Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT BULAI PADA TANAMAN JAGUNG

PENGENDALIAN PENYAKIT BULAI  PADA TANAMAN JAGUNG
Penyakit bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang apabila tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan kehilangan hasil sampai 100%. Penyakit ini menyerang pada tanaman jagung varietas rentan hama penyakit dan umur muda (1-2 MST) maka kehilangan hasil akibat infeksi penyakit ini dapat mencapai 100% (Puso). Masa kritis tanaman jagung terserang bulai berlangsung sejak benih ditanam hingga usia 40 hari. Gejala khas bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada daun permukaan atas dan bawah terdapat warna putih seperti tepung dan ini sangat jelas pada pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan Proses infeksi cendawan Peronosclrospora spp. dimulai dari konidia jatuh dan tumbuh dipermukaan daun jagung serta berkembang membentuk appressoria lalu masuk kedalam jaringan tanaman muda melalui stomata, selanjutnya terjadi lesion local dan berkembang sampai ketitik tumbuh, menyebabkan infeksi sistemik sehingga terbentuk gejala bulai Dibawah ini sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit bulai: Penggunaan varietas tahan seperti jagung hibrida varietas Bima-1, Bima-3, Bima-9, Bima-14 dan Bima-15 serta jagung komposit varietas Lagaligo dan Lamuru. Periode bebas tanaman jagung hal ini dikhususkan kepada daerah-daerah endemik bulai dimana jagung ditanam tidak serempak, sehingga terjadi variasi umur yang menyebabkan keberadaan bulai dilapangan selalu ada, sehingga menjadi sumber inokulum untuk pertanaman jagung berikutnya. Sanitasi lingkungan pertanaman jagung sangat perlu dilakukan oleh karena berbagai jenis rumput-rumputan dapat menjad inang bulai sehingga menjadi sumber inokulum pertanaman berikutnya. Rotasi tanaman dengan tujuan untuk memutus ketersediaan inokulum bulai dengan menanam tanaman dari bukan sereal. Eradikasi tanaman yang terserang bulai. Penggunaan fungisida (b.a. Metalaksil) sebagai perlakuan benih (seed treatment) untuk mencegah terjadinya infeksi bulai lebih awal dengan dosis 2,5 -5,0 g/kg benih. Ditulis ulang oleh : Rahmawati BBP2TP Bogor Sumber : Balai Penelitian Tanaman Serealia Gambar : Balai Penelitian Tanaman Serealia