Loading...

PENGENDALIAN TIKUS SAWAH SECARA KIMIAWI

PENGENDALIAN TIKUS SAWAH SECARA KIMIAWI
Padi merupakan bahan pangan pokok bagi penduduk Indonesia.. Oleh karena itu, padi menjadi komoditas strategis dan sumber pendapatan utama bagi sebagian besar rumah tangga petani di perdesaan. Namun petani padi selalu dibayang-bayangi oleh kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit tanaman. Di antara hama yang sering menyerang tanaman padi, tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama tanaman padi. Kenyataan di lapang menunjukkan tingkat kerusakan tanaman padi akibat serangan tikus sawah bervariasi dari ringan sampai berat dan bahkan dapat menyebabkan puso atau gagal panen, tergantung pada populasinya di suatu wilayah. Pengendalian tikus menggunakan bahan kimia dapat membunuh dan mengganggu aktivitas tikus, seperti aktivitas makan, minum, mencari pasangan dan reproduksi. Secara umum, pengendalian dengan cara kimiawi dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu umpan beracun (rodentisida), fumigant, dan repellent. 1. Penggunaan umpan beracun (rodentisida) Sampai saat ini, teknologi rodentisida masih banyak digunakan petani untuk mengendalikan hama tikus sawah. Rodentisida yang dipasarkan umumnya dalam bentuk siap pakai, atau mencampur sendiri dengan bahan umpan dan digolongkan menjadi racun akut dan racun kronis (antikoagulan). Rodentisida akut dapat membunuh tikus langsung di tempat dalam hitungan menit setelah makan umpan. Kematian tikus sesaat di dekat umpan rodentisida dapat menyebabkan tikus lain jera umpan. Rodentisida akut yang banyak digunakan petani adalah zinc phosphide (Zn3P2), berupa bubuk warna abu- abu atau hitam dan penggunaannya dicampur terlebih dahulu dengan umpan seperti beras pecah kulit. Rodentisida zinc phosphide banyak dijual di berbagai negara pada konsentrasi 1-5%, meskipun banyak negara yang melarang penggunaannya termasuk Indonesia. Racun akut (zink phosphide) sangat berbahaya dan tidak memiliki antidot yang spesifik. Oleh karena itu, jenis rodentisida ini dibatasi penggunaannya di beberapa negara dan hanya diizinkan secara terbatas. Zinc phosphide jika dimakan tikus maka gas pospin akan lepas dari dalam lambungnya dan memasuki aliran darah yang menyebabkan tikus gagal jantung dan kerusakan organ bagian dalam. Jenis rodentisida akut lainnya adalah bromethalin, crimidine, dan arsenic trioksida. Untuk menghindari jera umpan dan meningkatkan keberhasilan pengumpanan dengan rodentisida akut, maka penggunaannya perlu didahului dengan pemasangan umpan pendahuluan tanpa racun (praumpan). Rodentisida jenis lain adalah antikoagulan, yaitu kelompok rodentisida yang efektivitasnya lambat, dengan cara mengganggu metabolisme vitamin K yang dapat menghambat pembentukan protombin atau bahan yang berperan membekukan darah dan merusak pembuluh kapiler yang berakibat rusaknya pembuluh darah internal. Jenis rodentisida antikoagulan generasi pertama adalah kumatetralil, warwarin, fumarin, dan pival. Rodentisida golongan antikoagulan generasi kedua adalah brodifakum, bromodiolon, dan flokumafen. Tikus akan mati sekitar lima hari setelah memakan umpan rodentisida. Rodentisida antikoagulan tidak menyebabkan tikus jera umpan, tetapi mempunyai dampak negatif terhadap hewan lain atau lingkungan (secondary effects). Pada saat ini, rodentisida yang paling banyak digunakan untuk pengendalian tikus di seluruh dunia adalah jenis antikoagulan generasi kedua. Keberhasilan pengumpanan rodentisida dipengaruhi oleh waktu, jenis umpan, dan penempatan. Waktu yang tepat untuk pengumpanan rodentisida di ekosistem padi sawah yaitu apabila ketersediaan pakan di lapangan sudah berkurang yang terjadi pada periode sawah bera sampai stadia padi vegetatif. Pada saat tanaman padi dalam stadia generatif, tikus sawah hanya dapat diumpan dengan bahan yang mengandung protein tinggi, seperti kepiting sawah atau ikan yang dicampur dengan rodentisida, karena pakan yang bersumber dari karbohidrat (pakan padi) sedang berlimpah di lapangan. Penggunaan rodentisida untuk pengendalian tikus sebaiknya merupakan alternatif erakhir, karena dapat mencemari lingkungan. Penggunaanya harus tepat waktu dan sesuai dosis anjuran, agar mendapatkan hasil yang maksimal 2. Bahan Fumigant Rodentisida jenis fumigan yang sering digunakan petani sampai saat ini adalah asap belerang. Penggunaan alat emposan (fumigator) asap belerang efektif mengendalikan tikus, mudah diaplikasikan, dan biaya murah. Bahan butiran atau bubuk belerang dicampur dengan jerami dan dibentuk dalam gulungan kecil sesuai ukuran selongsong fumigator. Bagian ujung gulungan jerami dibakar (dinyalakan), kemudian dimasukkan ke dalam selongsong fumigator. Ujung fumigator dimasukkan ke mulut sarang tikus, kemudian roda kipas fumigator diputar yang mengeluarkan asap belerang. Asap belerang tersebut masuk ke dalam semua rongga sarang tikus dan menyebabkan hama ini mati dalam sarang. 3. Zat Repellent Bahan kimia lain untuk pengendalian tikus adalah zat repellent. Penelitian terhadap repellent sebagai bahan kimia organik atau anorganik untuk menolak tikus lebih banyak dilakukan dalam ruangan terkendali seperti laboratorium atau gudang. Penggunaannya di lapangan sangat jarang karena hanya bersifat mengusir dan tidak mematikan tikus. Beberapa bahan nabati seperti akar wangi, buah pohon bintaro, dan beberapa jenis bahan nabati lainnya diduga mempunyai efek repellent terhadap tikus, namun masih perlu dibuktikan melalui penelitian. Ditulis ulang oleh : Rahmawati BBP2TP Bogor Sumber : Sudarmaji (2018). Tikus Sawah : Bioekologi dan Pengendalian. IAARD Press Gambar : Sudarmaji (2018)