Upaya pengurang kehilangan hasil dan peningkatan kualitas gabah ditentukan oleh penanganan pasca panen padi yang meliputi kegiatan pemanenan, perontokan, pengangkutan, pengeringan gabah, pengemasan dan penyimpanan gabah, penggilingan, pengemasan dan penyimpanan beras. Masalah utama dalam penanganan pascapanen padi yang dihadapi petani adalah masih tingginya kehilangan hasil selama penanganan pascapanen yang besarnya sekitar 20%, rendahnya mutu gabah dan beras yang dihasilkan. Hal ini semua disebabkan belum optimalnya penanganan pada setiap tahapan pascapanen padi. Untuk itu diperlukan adanya upaya optimasi pada setiap tahap kegiatan pascapanen padi. Upaya pengurangan kehilangan hasil dan peningkatan kualitas gabah ditentukan oleh hal-hal berikut. 1) Umur Panen Padi yang dipanen pada umur optimal akan menghasilkan gabah yang berkualitas sangat baik yang pada akhirnya dapat menghasilkan rendemen giling yang tinggi. Umur panen optimal dapat ditentukan berdasarkan pengamatan visual dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan sawah, yaitu setelah 90-95% butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan. Umur panen optimal dapat pula dengan pengamatan teoritis yaitu: (1) 30 sampai 35 hari setelah berbunga rata atau antara 135 - 140 hari setelah tanam; 2) setelah kadar air gabah mencapai 22-23% pada musim kemarau, dan antara 24-26% kadar air gabah pada musim penghujan (dapat diukur dengan moisture tester) 2) Penundaan Perontokan Perontokan adalah proses melepaskan butiran gabah dari malai padi yang dapat dilakukan melalui proses mekanis yaitu dengan proses menyisir atau membanting malai padi pada benda yang lebih keras ataupun alat perontok tertentu. Pada beberapa kasus, tidak semua petani langsug melakukan perontokan padinya setelah melakukan pemotongan. Beberapa hal yang mungkin terjadi selama proses penundaan antara lain : (1) terjadi kehilangan hasil yang disebabkan oleh gabah yang rontok selama penumpukan atau dimakan binatang, dan (2) terjadi kerusakan gabah karena adanya reaksi enzimatis, sehingga gabah cepat tumbuh berkecambah, terjadinya butir kuning, berjamur atau rusak, hal ini dapat mempengaruhi kualitas gabah Untuk menghindari/mengurangi kehilangan dan kerusakan hasil pada penundaaan perontokan, diperlukan perbaikan teknologi penundaan perontokan, antara lain dapat dilakukan dengan cara : (1) menggunakan alas plastik pada saat penundaan padi, dan (2) penundaan boleh dilakukan tetapi tidak boleh lebih dari satu malam dengan tinggi tumpukan padi tidak lebih dari 1 m. Dengan implementasi teknologi penundaan tersebut dapat menekan kehilangan hasil antara 1,35-3,12% dan menekan terjadi butir kuning dan rusak antara 1,77-2,22%. 3) Pengeringan Untuk menghasilkan gabah berkualitas baik untuk digiling, maka gabah hasil panen harus diturunkan kadar airnya sampai 14% malalui proses pengeringan. Ada 2 cara pengeringan yang lazim digunakan oleh petani yaitu : (1) pengeringan dengan cara penjemmuran langsung menggunakan sinar matahari, dan (2) pengeringan dengan menggunakan alat pengering buatan (artificial dryer). Untuk menghasilkan gabah kualitas baik diperlukan penjemuran gabah yang baik dengan cara : 1) gabah dijemur dengan ketebalan 5 - 7 cm; 2) pembalikan dilakukan 1 - 2 jam atau 4 - 6 kali dalam sehari dengan menggunakan garuk dari kayu; 3) waktu penjemuran pagi pukul 8-11, siang pukul 14 - 17, tempering time pukul 11 - 14; 3) pada akhir penjemuran, gabah dikumpulkan dengan garuk, sekop atau sapu kemudian dimasukan dalam karung. Pengeringan dengan alat pengering buatan akan menghasilkan gabah berkualitas lebih baik, hal ini disebabkan suhu pengering, aliran udara panas dan laju penurunan kadar air dapat dikendalikan. Teknologi pengeringan gabah dengan bahan bakar sekam merupakan teknologi unggulan yang mudah untuk diimplementasikan karena biaya pengeringan yang murah, efisien dengan kualitas yang baik. 4) Penyimpanan gabah Petani umumnya menyimpan gabah yang sudah dikeringkan (kadar air 14%) dengan dua cara (1) sistem curah, yaitu gabah yang sudah kering dicurahkan pada satu tempat yang dianggap aman dari gangguan hama maupun cuaca, dan (2) cara penyimpanan dengan menggunakan kemasan/wadah seperti, karung plastik, karung goni, pengki tenggok dan lain-lain. Kehilangan hasil dan penurunan kualitas gabah saat penyimpanan disebabkan oleh kondisi kemasan, tempat penyimpanan, gangguan hama dan penyakit gudang, keadaan cuaca setempat, kadar air gabah akan mengikuti kondisi keseimbangan udara luar. Pada wadah yang kedap udara umumnya kadar air penyimpanan tidak akan banyak mengalami perubahan, sedangkan pada konsisi wadah yang tidak kedap udara kadar air gabah akan mengikuti perubahan sesuai dengan kelembaban udara sekitarnya, hal ini dapat menurunkan kualitas gabah. Karena itu disarankan wadah atau kemasan yang kedap udara sangat dianjurkan. Tempat penyimpanan gabah harus bersih dari hama dan penyakit gudang, terlindung dari gangguan cuaca, memakai alas dari kayu Sumber: Balai Besar Penelitian Padi,Litbangtan Penulis: Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Pengembangan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertani, Kementan)