Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA TANAMAN TOMAT

PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM   PADA TANAMAN TOMAT
Pendahuluan Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) merupakan salah satu komoditas unggulan hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi dan memiliki potensi ekspor yang sangat besar (Rahayuniati dan Mugiastuti, 2009). Buah tomat banyak dimanfaatkan sebagai sayuran, bumbu masak, minuman, dan sebagai bahan baku industri, bahan pewarna makanan, dan kosmetik. Tomat dikenal sebagai pangan sumber vitamin A dan vitamin C, juga mengandung protein, karbohidrat, Ca, Fe, Mg, fosfat, kalium dan likopen yang berperan sebagai antioksidan (Siagian, 2005). Rata-rata pertumbuhan konsumsi buah tomat di Indonesia pada tahun 2007-2011 sebesar 2,1%, yang akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Sementara produktivitas tomat masih rendah jika dibandingkan dengan produktivitas optimal tomat yang dapat mencapai 50 ton/ha. Saat ini rata-rata produktivitas baru mencapai 15.84 ton/ha. Kondisi ini disebabkan banyaknya serangan hama dan penyakit. Salah satu kendala penting yaitu serangan patogen Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Fol) penyebab penyakit layu pada tanaman tomat. Jamur ini merupakan patogen tular tanah yang mampu bertahan dalam jangka waktu lama dalam bentuk klamidospora (struktur bertahan) meskipun tidak ada tanaman inang dan menyerang pada semua stadia umur. Secara ekonomi penyakit layu merugikan karena sampai saat ini belum ada pengendalian kimiawi yang efektif. Perkembangan Spora Cendawan Fusarium oxysporum Cendawan Fusarium oxysporum mampu menghasilkan tiga tipe spora, yaitu mikrokonidia, makrokonidia, dan klamidospora. Mikrokondidia spora diproduksi oleh cendawan ini di dalam jaringan tanaman terserang. Sementara makrokonidia spora diproduksi dipermukaan tanaman yang mati setelah terserang atau terinfeksi. Sedangkan klamidospora merupakan spora yang terdapat pada tanah yang sudah terinfeksi. Klamidospora mampu bertahan selama 30 tahun di dalam tanah masih dapat menimbulkan dan menyebabkan penyakit. Mikrokonidia, makrokonidia, dan klamidospora dapat menyebar dengan bantuan air, peralatan pertanian, maupun kegiatan budidaya. Klamidospora merupakan jenis spora yang sangat aktif menginfeksi tanaman sehat melalui luka pada akar, maupun titik tumbuh akar lateral. Setelah masuk xilem, miselium bercabang dan menghasilkan mikrokondidia yang akan terus berkecambah di dalam jaringan tanaman. Pertumbuhan mikrokonidia spora ini mempengaruhi pasokan air, sehingga tanaman menjadi lemas dan akhirnya mati. Cendawan Fusarium oxysporum bersifat polifag, memiliki banyak tanaman inang, terutama tanaman sayuran. Beberapa jenis tanaman yang paling rentan terhadap serangan penyakit ini adalah cabai, pisang, terong, tomat, kubis, seledri, jeruk kopi, kapas, mentimun, melon, kedelai, labu, bawang merah, semangka, dan lain-lain Gejala Serangan Gejala awal, cabang bagian bawah tanaman terlihat layu, menguningnya daun-daun tua yang kemudian menjalar ke atas. Tulang daun memucat dan berwarna keputihan. Tanaman terkulai karena penyerapan unsur hara maupun air tidak bisa dilakukan, yang disebabkan berkas pembuluh pengangkut membusuk. Jika tanah di sekitar lubang tanam dibongkar, tampak akar tanaman membusuk dan berwarna kecokelatan. Jika pangkal batang dipotong secara melintang, terdapat lingkaran cokelat kehitaman berbentuk cincin, yang menunjukkan bahwa berkas pembuluh pengangkut rusak. Jika menyerang pembibitan, tunas tiba-tiba layu dan tanaman mati. Cara Mencegah penyakit layu fusaium melalui tular benih Pastikan benih dalam kondisi baik lalu pilih benih yang sehat, tanpa cacat, Rendam benih pada cairan Pupuk Organik Cairdengan prosesntase 10% selama 30 menit, kemudian kering anginkan agar benih tidak lembab. Jika ada satu tanaman yang terserang oleh penyakit ini, maka cabutlah tanaman tersebut dan berikan pestisida pada tanahnya. Pengontrolan yang intensif harus dilakukan. Mengatur drainase pada lahan, jangan sampai terdapat genangan air supaya dapat mencegah penyebaran patogen penyebab penyakit Mengurangi penggunaan pupuk yang berkadar N tinggi Melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang berbeda famili dengan tomat Menggunakan varietas unggul yang tahan terhadap penyakit. Penggunaan pupuk kompos sebanyak 40 gr/lubang saat persemaian, pembubunan dan tanam Pengendalian Cara Teknis Lakukan penggiliran tanaman dengan tanaman yang tidak rentan terhadap serangan Fusarium oxysporum. Pengolahan lahan dengan pencangkulan dan pembalikan tanah, agar bibit penyakit terkena sinar matahari. Pengapuran lahan untuk meningkatkan pH tanah. Pada pH mendekati normal, cendawan tidak begitu aktif menyerang. Jaga kelembaban di areal pertanaman, hindari adanya genangan air yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan spora. Cara Mekanis Sanitasi kebun untuk menjaga kelembaban areal pertanaman. Penyiangan secara rutin terhadap gulma atau tanaman penggangu. Musnahkan tanaman terserang, usahakan agar tanah pada tanaman terserang tidak tercecer. Masukkan tanaman dalam wadah agar tanahnya tidak tercecer. Beri kapur pada bekas tanaman yang dicabut. Cara hayati/organik Mengunakan jamur trichoderma pada saat persiapan lahan, pada umur 25 hst, 40 hst juga Jamur Trichoderma sp. mampu menekan serangan jamur F. oxysporum penyebab penyakit layu sampai 24.50% pada umur 77 HST. Lakukan pengocoran saat umut 70 hst dengan pestisida organik pada tanah, atau pengocoran dengan air rebusan serai atau bawang putih setiap tujuh hari sekali. Penggunaan harzianum yang dipadu abu sekam mampu menurunkan intensitas penyakit menjadi 17% dan pemberian abu sekam mampu menekan perkembangan pathogen sebesar 38,96 persen. Cara Kimiawi Gunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Lakukan penyemprotan secara rutin minimal tujuh hari sekali. Penyusun : Nasriati Sumber : Fakultas Pertanian Unsoed, Unpad