Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA TANAMAN CABAI

PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA TANAMAN CABAI
PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA TANAMAN CABAI Antraknosa adalah penyakit terpenting yang menyerang tanaman cabai di Indonesia. Penyakit ini distimulir oleh kondisi lembab dan suhu relatif tinggi. Penyakit antraknosa dapat menyebabkan kerusakan sejak dari persemaian sampai tanaman cabai berbuah dan merupakan masalah utama pada buah masak. Penyakit antraknosa yang menyerang tanaman cabai mengakibatkan kerugian sampai 65%.Penyakit antraknosa yang disebabkan oleh cendawa Colletotrichum capsici dan Goeosporium piperatum. Jamur Colletotrichum capsici merupakan jamur patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman cabai, sehingga menyebabkan kerugian 25-30% pada buah setelah panen dan juga pada tempat penyimpanan. Periode inkubasi Colletotrichum capsici antara 507 hari atau 406 hari setelah inokulasi. Suhu optimum untuk pertumbuhan jamur antara 24-30ºC dengan kelembaban relatif 80-92%.Pengendalian1. Untuk mengurangi sumber infeksi agar serangannya tidak meluas, maka tanaman yang terserang dicabut dan dimusnahkan2. Jika kerusakan tanaman telah mencapai ambang pengendalian dilakukan penyemprotan fungisida yaug dianjurkan misalnya difenokonazol (Score 250 EC, 2 ml/l ), klorotalonil (Daconil 5000 f, 2 g/l)Alternatif pengendalian penyakit karapak/antraknos yang ramah lingkungan adalah sebagai berikut :1. Pergiliran tanaman2. Menggunakan benih yang dipanen pada waktu musim kemarau.3. Usahakan benih yang diambil berasal dari panen cabe ke 6-8. 4. Tidak mengikut sertakan biji yang berbentuk dan berwarna abnormal.5. Beri perlakuan perendaman dengan air panas ± 55°C selama 30 menit.6. Menanam cabe dengan sistim zigzag atau sistim segitigaFUNGISIDA NABATI1. Larutan Nimba Diambil daun nimba dari lapangan, kemudian dicuci dengan air bersih. Ditimbang dengat berat 100 gr. Daun Nimba selanjutnya diblender. Daun nimba yang telah diblender dicampur dengan 1 L air dan dimasukkan kedalam ember. Direndam selama 24 jam. setelah 24 jam larutan disaring dengan kain halus atau kain kasa. Larutan hasil saringan telah siap digunakan.2. Larutan Sirih Diambil daun Sirih dari lapangan, kemudian dicuci dengan air bersih. Ditimbang dengan berat 100 gr. Daun sirih selanjutnya diblender. Daun sirih yang telah diblender dicampur dengan 1 L air dan dimasukkan kedalam ember. Direndam selama 24 jam. setelah 24 jam larutan disaring dengan kain halus atau kain kasa. Larutan hasil saringan telah siap digunakan.3. Larutan Cengkeh Diambil daun cengkeh dari lapangan kemudian dicuci dengan air bersih. Ditimbang dengat berat 100 gr. Daun cengkeh selanjutnya diblender. Daun cengkeh yang telah diblender dicampur dengan 1 L air dan dimasukkan kedalam ember. Direndam selama 24 jam. Setelah 24 jam larutan disaring dengan kain halus atau kain kasa. Larutan hasil saringan telah siap digunakan. 4. Larutan Gambir Gambir di haluskan sebanyak 10 gr kemudian dicampur dengan 1 L air. setelah larut, larutan direndam selama 24 jam kemudian disaring dan siap digunakan. Aplikasi Fungisida Larutan nimba, sirih, cengkeh dan gambir yang telah siap, sebelum aplikasi ditambahkan air sebanyak 10-14 liter, dan disemprotkan pada sore hari dan Aplikasi dilakukan setiap satu minggu sekali.? Fungisida yang paling efektif dalam mengendalikan serangan antraknosa adalah larutan Nimba diikuti dengan larutan cengkeh, sirih dan Gambir.? Serangan penyakit antraknosa yang dikendalikan dengan benar dapat menekan penurunan produksi cabai dan menghasikan cabai yang sehat dan berkualitas. NURUL FAIZAH, S.Pt.BALAI PENYULUHAN KEC. PAGERUYUNG KAB. KENDAL