OLEH:MARIANA, SPKABUPATEN MUSI RAWAS2019 Tanaman karet merupakan salah satu komoditi andalan di Kecamatan Sumberharta. Permasalahan utama pada perkebunan karet rakyat adalah rendahnya produktivitas hasil yang disebabkan oleh rendahnya adopsi teknologi oleh petani, terutama penggunaan bahan tanam unggul, pemupukan , dan pengendalian penyakit. Jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidiporusmicroporus merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman karet. Penyakit jamur akar putih menimbulkan kematian pada tanaman karet, sehingga serangan penyakit ini akan berpengaruh negatif pada produksi kebun. Menurut hasil perhitungan Situmorang (2004) penurunan produksi karet kering terjadi rata-rata 2.7 kg/pohon atau 54 kg/pohon/20 tahun. Sejak tahun 1995 World Agroforestry Centre (ICRAF), salah satu lembaga riset internasional yang bekerja sama dengan CIRAD-Perancis, GAPKINDO, dan Pusat Penelitian Karet (Balai Penelitian Karet Sembawa), giat melakukan penelitian di bidang wanatani berbasis karet unggul (Rubber Based Agroforestry System atau RAS) (Wibawa, et al., 2006) di Indonesia (Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Sumatera Barat). Penyakit JAP yang disebabkan oleh R. microporus adalah penyakit tidak hanya menyerang tanaman karet, namun juga menyerang berbagai tanaman tahunan. Langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit yang mematikan ini.. Menurut Pawirosoemardjo (2004) masalah penyakit jamur akar putih sering timbul pada lahan kebun karet diremajakan, atau lahan hutan yang dikonversi menjadi kebun karet. Hasil penelitian Situmorang (2004) memperlihatkan bahwa kebun karet yang dibangun pada areal bekas alang-alang, tingkat kematian pada umur 14 tahun sebesar 0%. Upaya-upaya pengendalian jamur akar putih Pengendalian dilakukan terhadap plot yang sudah terserang jamur akar, terutama pada tanaman karet yang sudah berproduksi. Perlakuan pengobatan dengan tingkat serangan JAP<10% dilakukan kasus pohon per pohon dengan pengobatan tanaman tetangga disekitarnya dengan hanya menggunakan bahan kimia (Bayleton), sementara pada lokasi dengan tingkat serangan JAP>10%, perlakuan pengobatan dilakukan pada semua pohon dengan kandungan bahan kimia (bayleton) dan biologis (Trico-SP). Pemberian bahan kimia dan biologis dilakukan secara bersamaan dengan membagi plot menjadi dua bagian yang relatif sama. Pengulangan pengobatan dilakukan 1-2 kali setiap enam bulan. Cara pengaplikasian Bayleton Bayleton 5 cc/l dicampur dengan air sampai menjadi satu liter, disiramkan di sekitar pangkal pohon dengan sebelumnya membuat parit keliling agar campuran bayleton tersebut dapat terserap hingga ke daerah perakaran tanaman. Berdasarkan umur tanaman, campuran bayleton tersebut diberikan sebanyak 250 ml/pohon (< 1 tahun), 500 ml/pohon (2-3 tahun) dan 1000 ml/pohon > 3 tahun). Pada perlakuan pengobatan diberikan 1000 ml/pohon yang diulang setiap enam bulan sekali Cara pengaplikasi Trico-SP Bahan berbentuk serbuk yang mengandung Trichoderma sp ini dicoba pada tanaman muda dan sudah menghasilkan. Penggunaan 50 gram/pohon diberikan untuk pencegahan serangan JAP pada tanaman saat di polibag dan saat ditanam di lapangan, sementara 100gram/pohon diberikan pada pohon yang sudah terserang. Bahan ini dicampur dengan tanah di polibag dan dilubang tanam, sementara untuk tanaman yang sudah menghasilkan, terlebih dahulu dibuat parit keliling radius 0.5 m dari pangkal pohon yang akan diisi oleh Trico-SP dan ditutup kembali dengan tanah. Berdasarkan hasil pengamatan satu tahun setelah aplikasi, pada kasus pohon per pohon, dimana hanya beberapa pohon dengan tetangga terdekatnya yang diobati, kematian karet pada sub plot yang diberi perlakuan bayleton sebesar 5.3%, sedangkan sub plot dengan perlakuan Trico-SP adalah sebesar 8.1%. Aplikasi