Loading...

Pengendalian Penyakit Antraknosa Pada Cabe

Pengendalian Penyakit Antraknosa Pada Cabe
PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA CABE Cabe merupakan komoditas sayur yang banyak dibudidayakan oleh petani. Permasalahan umum yang biasa dialami petani salah satunya adalah serangan hama dan penyakit. Salah satu ancaman bagi petani cabe adalah penyakit antraknose atau busuk buah. Penyakit ini berpeluang menurunkan hasil panen hingga 80%. Jika serangan meluas bisa menyebabkan petani gagal panen. Penyakit patek merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai keriting, cabai besar dan cabai rawit karena banyak mendatangkan kerugian bagi para petani. Penyebab penyakit antraknosa ini adalah jamur Colletotrichum acutatum Simmon. Penyakit antraknose yang disebabkan oleh jamur C. acutatum dapat menyerang semua fase buah cabai baik yang masak maupun yang masih muda, tetapi tidak menyerang daun dan batang tanaman cabai. Gejala awal penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak yang agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair, berwarna hitam, orange dan coklat. Warna hitam merupakan struktur dari cendawan (mikro skelerotia dan aservulus), apabila kondisi lingkungan lembab tubuh buah akan berwarna orange atau merah muda. Luka yang ditimbulkan akan semakin melebardan membentuk sebuah lingkaran konsentris dengan ukuran diameter sekitar 30 mm atau lebih. Dalam waktu yang tidak lama buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk, ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan. Serangan yang berat menyebabkan seluruh buah keriput dan mengering. Warna kulit buah seperti jerami padi. Penyakit antraknosa dapat dicegah dengan menggunakan benih sehat yang tahan dengan penyakit antraknosa misalnya cabe rawit lokal. Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan, terutama cabang air (wiwilan), penyiangan gulma dan pengaliran air yang tergenang. Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantulkan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi. Disamping itu penggunaan mulsa plastik untuk menghidari penyebaran spora melalui percikan air hujan. Gunakan jarak tanam yang agak lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar. Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi. Sebaiknya gunakan pupuk dasar NPK yang rendah kandungan nitrogennya dengan kocoran karena unsur N akan membuat tanaman menjadi rimbun yang akan meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman. Pengendalian Penyakit Antraknosa : Gunakan benih sehat. Jangan menggunakan biji cabai yang sudah terinfeksi, karena spora jamur tersebut dapat bertahan pada benih cabai. Tanamlah varietas cabai yang lebih tahan patek, biasanya rawit lokal lebih tahan terhadap penyakit patek Gunakan agensia hayati antagonis atau memanfaatkan mikroba Pseudomonas fluorescens dan Bacillus subtilis. Gunakan agensia antagonis dengan memanfaatkan Trichoderma spp. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa Trichoderma dapat menghambat laju perkembangan jamur C. acutatum penyebab penyakit antraknos. Lakukan perendaman biji dalam air panas (sekitar 55oC) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0,05–0,1%) sebelum ditanam atau menggunakan agens hayati. Lakukan penyemprotan dengan fungisida atau agens hayati yang tepat terutama tanaman berumur 20 hari di persemaian atau 5 hari sebelum dipindahkan ke lapangan. Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan, terutama cabang air (wiwilan), penyiangan gulma, dan pengaliran air yang tergenang. Semua faktor tersebut merupakan bagian dari tindakan pencegahan, yang ditujukan agar lingkungan sekitar tanaman tidak lembab, mengingat patek (antraknos) disebabkan oleh jamur yang perkembangannya sangat didukung oleh lingkungan yang lembab. Memusnahkan bagian tanaman, baik daun, batang atau buah yang terinfeksi. Lakukan penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (terong, tomat dll.) atau tanaman inang lainnya. Penggunaan fungisida fenarimol, triazole,klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya. Ditulis oleh : Renny Widyastuti, SP (Penyuluh Pertanian Pertama pada Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Trenggalek) Referensi : http://jambi.litbang.pertanian.go.id/eng/images/PDF/14bookcabe.pdf http://hortikultura.litbang.pertanian.go.id/IPTEK/2_Hasyim_Patek2014.pdf