Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT PADA ITIK SERATI (BAGIAN II)

PENGENDALIAN PENYAKIT PADA ITIK SERATI (BAGIAN II)
1. Pullorum (Berak kapur) Penyebabnya bakteri Salmonella pullorum, bila menyerang itik umur 3-15 hari berakibat kematian tinggi. Tanda penyakit yang nampak adalah adanya kotoran warna putih lengket seperti pasta dan menempel pada dubur, tubuh lemah, lesu dan mengantuk kedinginan, cepat terengahengah, bulu kusam, sayap menggantung kadang terjadi kelumpuhan. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang serta makanan dan minum, isolasi itik yang sakit. Pengobatan dengan obat jenis sulfa dan antibiotik. 2. Penyakit Cacing Penyebabnya terbagi jenis cacing menyerang pada itik yang dilepas. Tanda penyakit adalah nafsu makan berkurang, mencret, bulu kusam, kurus dan produksi turun. Pencegahan harus dijaga kebersihan kandang jaga kelembabannya, sanitasi kandang dan makan, minum. Pengobatan dengan memberikan obat cacing minimal 3 bulan sekali. 3. Lumpuh Penyebabnya adalah karena kekurangan vitamin A. Tanda klinisnya cukup jelas yaitu kelumpuhan pada kakinya. Selain itu, sekeliling mata tampak mengering dan itik tampak lesu seperti mengantuk. Namun, ada kalanya keluar air mata yang berlebihan. Penyakit ini sebenarnya dapat ditanggulangi dengan pemberian hijauan segar, minimal 5 gram per ekor per hari. Begitu juga dengan pemberian minyak ikan atau vitamin A sintesis yang banyak dijual di toko makanan unggas, apat dijadikan suatu usaha penanggulangan. Ada 3 hal yang berperan dalam pencegahan penyakit dan dalam kesuksesan seorang peternak itik, yaitu : a. Bibit yang dibeli dan dipelihara. Pilihlah bibit yang sesuai untuk maksud pemeliharaan. Bila hendak memelihara itik bertelur, berarti sasarannya adalah mengu8mpulkan telur. Pilih bibit yang terkenal daya tahan dan produksi telurnya. b. Tata laksana. Hal ini nampaknya rutin dan remeh, tetapi paling berpengaruh terhadap datang atau tidaknya penyakit. Tata laksana, meliputi pembersihan kandang dan peralatannya secara rutin, penyemprotan disinfektan pada kandang, pembuatan kandang yang sesuai dengan kondisi itik, dan lain sebagainya. c. Makanan dan pemberian makanan. Makanan atau pakan sangat mempengaruhi daya tahan itik terhadap penyakit dan juga produksinya, baik telur maupun daging. Untuk itu perlu pakan pelengkap. Pakan pelengkap dari bahan-bahan alami yang mengandung protein, vitamin dan mineral. Peran pakan pelengkap adalah meningkatkan kekebalan tubuh itik dan meningkatkan produksinya, daging dan telur. Dosis yang diberikan harus sesuai dengan umur dan kondisi itik. 4. Coccidiosis Gejala : Itik menjadi lemah, nafsu makannya hilang. Kotorannya encer dan kadang bercampur darah. Coccidiosis merupakan penyakit infeksi usus yang disebabkan oleh protozoa yang disebut coccidia. Penularannya bisa melalui air minum, juga makanan yang sudah tercemar oleh coccidia. Pencegahannya adalah dengan sanitasi yang baik terutama makanan dan air minum yang terjaga kebersihannya. Namun kalau penyakit ini sudah terlanjur menyerang, maka itik yang terkena harus segera disingkirkan. Selanjutnya dapat diberikan pengobatan sulfaquinoxalin 0,04% yang dilarutkan dalam air lalu diminumkan. Pemberiannya selama 2-3 hari. Obat lainnya juga dapat diberikan, seperti sulfadimidin ataupun tetrasulfa. Vaksinasi Vaksinasi merupakan upaya untuk mencegah penyakit tertentu yang dianggap merupakan ancaman besar. Vaksinasi biasanya dilakukan untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit seperti ini tidak ada obatnya sehingga satu-satunya jalan adalh dengan memasukkan bibit penyakit (virus) yang telah dilemahkan ke dalam tubuh ternak. Dengan cara ini, di dalam tubuh ternak akan terbentuk upaya melawan bibit penyakit lemah tadi sehingga terbentuklah antibodi yang mampu melawan bibit penyakit. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM, Penyuluh Pertanian Madya pada Pusat Penyuluhan Pertanian, Sumber: Balai Penelitian Ternak, Badan Litbang Pertanian, Ir. Supriyadi MM Panduan Lengkap Itik, Ir. Sandhy Sakti Windhayarti: Beternak Itik Tanpa Air.)