Loading...

pengendalian penyakit pada tanaman cabai (capsicum annum)

pengendalian penyakit pada tanaman cabai (capsicum annum)
pengendalian penyakit pada tanaman cabai (capsicum annum) ppl desa bonto karaeng ramlah, sp latar belakang cabai (capsicum annum)merupakan tanaman hortikultura yang sangat penting dan prospektif di indonesia. dalam rangka pengembangan tanaman cabai di pulau sulawesi, masih banyak kendala yang sering dihadapi, antara lain sosial ekonomi, adopsi teknologi, kendala abiotik dan biotik. kendala abiotik disebabkan oleh antara lain faktor iklim, tata air, ketersediaan hara, sedangkan kendala biotik disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman (opt). penyakit adalah suatu aktifitas fisiologis yang disebabkan karena gangguan terus menerus oleh faktor penyebab primer dan dinyatakan melalui aktifitas yang abnormal serta ditunjukkan dalam patologis yang khas yang disebut gejala.penyakit tanaman disebabkan oleh mikroorganisme seperti cendawan, bakteri, virus, dan nematoda.gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat, dan kondisi yang tidak diinginkan karena nilai negatifnya (merugikan kepentingan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung) melebihi nilai positifnya (daya-gunanya bagi manusia). serangan hama, patogen penyebab penyakit, dan gulma menyebabkan penurunan kuantitas maupun kualitas produk, bahkan dapat menggagalkan panen. dalam rangka mengendalikan serangan dan populasi opt, masih sangat banyak petani yang hanya menggunakan pestisida yang dilakukan secara terjadwal dan tidak bijaksana. pengendalian dengan pestisida ini mengakibatkan bertambahnya biaya produksi, menimbulkan ketahanan opt, meningkatnya populasi opt, mengakibatkan pencemaran lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia. konsep pengendalian opt terpadu konsep pengendalian opt yang semula berdasar pada pengetahuan biologi dan ekologi, semakin ditinggalkan dan diubah menjadi konsep pengendalian hama yang hanya bertumpu pada penggunaan pestisida. hal ini disebabkan karena pestisida menunjukkan hasil yang efektif dan efisien di banding cara pengendalian yang lain, sehingga mendatangkan keuntungan ekonomi yang besar bagi petani. kondisi ini mengakibatkan penggunaan pestisida sejak tahun 1950-an semakin tinggi di seluruh dunia, sehingga timbul kesan dan pandangan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian atau program peningkatan produksi tidak dapat dilepaskan dari jasa pestisida. semakin banyak pestisida yang digunakan, semakin baik karena produksi semakin meningkat (untung, 2001). pestisida juga sering diberi istilah obat-obatan pertanian.banyak orang melupakan atau tidak mengetahui hakekat dan sifat pestisida karena tertutupi oleh keberhasilan pestisida. bagaimanapun pestisida merupakan bahan racun pembunuh/ pembasmi opt yang juga dapat membunuh organisme lain yang bukan sasaran di ekosistem, padahal organisme ini yang paling banyak dijumpai di lingkungan pertanian. dampak samping negatif penggunaan pestisida selain terhadap opt adalah dampak terhadap kualitas lingkungan hidup dan kesehatan manusia. pestisida sebagai bahan beracun termasuk bahan pencemar yang berbahaya dan relatif persisten sehingga residu yang ditinggalkan tersebar di setiap tempat di lingkungan sekitar kita, baik di tanah, air, udara dan makanan. apabila kegiatan penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dan berlebihan terus menerus dilakukan dan tidak terkendali, maka akan menurunkan kualitas dan daya dukung lingkungan, karena terjadi akumulasi kandungan pestisida hingga mencapai kadar yang membahayakan sehingga merugikan generasi mendatang. komponen pengendalian opt secara terpadu secara operasional, pengendalian opt secara terpadu merupakan perpaduan beberapa teknik pengendalian secara serasi yang dikembangkan dalam satu kesatuan koordinasi pengelolaan sehingga populasi opt dapat diturunkan atau tetap berada pada tingkat yang tidak menimbulkan kerugian. sehingga dari definisi-definisi tersebut dapat diketahui bahwa dalam penerapannya harus memperhitungkan dampaknya, baik yang bersifat ekologis, ekonomis, dan sosiologis sehingga secara keseluruhan akan memperoleh hasil yang terbaik, karena itu dalam perencanaan, penerapan dan evaluasinya harus mengikuti suatu sistem pengelolaan yang terkoordinasi dengan baik. konsep ini berkembang dan diterapkan sampai saat ini dengan