bayleton dan Trico-SP pada semua pohon dalam plot memperlihatkan kematian satu tahun setelah aplikasi sebesar 5.3% dan Trico-SP sebesar 5.1%. Dengan relatif rendahnya tingkat kematian setelah satu tahun pengobatan, dua cara pengendalian tersebut sangat diperlukan untuk menahan dan mengontrol serangan JAP, terutama dalam penggabungan penggunaan Trico-SP di tingkat pencegahan dan Bayleton pada pengobatan lebih lanjut. Okulasi Langsung Salah satu cara yang diuji untuk mengurangi serangan JAP adalah dengan meminimalkan pelukaan terhadap akar tanaman karet, karena pelukaan akan memudahkan terjadinya infeksi penyakit ini. Okulasi yang dilakukan pada batang bawah yang ditanam langsung di lapangan dengan jarak tanam 6m x 3m diduga dapat mengurangi serangan JAP karena system perakaran yang kuat dan sehat. Biji klonal GT1 yang sudah disemai dan berkecambah, kemudian dipindah ke lapangan dengan jarak tanam 6m x 3m. Pada setiap titik, ditanam tiga kecambah karet yang dipersiapkan sebagai batang bawah untuk diokulasi dengan klon PB 260 pada umur sekitar 6 bulan, langsung di tempat. Satu hasil okulasi yang berhasil akan dipelihara sebagai tanaman kebun, sedangkan, dua tanaman lainnya dicabut dan dipindahkan dan dimanfaatkan oleh petani (ditanam di kebun lain atau di jual). Pengamatan pendahuluan pada potensi JAP di lahan yang digunakan, ditandai dengan adanya tunggul dan lapukan kayu bekas hutan karet tua yang dikonversi menjadi ladang melalui persiapan tebas, tebang dan bakar. Gejala awal ditandai dengan munculnya benang-benang (miselia) di perakaran tanaman karet pada hasil okulasi yang dicabut/dipindahkan (OMAT) sudah mencapai 10%. Pengamatan ini dilanjutkan dengan mengamati jumlah pohon yang mati akibat serangan JAP. Pemanfaatan titik tanam karet yang mati terserang jamur akar putih Tanaman karet yang mati akibat serangan JAP akan meninggalkan ruang kosong di barisan karet, sehingga menggantinya dengan tanaman baru harus memperhatikan naungan dari karet yang sudah tumbuh. Pertumbuhan tanaman menurun dengan berkurangnya intensitas sinar radiasi (Lasminingsih et al, 2005), sementara di umur 2 tahun naungan diantara karet sudah terbentuk yang menyebabkan pertumbuhan tanaman pengganti sangat lambat. Untuk itu, penggunaan ruang kosong di barisan karet dapat ditanami dengan pohon kayu atau buah yang mampu tumbuh di bawah naungan karet. Kematian tanaman karet yang diakibatkan oleh jamur akar putih lebih tinggi pada kebun yang berasal dari hutan karet tua dibandingkan dengan pada lahan yang berasal dari semak belukar(bera/bawas), atau resam. Pengendalian jamur akar putih sebaiknya dilakukan dengan kombinasi antara cara kimia dan cara biologis, walaupun cara kimia menunjukkan hasil lebih efektif daripada biologis pada aplikasi pohon per pohon. Pengendalian JAP dengan cara biologis dilakukan lebih banyak untuk pencegahan perkembangan JAP. Upaya pengendalian jamur akar putih pada kondisi asal lahan hutan karet dengan penerapan okulasi batang bawah yang ditanam langsung di lahan calon kebun (okulasi di tempat) cukup efektif untuk mengendalikan JAP. Pengamatan lanjutan atas pengujian cara okulasi langsung ini masih terus dilakukan. Pohon yang mati akibat JAP dapat digantikan dengan penanaman pohon lain yang mempunyai nilai ekonomi seperti gaharu, tengkawang, terindak, durian dan pekawai. Pohon yang dipilih adalah pohon yang toleran terhadap naungan. Pawirosoemardjo, S. 2004. Manajemen pengendalian penyakit penting dalam upaya mengamankan target produksi karet nasional tahun 2020. Prosiding Pertemuan Teknis, Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa. Hal : 21-45 Situmorang, A. 2004. Status dan manajemen pengendalian jamur akar putih di perkebunan karet. Prosiding Pertemuan Teknis. Pusat Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa. Hal : 66-86