Bagi Petani Kelompok Tani Luhur desa Munggut, Tikus adalah hama utama penghadang peningkatan produksi pada tanaman padi. Hama ini harus diperhatikan khusus. Karena kehilangan hasil produksi akibat serangan hama tikus sangat tinggi, tikus sawah (Rattus orgentiventer) secara teori, tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun dari satu pasang ekor tikus. hal ini menggambarkan betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun, ketersediaannya sumber makanan dan populasi tikus akan meningkat berkaitan dengan puncak pada masa generatif. Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah jenis hama yang sulit dikendalikan karena tikus itu mampu ”belajar” dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan sebelumnya. Tikus memiliki indera penciuman yang berkembang dengan baik. Dengan kemampuan ini tikus dapat menandai wilayah pergerakan tikus lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong dalam kelompoknya, mendeteksi tikus betina yang sedang estrus (berahi) dan mendeteksi anaknya yang keluar dari sarang berdasarkan air seni yang dikeluarkan oleh anaknya Biasanya hama tikus ini akan menyerang bagian akar dan batang yang akan menggerokoti bagian tersebut hingga habis dan lama-kelaman akan mengakibatkan tanaman mati. Sebagai binatang pengerat, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tikus akan mengerat batang padi dengan perbandingan 5:1, yakni 5 batang padi dikerat hanya untuk mengasah giginya supaya tidak tambah panjang dan 1 batang padi di makan untuk kebutuhan hidupnya. Kegiatan tikus biasanya sangat aktif pada malam hari dan kegiatan hariannya sangat teratur mulai dari mencari makanan, minum dan mencari pasangan.Untuk menghindari dari lingkungan yang tidak menguntungkan, tikus membuat sarang pada daerah yang lembab, berdekatan dengan sumber air dan makanan seperti di batang pohon, sela-sela batu, tanggul, jalan kereta api dan perbukitan yang kecil. Jika sudah mengetahui biologi dan ekologi tikus, diharapkan petani dapat mengendalikan tikus dengan tepat dan efektif dengan melihat kondisi lingkungan di lapangan. Pengendalian tikus sawah harus dimulai secara dini, yakni dimulai pada saat sawah bera (setelah panen), pada masa vegetatif dan masa generatif. Guna Pengendalian Tikus di Wilayah Kelompok tani Tani Luhur Desa Munggut, Petani Kelompok ini Melakukan kegiatan Fumigasi pada lubang aktif disekitar persawahan, baik secara massal, kelompok kecilm ataupun secara mandiri. Fumigasi terbukti efektif membunuh tikus sawah beserta anak-anaknya di dalam lubang sarang. Disamping itu, metode tersebut juga terjangkau petani, baik fumigator atau alat untuk fumigasi maupun fumigan atau bahan untuk membuat asap racunnya, pada prinsipnya, fumigasi adalah mengubah komposisi udara dengan zat atau senyawa racun pernafasan, tikus tikus akan mati apabila terkena racun tersebut. Hal yang harus dilakukan sebelum melaksanakan fumigasi adalah. Monitoring dengan cara pengamatan langsung dilakukan pada saat puncak aktifitas tikus sawah, yaitu petang (pukul 17:00-19:00) atau menjelang fajar (pukul 03:00-04:00). Suara ‘cicit’ yang dihasilkannya juga sebagai penanda keberadaannya Penyediaan alat yang akan digunakan untuk fumigasi, berupa tabung gas elpiji beserta regulatornya dan Belerang secukupnya Melakukan pembersihan lahan atau sanitasi lingkungan, pembersihan rumput rumput atau semak-semak yang suka digunakan tikus untuk bersarang. Melakukan Pencarian terhadap lubang aktif di pematang sawah, Lubang aktif tikus ditandai dengan lubang bentuk bulat atau oval dengan diameter 6 – 8 cm, ada jejak tikus yang ditandai dengan jalur yang jelas akibat sering dilalui secara berulang ulang. Tikus sawah biasanya membuat lubang di tanggul irigasi, tanggul jalan sawah dan pematang besar, atau pekarangan di dekat sawah. Lakukan pemburun dengan fumigasi pada lubang aktif tersebut dengan meletakkan belerang di depan lubang, dan lakukan pembakaran belerang tersebut dengan mengarahkan asap masuk kedalam lubang. Setelah dilakukan fumigasi, sebaiknya lubang tikus langsung di tutup dengan lumpur basah supaya : Tikus tidak keluar sehingga mati beserta anak –anaknya di dalam lubang sarangnya. Biasanya petani yang melakukan fumigasi tidak menimbun dan menutup kembali lubang sarang tikus yang telah digalinya. Tikus lain yang datang belakanganm tidak memanfaatkan lubang sarang yang pernah ada sebagai tempat tinggalnya sehingga hal tersebut menguntungkan karena tikus tidak nyaman di lahan sehingga mencari alternatif tempat lainnya Tikus dan anak-anaknya yang mati di dalam lubang sarang juga sekalian langsung dikubur sehingga tidak menimbulkan bau burus yang mengganggu Fumigasi bisa dilakukan kapan saja apabila dijumpai lubang aktif tikus, yang biasa ada tanggul-tanggul saluran irigasi, tanggul jalan sawah, pematang besar, hingga pekarangan yang berbatasa dengan sawah. Pada saat tikus sawah berkembang biak, yang bertepatan dengan stadia padi generatif ( bunting hingga menjelang panen), induk tikus akan menutup mulut lubang sarangnya dari dalam. Oleh karena itu, sebelum difumigasi sebaiknya lubang aktif dibuka dulu dengan cangkul baru kemudian di fumigasi. Sumber : agrotani.com dan kabar tani.com Penulis : Widyo Cahyono, SP, Penyuluh BPP Kecamatan Padas Kabupaten Ngawi