komponen: pengendalian secara bercocok tanam pengendalian ini merupakan bagian teknik bercocok tanam yang umum untuk memperoleh produktivitas tinggi, sehingga petani tidak perlu mengeluarkan biaya khusus.teknik pengendalian ini merupakan pengendalian yang murah, tidak mengakibatkan pencemaran bagi lingkungan, dan mudah dikerjakan oleh petani baik perseorangan maupun secara berkelompok. untuk mengembangkan teknik pengendalian ini, maka perlu diketahui tentang sifat agro-ekosistem khususnya tentang ekologi dan perilaku opt dalam memenuhi berbagai persyaratan hidupnya. pengendalian secara bercocok tanam antara lain : a) sanitasi/ pembersihan lahan; b) modivikasi inang alternatif/ habitat pengganti; c) pengolahan tanah; d) pengelolaan air (pembasahan dan pengeringan); e) pergiliran tanaman; f) pemberoan lahan; g) penanaman serentak; h) penetapan jarak tanam; i) letak dan jarak antar jenis tanaman; j) memutuskan sinkronisasi antara fase perkembangan tanaman dan fase perkembangan opt; k) penanaman tanaman perangkap; l) mengubah toleransi inang; dan m) mengubah jadwal panen. pengendalian dengan tanaman tahan tanaman yang tahan/ resisten adalah tanaman yang menderita kerusakan yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan tanaman lain dalam keadaan tingkat populasi hama dan keadaan lingkungan yang sama. pada tanaman yang tahan, kehidupan dan perkembangbiakan opt menjadi lebih terhambat bila dibandingkan dengan apabila sejumlah populasi tersebut berada pada tanaman yang tidak atau kurang tahan. ciri-ciri morfologik tanaman menghasilkan rangsangan fisik untuk kegiatan makan hama dan sebagai tempat perkembangbiakan. variasi dalam ukuran, bentuk, warna, dan kekerasan jaringan serta adanya rambut dan tonjolan menentukan derajat penerimaan opt terhadap tanaman. ciri-ciri fisiologik yang mempengaruhi serangga berupa zat-zat kimia yang dihasilkan oleh metabolisme tanaman. allomon merupakan zat kimia yang menguntungkan tanaman dan merugikan opt, misalnya zat antibiotik yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan. zat allomon yang berperan penting dalam penentuan sifat ketahanan tanaman. pengendalian secara fisik mekanik pengendalian fisik merupakan usaha untuk menggunakan atau mengubah factor lingkungan sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan kematian dan mengurangi populasi opt. kematian disebabkan oleh perlakuan yang melebihi toleransi, karena setiap organisme mempunyai batas toleransi tertinggi dan terendah untuk bertahan hidup terhadap factor fisik tertentu. pengendalian secara fisik antara lain pemanasan, pendinginan, pembakaran, pengendalian mekanik bertujuan untuk mematikan atau memindahkan opt secara langsung baik dengan tangan atau dengan alat dan bahan lain. pengendalian mekanik antara lain pengambilan dengan tangan, gropyokan, memasang alat perangkap, menggoyang-goyang pohon, pengusiran dan lainnya. pengendalian hayati pengendalian hayati pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami yang dilakukan secara sengaja untuk mengendalikan populasi opt. hal ini timbul karena pada ekosistem, setiap organism selalu berinteraksi dalam suatu keterkaitan dan ketergantungan yang rumit dan menghasilkan suatu komunitas yang stabil.musuh alami terdiri dari parasitoid, predator dan patogen. praktek pengendalian hayati dilakukan dengan cara introduksi, augmentasi, dan konservasi. introduksi dilakukan dengan memasukkan musuh alami dari luar ekosistem.augmentasi adalah peningkatan jumlah musuh alami yang dilakukan dengan melepaskan tambahan atau memodifikasi lingkungan sehingga jumlah dan efektifitas musuh alami meningkat.konservasi musuh alami yaitu meminimalkan tindakan agronomik yang secara langsung atau tidak dapat menurunkan populasi musuh alami atau melakukan tindakan agronomic yang sesuai dengan perkembangan musuh alami. pengendalian secara kimiawi pengendalian kimiawi yang dimaksudkan disini adalah penggunaan pestisida untuk mengendalikan opt agar tidak menimbulkan kerusakan bagi tanaman. meskipun pestisida memiliki banyak keuntungan seperti cepat menurunkan populasi hama, mudah penggunaannya, namun dampak negative penggunaannya semakin lama semakin dirasakan yaitu merugikan kesehatan dan kelestarian lingkungan, mengurangi keuntungan ekonomi pestisida. mengingat akan pengaruh negatif dari pemakaian pestisida kimia ini maka penggunaannya hanya dibolehkan dalam keadaan yang