Kementerian Pertanian cq. Direktorat Jenderal Hortikultura menetapkan sasaran produksi kubis (kol) secara nasional pada tahun 2013 sebesar 1.407.400 ton dan 1.414.900 pada tahun 2014. Sebaran sasaran produksi terbesar terdapat di tiga provinsi, yaitu di Provinsi Jawa Tengah sebesar 390.000 ton (2013) dan 392.100 ton (2014); Provinsi Jawa Barat sebesar 291.300 ton (2013) dan 292.800 ton (2014); kemudian disusul oleh Provinsi Sumatra Utara sebesar 199.900 ton (2013) dan 201.000 ton (2014). Salah satu faktor keberhasilan petani dalam berusahatani sayuran adalah keberhasilannya dalam melakukan upaya perlindungan tanaman. Namun demikian, perlu senantiasa ditanamankan pengertian kepada petani sayuran bahwa perlindungan tanaman mengandung makna keamanan bagi produsen, konsumen dan lingkungan sekitarnya. Perlindungan tanaman perlu dilaksanakan dengan konsepsi pengendalian hama penyakit terpadu (PHT). Tanaman kubis memiliki hama potensial yang menjadi kendala utama dalam produksinya, antara lain yaitu ulat daun kubis (Plutella xylostella Linnaeus). Di bawah ini diuraikan secara singkat mengenai pengendalian ulat daun kubis. Morfologi/bioekologi Serangga dewasa berupa ngengat kecil dengan panjang kira-kira 6 mm, berwarna cokelat kelabu dan aktif pada alam hari. Pada sayap depan terdapat tiga buah lekukan (undulasi) yang berwarna putih menyerupai berlian. Ngengat tidak mampu terbang jauh dan mudah terbawa angin. Ngengat betina kawin hanya satu kali, rata-rata masa hidupnya 20,3 hari. Telur berbentuk oval berukuran 0,6 mm x 0,3 mm, berwarna kuning,berkilau dan lembek. Ngegat betina bertelur selama 19 hari dan jumlah telur rata-rata sebanyak 244 butir. Telur diletakkan secara tunggal, dalam kelompok (3 - 4 butir) atau dalam gugusan (10 - 20 butir) di sekitar tulang daun pada permukaan daun kubis sebelah bawah. Ulat berbentuk silindris, berwarna hijau muda, relatif tidak berbulu dan mempunyai lima pasang proleg dan terdiri atas empat instar, yaitu: kesatu: 3,7 hari, kedua: 2,1 hari, ketiga: 2,7 hari, dan ulat instar keempat 3,7 hari. Ulat jantan memiliki sepasang calon testis yang berwarna kuning. Gejala Ulat daun kubis mulai menyerang sejak awal pra pembentukan krop (0 - 49 Hari Setelah Tanaman/HST) sampai fase pembentukan krop (49 - 85 HST). Ulat makan jaringan permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan lapisan epidermis bagian atas. Setelah jaringan daun membesar, lapisan epidermis ecah, sehingga mengakibatkan timbulnya lubang-lubang pada daun. Populasi ulat yang tinggi pada musim kemarau dapat mengakibatkan kerusakan berat pada tanaman kubis berumur 5 - 8 minggu, sehingga yang tinggal hanya tulang-tulang daun. Pengendalian 1. Kultur Teknis a. Pengendalian dilakukan dengan penanaman kubis dan tomat secara tumpang gilir. Tomat ditanam sebulan lebih awal dengan pola larikan (satu baris tomat, dua baris kubis); b. Tumpang sari rape (caisin) - kubis atau sawi jabung (mustard) - kubis. Kubis dikelilingi dengan dua baris rape atau dua baris sawi jabung. Baris pertama ditanam 15 hari sebelum pertanaman kubis, baris kedua stelah kubis berumur 25 hari; c. Sanitasi dengan membersihkan gulma yang menjadi inang. 2. Biologi Pengendalian secara biologi dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami ulat daun kubis, seperti parasitoid telur Trichogrammatoidae bactrae; parasitoid ulat Diadegma semiclausum dan Cotesia plutellae; parasitoid kepompong Diadromus collaris, Tetrastichinae; predator Cadursia plutellae dan Vori ruralis; serta patogen serangga seperti Beauveria bassiana dan Hirsutella spp. 3. Biopestisida Pengendalian dengan biopestisida dilakukan dengan menggunakan insektisida alami, misalnya minyak dari ekstrak buah srikaya, sirsak, biji nimba dan tembakau. 4. Kimia Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan pestisida sintetik yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian, apabila hasil pengamatan menunjukkan rata-rata populasi ulat mencapai sebanyak lima larva instar ketiga dan ke empat per 10 tanaman contoh. Insektisida yang dianjurkan misalnya yang berbahan aktif sipermetrin, abamektrin dan beta siflutrin. Diana Prasastyawati, Agustus 2013 Sumber: 1. Anonim. 2012. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Hortikultura Tahun 2010 - 2014 (Revisi). Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian 2. Anonim. 2008. Pedoman Pengendalian OPT pada Komoditas Sayuran Utama. Jakarta: Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian