertanaman dengan menggunakan cara yang paling sederhana hingga penerapan teknologi tepat guna. Berdasarkan sarana yang digunakan, pengendalian dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu pengendalian fisik dan mekanis, pengendalian kimiawi dengan pestisida, pengendalian hayati dengan memanfaatkan agens hayati, dan pengendalian spesifik lokasi. Dalam pembahasan kali ini adalah teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan yang dalam pemanfaatannya di lapangan dapat dikelompokkan menjadi agens hayati, pestisida nabati, dan teknologi pengendalian spesifik lokasi. 1. Agens Hayati Teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan dengan menggunakan agens hayati dikelompokkan menjadi empat yaitu dengan menggunakan predator, parasitoid, patogen serangga, dan agens antagonis. Contoh preador adalah penggunaan burung hantu (Titus alba) untuk memburu hama tikus. Salah satu daerah yang sudah melaksanakan penggunaan agens hayati ini berada di Desa Tunjungtejo, Kecamatan Pituruh, Purworejo, Jawa Tengah. Berkat penggunaan predator, populasi hama tikus cukup merosot tajam. Untuk penggunaan parasitoid, tidak semua petani memahami akan keberadaan parasitoid di lapangan karena memang jumlahnya sedikit. Parasitoid cukup membantu dalam menekan hama dari golongan serangga dengan famili utama parasitoidnya adalah Trichogramma dan Telenomus. Patogen serangga digolongkan menjadi tiga yaitu kelompok jamur, bakteri, dan virus. Cara jamur menyerang serangga adalah dengan menyebarkan spora ke dalam tubuh serangga melalui kulit, saluran pencernaan, atau bagian lainnya sehingga jamur berkembang di dalam tubuh serangga tersebut. Untuk patogen dari kelompok bakteri dan virus jumlahnya masih belum banyak dan masih dilakukan banyak penelitian untuk kedua jenis patogen tersebut. Salah satu patogen virus yang sudah pernah diaplikasikan adalah Nucleopolyhedrovirus (NPV) sebagai agens pengendali hayati untuk ulat grayak pada padi, jagung, dan kedelai. Sedangkan untuk agens antagonis dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok jamur yang mampu mengendalikan OPT di dalam tanah dan kelompok bakteri yang mampu menghambat berkembangnya bakteri penyebab penyakit seperti kresek pada padi dan penyakit karat pada jagung. 2. Pestisida Nabati Dalam jangka waktu hingga saat ini, para petani sudah mulai sadar akan bahaya penggunaan pestisida sistetis. Selain bermanfaat dalam mengurangi cemaran lingkungan, meminimalisir penggunaan pestisida sintetis juga mampu mengurangi biaya produksi dan lebih aman terhadap kesehatan petani. Sehingga para petani mulai menyadari dan beralih dengan menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati adalah sebuah pestisida berbahan alam yang berasal dari tanaman dan mengandung racun bagi organisme pengganggu tanaman (OPT). Pestisida ini dapat berfungsi sebagai penolak, perekat, penarik dan fungsi lainnya. Apabila bahan alam tersebut diberikan kepada tanaman maka tidak akan mengganggu fungsi fisiologisnya. Pestisida nabati hanya mempengaruhi hama (hewan pengganggu) dan juga penyakit yang mengganggu tanaman. Ada banyak bahan alam yang dapat digunakan untuk membuat pestisida nabati. Contohnya adalah picung, pinus, sirih, sirsak, gadung, tembakau, kenikir, srikaya, lengkuas dan jahe, jengkol, mimba, jarak, mindi, dan lain-lain. 3. Teknologi Pengendalian OPT Spesifik Lokasi Sesuai dengan namanya yang spesifik lokasi, maka teknik pengendalian ini harus disesuaikan dengan kondisi ekosistem, sosial dan ekonomi masyarakat setempat dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu (PHT). Untuk memudahkan penggunaan dan penerapan cara-cara pengendalian OPT spesifik lokasi, maka dikelompokkan berdasarkan OPT sasaran. Contohnya mengendalikan hama tikus dengan cara gropyokan yang dilakukan oleh kelompok tani di Kecamatan Kabandungan, Sukabumi. Kemudian ada juga penggunaan daun sirsak untuk mengendalikan hama wereng di kelompok tani Mekar Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, serta contoh lainnya. Teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan perlu dilakukan sebagai salah satu bagian dari pertanian ramah lingkungan. Semoga kedepannya semakin banyak para petani yang mulai menerapkan pengendalian hama lingkungan yang ramah lingkungan. Penulis : Evrina Budiastuti, SP Jabatan : Penyuluh Pertanian Muda BPP Dramaga Sumber Informasi: Dinas Pertanian Tanaman Pangan. 2013. Buku Pedoman Pengendalian OPT Tanaman Pangan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bandung. 299hal.