PENGENDALIAN PENYAKIT BLASPADA TANAMAN PADI MELALUI PENGELOLAAN KOMPONEN EPIDEMI PENYAKIT SECARA BAIK Penyakit blas adalah penyakit bercak daun pada tanaman padi yang disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea dikenal juga dengan nama Pricularia oryzae. Selain daun, penyakit ini juga menyerang pelepah, batang dan bulir padi. Pada awalnya penyakit blas banyak menyerang tanaman padi gogo, namun kini penyakit blas juga menyerang tanaman padi sawah. Berdasarkan informasi dari Balitbang Pertanian RI, NTB adalah salah satu provinsi endemik penyakit blas. Jamur P. grisea (Priculariaoryzae) dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai pathogen tular benih (seed borne).Gejala penyakit blas daunSecara fisik mudah terdeteksi pada seluruh bagian tanaman padi. Gejala dapat dideteksi jika terlihat adanya bercak pada daun, malai ,batang dan bulir padi. Bercak pada daun berbentuk belah ketupat atau lonjong. Pada bagian tepi bercak berwarna kecoklatan dan pada bagian tengah bercak berwarna abu-abu atau putih. Serangan pada malai terlihat jika ada tangkai malai yang membusuk. Gejala yang terjadi pada malai biasa disebut juga dengan busuk leher (neck rot). Busuk leher akan menyebabkan gabah hampa jika serangan terjadi sebelum masa pengisian bulir. Sedangkan infeksi yang terjadi pada batang padi menyebabkan busuk batang dan mudah rebah.Penyakit blas leher Blas leher sering disebut busuk leher, patah leher, Penyakit blas juga dapat berkembang pada tanaman selain padi seperti gandum dan spesies rumput-rumputan. Pada lingkungan yang kondusif, blas daun berkembang pesat dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit blas leher di daerah endemis sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso, Penyebaran spora cendawan Pyricularia grisea (Priculariaoryzae) dibantu oleh angin dan dapat mencapai radius 2 km. Tanaman inang juga berperan dalam penyebaran penyakit ini, antara lain tanaman padi, rerumputan dan jagung. Selain itu faktor pemupukan dan jarak tanam juga berpengaruh terhadap perkembangan penyakit blas. Penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan menyebabkan tanaman menjadi lemah dan rentan terhadap serangan cendawan Pyricularia grisea (Priculariaoryzae). Jarak tanam yang terlalu rapat menyebabkan lingkungan menjadi lembab. Cendawan Pricularia oryzae berkembangbiak dengan cepat pada kondisi lingkungan yang lembab. Pengendalian Penyakit Blas pada Tanaman PadiPengendalian dan pencegahan penyakit blas pada tanaman padi sawah dengan menggunakan pestisida selama ini masih menjadi pilihan utama petani, hal ini dikarenakan pestisida dianggap sebagai langkah yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit. Apalagi diketahui penyakit blast pada kondisi yang menguntungkan mampu berkembangbiak dengan cepat. Namun disisi lain pengendalian penyakit yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah baru yang serius (kesehatan, pemborosan, resistensi penyakit, residu pestisida, pencemaran lingkungan, dsb). Untuk mengurangi dampak negative diatas salah satu upaya untuk mengendalikan penyakit blas yaitu melalui pengelolaan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit blas seperti tanah, pengairan, kelembaban, suhu, pupuk dan ketahanan varietas. Faktor-faktor tersebut merupakan komponen epidemi penyakit yang dapat dikelola untuk tujuan pengendalian penyakit blas. Upaya untuk mengendalikan penyakit blas melalui pengelolaan komponen epidemi secara terpadu mempunyai peluang keberhasilan yang tinggi.Tanah/lahanLahan yang terletak rendah dengan aerasi dan drainase yang buruk akan lebih memberi kesempatan timbul epidemi dan epideminya berkembang. PengairanPengairan yang terus menerus terutama pada musim hujan meningkatkan kelembaban tanah, menurunnya suhu lingkungan budidaya memperbesar potensi serangan penyakit blast.KelembabanKelembaban yang berlebihan, berlangsung lama atau terjadi berulangkali, sangat membantu perkembangan epidemi penyakit. Kelembaban yang sangat tinggi akan meningkatkan aktivitas beberapa vektor, seperti kutu daun, wereng dan serangga vector lain.SuhuTemperatur/suhu 24 °c – 28 °c adalah kondisi optimum untuk perkembangan blasPupukPemupukan nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi.KetahananVarietasTanaman akan berubah kerentanannya terhadap penyakit sejalan dengan umur tanaman tersebut. Upaya lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan varietas tahan adalah dengan tidak menanam padi secara monogenik (1 atau 2 varietas) secara luas dan terus menerus. Lakukanlah pergiliranvarietas. Sumber :1. Mitalom.com/Pengendalianpenyakit blast padisawah