terpaksa kalau tidak ada cara lain yang lebih aman atau pada pertanaman yang tidak untuk memproduksi bahan pangan atau pakan seperti untuk produksi benih. dalam pengelolaan terpadu harus selalu memperhatikan etika lingkungan yang ekosentrik, sehingga penggunaan pestisida berbahaya secara bijaksana diusahakan sebagai alternatif terakhir, apabila tidak ada cara lain yang bisa diterapkan (oka, 1995). penggunaan pestisida kimia sintetik dalam dilakukan sebagai alternatif terakhir, selain itu penggunaan pestisida harus memperhatikan prinsip 5 (lima) tepat, yaitu : 1). tepat sasaran, 2) tepat jenis, 3). tepat waktu, 4). tepat dosis/ konsentrasi, 5). tepat cara. identifikasi dan pengendalian penyakit penting tanaman cabai perlindungan tanaman terhadap penyakit dapat dilakukan dengan memilih varietas tanaman yang resisten terhadap penyakit; menanam tanaman yang disukai oleh penyakit untuk mengalihkan serangan; menggunakan pestisida dan membuat kondisi lingkungan yang tidak disukai oleh patogen penyakit. beberapa penyakit yang menyerang tanaman cabai adalah : busuk basah (erwinia carotovora) gejala : busuk basah pada buah dimulai dari tangkai dan kelopak buah, tetapi infeksi bisa juga terjadi melalui luka di bagian mana saja dari buah. jaringan buah bagian bawah infeksi menjadi lunak dan luka segera melebar merusak bagian dalam daging sehingga dalam beberapa hari menjadi masa yang basah lunak dan berlendir.lendir keluar dari kantung buah dan menguap sampai kering. buah yang masih menempel pada tanaman kemudian terinfeksi akan tetap terikat menggantung seperti kantung air. setelah isinya keluar suatu kantung buah kering berwarna transparan dan tetap menggantung. pencegahan dan pengendalian pengaturan jarak tanam tidak terlalu rapat. sanitasi kebun dari sisa-sisa tanaman yang terinfeksi bakteri. melakukan panen pada waktu cuaca kering. menjaga agar buah tidak luka / memar waktu dipanen. simpan buah cabai ditempat yang teduh. pencucian dapat meningkatkan infeksi. penambahan khlor pada air cucian dan segera mengeringkannya adalah cara yang dianjurkan. mengumpulkan dan memusnahkan buah cabai yang terinfeksi. bercak kering (xanthomonascampestris) gejala : pada buah bercak berbentuk bulat kutil tidak beratur, kutil yang menyatu membentuk cembung besar yang retak-retak. patogen dapat terbawa biji. pencegahan dan pengendalian : gunakan benih cabai yang bersertifikat. rotasi tanaman penting untuk mengelola penyakit ini. penyemprotan dengan fungisida berbahan tembaga mengurangi infeksi penyakit ini. layu bakteri (pseudomonas solanacearum smith) gejala : mula-mula tanaman terlihat layu seperti kekurangan air, terutama pada daun-daun muda (bagian atas dari tanaman) tak lama kemudian tanaman menjadi layu keseluruhannya dan mati. bila pada pangkal batang dipotong melintang ataupun membujur akan terlihat pembuluh kayunya berwarna coklat. bila bagian yang paling dekat dengan perakaran (pangkal batang) dipotong miring kemudian dimasukkan ke dalam gelas berisi air jernih, maka tak lama kemudian akan keluar cairan (lendir) yang berwarna putih (sepintas seperti asap yang keluar dari batang rokok). lendir tersebut akan mengendap ke dasar gelas. lendir ini merupakan massa bakteri. adanya massa bakteri inidipakai untuk membedakan penyakit layu bakteri dengan layu fusarium (pada layu fusarium tidak keluar cairan putih ini). pada akar sering tampak sebagian akarnya menjadi coklat busuk. antraknosa (colletotrichum) gejala : antraknos pada buah membuat buah busuk. di indonesia penyakit ini dapat menginfeksi buah matang dan buah muda. gejala awal adalah bercak kecil seperti tersiram air, luka ini berkembang dengan cepat sampai ada yang bergaris tengah 3-4 cm. ekspansi bercak yang maksimal membentuk lekukan dengan warna merah tua ke coklat muda, dengan dengan berbagai bentuk konsentrik dari jaringan stromatik cendawan yang berwarna gelap. spora yang berwarna pucat kekuningan sampai warna pink tersebar pada garis-garis konsentrik. buah cabai bisa hancur 100%. pencegahan dan pengendalian : gunakan benih yang bersertifikat buah cabai yang terserang antraknos dikumpulkan dalam kantung plastik tertutup dan dimusnahkan. gunakan fungisida sistemik bergantian dengan yang kontak dengan pola s-k-k-k-s dan seterusnya. untuk mengurangi volume fungisida gunakan spuyer kipas yang dapat menghemat volume penyemprotan sekitar 30%. bercak daun phytopthora (phytophthora