Loading...

PENGENDALIAN TIKUS SAWAH

PENGENDALIAN TIKUS SAWAH
PENGENDALIAN TIKUS SAWAH Tikus sawah merupakan hama utama penye-bab kerusakan padi di Indonesia. Penyerangannya dilakukan sejak padi di persemaian sampai panen, bahkan tikus sawah pun menjadi hama di gudang penyimpanan padi. Pengendalian tikus di tingkat petani dilakukan setelah terjadi serangan (karena lemahnya monitoring), sehingga penanganan hama tikus menjadi terlambat. Disamping itu pemahaman petani mengenai informasi aspek dinamika populasi tikus, yang menjadi dasar dalam pengendalian juga masih kurang. Kecenderungan petani masih kurang peduli dalam menyediakan sarana pengendalian tikus, organisasi pengendalian yang masih lemah, dan pelaksanaan pengendalian yang tidak berkelanjutan dapat mengakibatkan meningkatnya hama tikus sawah. Tidak kalah penting adalah masih banyak petani yang mempunyai ”persepsi mistis”. Di lingkungan masyarakat Jawa, biasanya bila petani melihat tikus, tidak boleh menyebut tikus tetapi disebutnya ”den bagus”. Padahal, pada hakekatnya hal tersebut dapat menghambat dalam usaha pengendalian tikus itu sendiri. (1) PerkembangbiakanTikus berkembang biak dengan sangat cepat, tikus menjadi dewasa dalam arti dapat kawin mulai umur 3 bulan, masa bunting tikus betina sangat singkat, kira-kira 3 minggu. Jumlah anak yang dihasilkan setiap kelahiran berkisar antara 4 – 12 ekor (rata-rata 6 ekor) tergantung dari jenis dan keadaan makanan di lapangan. Dan setelah 2-3 hari setelah melahirkan tikus-tikus tersebut sudah siap kawin lagi.(2) Pengendaliana. Pengendalian secara kultur teknis• Melakukan pemberaan pada lahan, yaitu untuk beberapa saat lahan dibiarkan kosong dengan tujuan agar tikus tidak mendapatkan makanan di tempat tersebut dan pergi ke tempat lain.• Melakukan pergiliran tanaman, dimana dalam satu tahun musim tanam diusahakan (2)untuk tidak ditanami padi terus menerus, tetapi diselingi dengan palawija.• Melakukan penanaman secara serempak pada areal yang cukup luas dengan tujuan untuk memutuskan rantai makanan tikus.• Mengatur jarak tanam (menggunakan sistem legowo).Hal ini bertujuan untuk mengurangi serangan tikus karena pada umumnya tikus lebih suka menyerang pada bagian tengah pertanaman yang ralatif rapat atau tertutup.b. Pengendalian dengan sanitasi• Sanitasi yang dapat diterapkan adalah membersihkan sisi tanaman yang masih ada di sekitar pertanaman yang mungkin dapat dijadikan sarang oleh tikus.c. Pengendalian secara fisik-mekanis Beberapa cara pengendalian secara fisik-mekanis yang dapat diterapkan adalah: • Membuat baris atau penghalang mekanis dari bahan-bahan yang tahan terhadap gigitan tikus seperti seng, aluminium, kawat dan lain-lain.• Memasang perangkap terutama pada jalan-jalan yang biasa dilalui oleh tikus. Hal ini lebih memungkinkan pada tanaman perkebunan daripada tanaman pangan.• Mengadakan gropyokan dengan cara membongkar sarang tikus dan membunuh tikusnya secara langsung.d. Pengendalian secara biologiPrinsip pengendalian cara ini adalah menggunakan musuh alami tikus yang dapat membunuhnya.Patogen yang sudah diketahui dapat menimbulkan penyakit pada tikus adalah bakteri Salmonella, tetapi bakteri ini juga dapat menimbulkan penyakit pada manusia sehingga bila diaplikasikan dalam jumlah yang besar dikhawatirkan dapat membahayakan manusia.Predator atau pemangsa yang dapat menekan populasi tikus dibagi atas tiga golongan yaitu ular, burung buas, dan hewanmenyusui pemakan daging.e. Pengendalian secara kimiaFumigasi (asap beracun). Bahan-bahan yang digunakan dalam fumigasi adalah merang ditamabh belerang, kemudian dibakar.Umpan beracun biasanya dibuat dari kombinasi antara racun, bahan pemikat, bahan pewarna, bahan pengikat, dan bahan pengawet.Bahan pemikat (attractant) merupakan bahan yang ditambahkan pada umpan tikus dengan tujuan untuk menarik tikus agar mau makan umpan tersebut. Bahan pewarna (colouring) yang biasa digunakan adalah pewarna makanan, dan pewarna kain yang mudah larut. Walaupun tikus termasuk hewan yang buta warna, tetapi tikus cenderung tertarik pada warna-warna tertentu, seperti hijau, kuning dan hitam. Bahan pengikat (binder) Bahan pengikat yang biasa digunakan adalah minyak nabati (tumbuh-tumbuhan) yang berasal dari kelapa, jagung atau kacang tanah.Bahan pengawet (preservative) merupakan bahan digunakan untuk meningkatkan daya tahan rodentisida baik di tempat penyimpanan maupun selama diaplikasikan di lapang.Repellent (bahan pengusir) dan attractant (bahan pemikat). Bahan kimia pengusir ini mula-mula dibuat untuk mengamankan hasil pertanian yang disimpan di gudang dari serangan tikus dan burung. Dari hasil pengujian terhadap beberapa bahan kimia, ada beberapa jenis yang dapat berfungsi sebagai bahan pengusir yaitu kapur, bubuk belerang, dan ekstrak buah cabai.Dalam pelaksanaannya, untuk mengusir tikus-tikus di lapang masih ditemui beberapa kesukaran. Disusun oleh : SUROTO, PPL Kec. Wonosari