Loading...

PENGENDALIAN TIKUS SAWAH SECARA FISIK

PENGENDALIAN TIKUS SAWAH SECARA FISIK
Padi merupakan bahan pangan pokok bagi penduduk Indonesia. Oleh karena itu, padi menjadi komoditas strategis dan sumber pendapatan utama bagi sebagian besar rumah tangga petani di perdesaan. Namun petani padi selalu dibayang-bayangi oleh kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit tanaman. Di antara hama yang sering menyerang tanaman padi, tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama tanaman padi. Kenyataan di lapang menunjukkan tingkat kerusakan tanaman padi akibat serangan tikus sawah bervariasi dari ringan sampai berat dan bahkan dapat menyebabkan puso atau gagal panen, tergantung pada populasinya di suatu wilayah. Upaya pengendalian hama tikus pada lahan sawah belum menunjukkan hasil yang optimal karena masih banyak petani yang belum memahami cara pengendalian yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Pengendalian tikus dapat diupayakan dengan mengubah faktor lingkungan fisik agar tidak sesuai dengan kehidupannya sehingga jera atau menyebabkan kematian. Beberapa cara pengendalian tikus sawah secara fisik antara lain: 1. Penggunaan alat penyembur api Alat mekanis pengendalian tikus sawah antara lain penyembur api (brender), terbuat dari tabung minyak bertekanan yang dilengkapi dengan pegangan spiyer yang dapat menyemburkan api dan udara panas. Nyala api spiyerdimasukkan ke dalam pintu masuk sarang tikus, sehingga suhu udara dalam sarang meningkat tajam. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian atau mengusir tikus keluar dari sarang sehingga mudah dibunuh 2. Penggunaan sinar lampu Sinar lampu minyak atau lampu senter juga sering dipakai sebagai sarana pengendalian tikus sawah pada malam hari. Tikus sawah bersifat nocturnal atau aktif pada malam hari sehingga pengendalian dengan cara gropyokan massal juga sering dilakukan pada malam hari (obor malam) dengan bantuan lampu. Tikus sawah yang terpapar sinar lampu pada malam hari dapat menyilaukan penglihatan tikus dan akan berhenti sejenak dari aktivitasnya. Keadaan seperti ini yang dimanfaatkan oleh para petani untuk membunuh tikus dengan cara memukul menggunakan batang kayu. 3. Pengairan sarang tikus Memompakan air atau lumpur ke dalam sarang tikus juga merupakan cara untuk mengusir tikus keluar dari sarangnya, sehingga mudah dibunuh atau tikus terjebak oleh lumpur dan mati di dalam sarang. Cara ini dapat dilakukan pada habitat utama tikus, yaitu tanggul irigasi dan jalan sawah. Waktu yang tepat untuk melaksanakan cara pegendalian ini adalah pada periode bera/pengolahan tanah dan bersamaan dengan gropyokan massal. Cara pengendalian ini juga efektif dilakukan pada saat pertanaman padi dalam stadia generatif, bertepatan dengan tikus melahirkan anak di sarangnya 4. Gropyokan massal Gropyokan massal merupakan salah satu cara pengendalian tikus yang murah dan efektif, biasanya dilakukan petani secara bersama-sama atau berkelompok. Cara pengendalian ini biasanya dilakukan dengan cara membongkar sarang tikus pada habitat utama dan membunuh setiap tikus yang keluar dari sarang. Pelaksanaan gropyokan yang tepat adalah pada saat lahan sawah dalam periode bera hingga persiapan tanam (pengolahan tanah). Memburu tikus pada periode tersebut relatif lebih mudah karena tidak ada pertanaman padi sebagai tempat bersembunyi tikus. Tikus akan keluar dari sarang yang digali dan dengan mudah dimatikan, baik oleh petani maupun menggunakan bantuan anjing pemburu. 