Loading...

PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN CACING TANAH (LUMBRICUS) DALAM RANSUM AYAM

PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN CACING TANAH (LUMBRICUS)  DALAM RANSUM AYAM
Herdian et al. (2010) mengemukakan bahwa cacaing tanah dapat diolah menjadi tepung dan ekstrak air tepung cacing. Prosedur pembuatan tepung cacing tanah sebagai berikut : cacing tanah dibersihkan, dicuci dengan air, kemudian direndam dalam air dingin suhu 14°C selama 24 jam. Selanjutnya ditambahkan asam format 80% sebanyak 3% dari berat cacing, selanjutnya diblender dan dioven pada suhu 50ºC selama 12 jam. Kemudian diayak dengan ukuran mesh 40 (diameter sekitar 450 um) sehingga diperoleh tepung cacing tanah (TCT).Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan menyari zat aktif dari simplisia nabati atau hewani dengan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Herdian et al. 2010). Pembuatan ekstrak air tepung cacing tanah adalah sebagai berikut:Sebanyak 1 bagian tepung cacing tanah ditambahkan air sebanyak 10 bagian dan ditambah lagi air suling (aquadest) sebanyak 2 bagian ke dalam panci infusa. Panci tersebut dipanaskan selama 30 menit terhitung mulai suhu penyari 90 °C. Selisih suhu air pada panci atas dan bawah diasumsikan sebesar 10%. Oleh karena itu, dapat diketahui suhu penyaring telah mencapai 90 °C bila air dalam panci infus bagian bawah telah mendidih (suhu air 100 °C). Hasil penyarian dengan dekokta dipekatkan dengan cara diuapkan di atas pena gas air dengan penurunan tekanan menggunakan bantuan kipas angin hingga konsistensinya kental. Alkohol 96% disemprotkan pada permukaan ekstrak sebelum ditutup rapat dalam wadah untuk disimpan. Hal ini dilakukan guna menjaga kestabilan ekstrak dari kontaminasi mikroba.Cacing tanah menjadi salah satu alternatif bahan pakan lokal yang dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber protein untuk ternak unggas, terutama untuk ternak ayam pedaging. Semakin meningkatnya harga bahan pakan sumber protein, terutama tepung ikan dan tepung daging yang merupakan bahan pakan yang sebagian besar masih didatangkan secara impor sehingga keberadaan bahan pakan inkonvensional seperti cacing tanah dapat menjadi salah satu sumber protein alternatif.Menurut Kartiarso (1980), cacing tanah mengandung protein dan asam amino yang lebih baik dibandingkan dengan tepung ikan dan tepung daging. Kandungan nutrisi cacing tanah yang baik, telah mengundang para ahli nutrisi ternak unggas (terutama ternak ayam) untuk memanfaatkannya sebagai bahan pakan sumber protein dalam ransum ayam yang mereka buat. Secara umum, penggunaan cacing tanah, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk tepung cacing tanah (TCT) memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan produksi ternak unggas, terutama ayam pedaging. Resnawati (2005a) mengatakan tepung cacing tanah dapat digunakan dalam ransum ayam pedaging sampai tingkat 15% tanpa menimbulkan efek negatif terhadap kinerja produksinya. Beberapa hasil percobaan pemanfaatan cacing tanah dan TCT dalam ransum unggas, terutama ayam pedaging baik sebagai pakan imbuhan dan bahan pakan sumber protein ditunjukkan pada Tabel 15 dan 16.Hasil percobaan lainnya, menunjukkan bahwa disamping kandungan gizi (protein dan asam amino) yang baik, cacing tanah juga diketahui memiliki fungsi sebagai antibiotics growth promoters (AGP's) alami. Feihgner dan Dashkevics (1987) mengatakan bahwa AGP's merupakan antibiotik membantu menjaga nutrisi dari destruksi bakteri, membantu meningkatkan absorbsi nutrien karena membuat barier di dinding usus, menurunkan produksi toksin dari bakteri saluran pencernaan dan menurunkan kejadian infeksi saluran pencernaan subklinik.Laporan Rofiq (2003) dan Wahju (2004) mengatakan bahwa antibiotik dapat meningkatkan performa pili usus, sehingga absorbsi makanan dalam usus meningkat. Atas dasar tersebut, AGP's dapat memaksimalkan absorbsi nutrien dalam saluran cerna, sehingga memacu pertumbuhan dan mengefisienkan konsumsi pakan. Akan tetapi, saat ini, AGP's yang dipakai merupakan produk semi sintetis (Hakim 2005), dalam pakan ternak seringkali tidak murni berasal dari mikroba, tetapi berupa antimikroba yang disintesis secara kimiawi (Cook et al. 1997) sehingga penggunaannya dalam waktu yang lama akan menimbulkan efek resistensi pada bakteri patogen sasaran.Donoghue (2003) menjelaskan bahwa residu antibiotik yang masih tersimpan dalam pangan (daging ayam) akan menimbulkan dampak kesehatan bagi manusia yang mengkonsumsinya. Tepung cacing tanah menjadi salah satu alternatif bahan untuk dijadikan AGP's alami, karena TCT mengandung zat anti bakteri seperti cacing tanah Eifoetida (Lange et al. 1999), Theromyzon tessulatum (Tasiemski et al. 2006), dan Lumbricus rubellus (Cho et al. 1998). Julendra et al. (2010) melaporkan bahwa penggunaan tepung cacing tanah (TCT) 0,5-1,5% dalam ransum, mampu memperbaiki kesehatan ternak dilihat dari profil darah. (Suwarna- BPPSDMP)Sumber : Balai Penelitian Ternak Ciawi