capsici) gejala : gejala awal pada buah adalah bercak seperti tercelup air panas dengan warna hijau buram, bercak ini dengan cepat menyebar pada luasan buah. gejala berikutnya buah akan menjadi lembek / lunak dan berkerut. tanaman muda dan bagian tanaman lain dapat diserang patogen pencegahan dan pengendalian : pemupukan yang berimbang intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil panen. penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah mengurangi infestasi penyakit, terutama di musim hujan. tanaman muda yang terinfeksi penyakit di lapangan dimusnahkan dan disulam dengan yang sehat. buah yang terinfeksi dimusnahkan. penyakit embun tepung (leveillula taurica) gejala : bercak atau spot pucat atau kekuningan nampak pada permukaan daun bagian atas. bila bercak-bercak ini menyatu menjadi klorosis yang lebih lebar pada daun.pada bagian bawah daun bercak berkembang menjadi jaringan yang nekrotik, kadang-kadang ditutupi dengan kapang miselium berwarna keabu-abuan.penyakit menjalar dari daun tua ke daun muda dan seluruh daun menjadi gejala yang mencolok. pencegahan dan pengendalian : pemupukan yang berimbang, 2 untuk mengurangi penggunaan fungisida (+ 30%) dianjurkan untuk menggunakan nozel kipas yang butiran semprotannya berupa kabut dan merata. penyakit layu fusarium (fusarium oxysporum) gejala : gejala yang paling menonjol adalah daun kekuningan dan layu yang dimulai dari daun bagian bawah. kelayuan ini terjadi secara bertahap sampai terjadi kelayuan permanen beberapa waktu kemudian dan daun tetap menempel pada batang. jaringan vaskular berwarna coklat terutama pada batang bagian bawah dekat akar.menjelang kematian tanaman tidak ada perubahan warna, secara eksternal pada batang maupun akar, jaringan kortikal masih tetap utuh. gejala yang sama akan nampak pada tanaman dalam masa generatif. pencegahan dan pengendalian : tanah-tanah yang terkontaminasi penyakit layu jangan digunakan. infeksi penyakit layu dapat dipelajari pada tanaman sebelumnya. membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman dan gulma sebelumnya. membalik tanah agar terkena sinar matahari. pemupukan yang berimbang intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil. penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah mengurangi penyakit tanah, terutama di musim hujan. tanaman muda yang terinfeksi penyakit dimusnahkan dan disulam dengan yang sehat. mosaik belang-cucumber mosaic virus (cmv) atau tobacco ecth virus (tev) gejala : bentuk buah abnormal, melengkung dan atau permukaan tidak rata, warna buah belang kuning sepanjang alur buah. warna kuning ini sangat menonjol pada buah yang masih berwarna hijau. pada buah menjelang matang warna buah belang coklat dan kekuningan, dan waktu matang penuh buah berwarna merah (agak muda) yang merata. pencegahan dan pengendalian : pemupukan yang berimbang, intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil panen. penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah mengurangi infestasi kutudaun sebagai vektor virus. tanaman muda yang terinfeksi virus di lapangan dimusnahkan dan disulam dengan yang sehat. aplikasi insektisida untuk mengendalikan kutudaun menggunakan spuyer kipas agar terjadi pengurangan insektisida serbanyak 30%. penyakit kuning keriting (virus gemini) virus ini ditularkan oleh kutu putih/kutu kebul bemisia tabaci gejala : pada awalnya daun muda/pucuk cekung dan mengkerut dengan warna mosaik ringan. gejala melanjut dengan hampir seluruh dan muda/pucuk berwarna kuning cerah, daun cekung dan mengkerut berukuran lebih kecil dan lebih tebal. gejala lain adalah daun berwarna mosaik klorosis. pencegahan dan pengendalian : pemupukan yang berimbang intercropping antara cabai dan tomat di dataran tinggi dapat mengurangi serangan hama dan penyakit serta menaikkan hasil panen. penggunaan mulsa plastik perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah mengurangi infestasi serangga pengisap daun. tanaman muda yang terinfeksi virus di lapangan dimusnahkan dan disulam dengan yang sehat. pelepasan parasitoid dan predator vektor insektisida yang efektif dan selektif mengendalikan kutu putih sebagai vektor virus gemini di antaranya bahan aktif bifentrin, buprofezin, imidakloprid, fenpropatin, endosulfan. untuk mengurangi penggunaan insektisida (+ 30%) dianjurkan menggunakan nozel kipas yang butiran semprotannya berupa kabut dan merata.