5. Pemerangkapan (traping) Alat perangkap tikus yang tersedia sampai saat ini dapat digunakan untuk menangkap tikus dengan hasil tangkapan hidup (live trap) dan tangkapan mati (snap trap). Menurut jumlah tangkapan, alat perangkap tikus dibedakan menjadi perangkap dengan tangkapan banyak (multiple live capture trap) dan tangkapan tunggal (single trap). Umpan diletakkan di dalam perangkap untuk menarik tikus masuk ke perangkap. Pada saat lahan sawah dalam periode bera dapat digunakan umpan berupa biji-bijian dan pada saat tanaman padi dalam stadia generative dapat menggunakan umpan yang mengandung protein tinggi seperti kepiting dan ikan kering. Jenis perangkap yang direkomendasikan untuk pengendalian tikus sawah adalah sistem bubu perangkap linier (LTBS) dan sistem bubu perangkap (TBS). LTBS dirancang untuk memerangkap tikus migrasi atau tikus pada areal dekat habitat. Alat ini mudah dipasang dan dapat dipindahkan ke tempat lain yang diperlukan. LTBS terdiri atas pagar plastik, bubu perangkap, dan ajir bambu untuk pemasangan lembaran plastik mengelilingi areal pertanaman padi tanpa menggunakan tanaman perangkap atau umpan. Pengendalian tikus pada daerah dekat habitat dipasang antara pertanaman padi dan habitat, sehingga tikus yang beraktivitas pada malam hari akan menuju areal pertanaman padi dan terjebak ke dalam bubu perangkap. Pintu lubang masuk bubu perangkap diarahkan ke habitat atau sesuai arah datangnya tikus sawah. Arah pintu masuk bubu perangkap juga dapat diarahkan berseling apabila menginginkan tangkapan tikus sawah yang berasal dari kedua arah (sebelah kiri dan kanan LTBS). Pemasangan LTBS dapat berlangsung selama satu minggu atau sampai tidak ada lagi tangkapan tikus, kemudian LTBS dibongkar dan dapat dipindahkan ke tempat lainnya. Pengambilan tikus tangkapan dilakukan setiap pagi hari dan tikus dimatikan dengan cara merendam bubu perangkap yang berisi tikus ke dalam air selama 10 menit. LTBS juga dapat dipasang untuk memerangkap tikus migrasi, terutama pada blok hamparan sawah yang berbeda waktu tanam atau panen padi dengan blok hamparan sawah lainnya. Sistem bubu perangkap (trap barrier system - TBS) merupakan unit pengendalian tikus yang terdiri atas tiga komponen utama, yaitu bubu perangkap yang berfungsi sebagai alat penjebak tikus, pagar plastik untuk mengarahkan tikus memasuki pintu bubu perangkap, dan tanaman perangkap sebagai media untuk menggugah (attractant) tikus bergerak ke areal penangkapan TBS. Selain itu, ajir bambu dan tali rafia sebagai pelengkap digunakan untuk mengikatkan plastik ke ajir sehingga membentuk pagar plastik. 6. Penggunaan suara ultrasonik Penggunaan suara ultrasonik pada frekuensi tertentu yang dapat mengganggu pendengaran tikus, sehingga menghindar atau lari ke tempat lain yang lebih aman. Teknik ini belum berkembang di tingkat petani karena memerlukan alat khusus. Alat pengusir tikus ini telah banyak diproduksi dan telah dijual secara komersial. Penggunaan alat tersebut masih sebatas di dalam ruangan atau gudang penyimpanan hasil panen untuk mengusir hama tikus. Namun dalam skala luas dan waktu tertentu tikus diperkirakan dapat beradaptasi dengan suara ultrasonik di lingkungan setempat. Ditulis ulang oleh : Rahmawati BBP2TP Bogor Sumber : Sudarmaji (2018). Tikus Sawah : Bioekologi dan Pengendalian. IAARD Press Gambar : Sudarmaji (2018)